KOMPAS.com - Bisnis digital sedang menjamur di Indonesia. Beragam perusahaan start-up
pun bermunculan. Tapi tahukah Anda bahwa perintis-perintis usaha yang
menggerakkan industri kreatif digital ini tidak selalu orang-orang yang
berlatar belakang teknologi informasi (TI).
Tengoklah Nuniek Tirta Ardianto. Sebagai orang yang tak punya background
TI, Nuniek Tirta Ardianto tetap percaya diri menjalankan usaha
online-nya HamilCantik.com. Ibu dua anak ini, selain mengurusi bisnis
digitalnya sendiri, juga menjadi community manager Fimela.com, portal
gaya hidup untuk kaum perempuan.
Tidak hanya itu, Nuniek merupakan
salah satu inisiator komunitas #StartUpLokal yang mengajak para
penggiat startup untuk saling berbagi pengalaman dan jaringan. Dialah
yang aktif mengurus pertemuan komunitas ini yang dilakukan rutin setiap
bulan. Ia dan suaminya Natali Ardianto, mengggagas Project Eden yang
kemudian disambut baik oleh Kevin Mintaraga dan Megain Widjaja. Saat
ini, Project Eden telah berjalan, tengah membangun fasilitas hackerspace
di kawasan Menteng, dan mulai merekrut tim start-up untuk mengikuti
program inkubator bisnis.
Nuniek berbagi tentang perjalanannya membangun perusahaan digital dan sudut pandangnya tentang start-up lokal di Indonesia kepada Kompas.com melalui wawancara lewat elektronik.
Bisa diceritakan asal mula menjadi seorang enterpreneur digital? Mengapa memilih industri digital, bukan bisnis offline?
Tidak seperti kebanyakan teman-teman di start-up
lokal lainnya yang memiliki latar belakang pendidikan TI atau bisnis,
latar belakang pendidikan saya justru sekretarial (LPK Tarakanita) dan
komunikasi PR (Universitas Mercu Buana). Hal itu tidak saya jadikan
hambatan, namun justru kekuatan akan positioning saya sebagai wanita
yang berkecimpung di dunia TI tanpa background pendidikan TI.
Sejak kuliah tahun 1998, saya memang sudah tertarik dengan dunia
digital. Selepas kuliah saya meniti karir di perusahaan TI dan aktif
berkomunitas di dunia maya.
Bagaimana latar belakang berdirinya HamilCantik.com?
HamilCantik.com
berdiri sejak 17 Februari 2008, saat aku hamil 8 bulan, tepat di hari
pertama saya cuti melahirkan dan sebulan sebelum saya melahirkan anak
kedua. Saat itu saya kelebihan baju hamil yang dititpkan teman-teman,
lalu saya foto dan kirim ke milis. Ternyata banyak yang pesan dan minta
model lain. Iseng-iseng saya minta saja suami untuk membuatkan website,
and voila... jadilah situs Hamilcantik.com hanya dalam 2 hari saja :p
Bisa diceritakan tentang perkembangan HamilCantik.com hingga sekarang?
HamilCantik itu websitenya sangat cupu, template dan engine-nya juga gratisan. But it makes real money! It generates profit from day one, dan sampai sekarang juga masih menguntungkan. Aku tau beberapa website dengan design dan fitur super canggih, tapi hingga beberapa tahun belum juga make money, bleeding terus. Sayang sekali.
Apakah
sebelum menjadi enterpreneur, pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah
perusahaan? Jika ya, di perusahaan apa dan berapa lama?
Ya,
pernah. Karena ketertarikan saya di dunia digital, sejak kuliah saya
menargetkan diri untuk bekerja di perusahaan TI. Selepas kuliah tahun
2001, saya bekerja di perusahaan internet provider, lalu tahun 2003 pindah ke perusahaan WAP services. Tahun 2005 saya pindah ke perusahaan oil and gas services. Lalu tahun 2008 saya resign
karena anak kedua saya tak bisa ditinggal. Saya mengisi kesibukan
dengan mengurus usaha butik online baju hamil www.hamilcantik.com. Di
tahun 2011 ini saya diajak untuk bergabung di Fimela.com untuk membangun
komunitas dan media sosialnya.
Jika sebelumnya pernah
bekerja sebagai karyawan, apa perbedaan yang paling terasa, ketika
menjadi karyawan dengan ketika menjadi enterpreneur?
Perbedaan
yang paling terasa adalah kebebasan mengatur waktu. Saat menjadi
enterpreneur, saya bebas menentukan waktu sendiri. Ketika menjadi
karyawan, bagaimanapun saya terikat dengan kebijakan perusahaan. Selain
itu soal pemasukan, karyawan rutin menerima gaji, sementara pengusaha
rutin memberi gaji.
Bagaimana cara mengatur waktu untuk
bisa mengelola bisnis, ditambah lagi harus mengurusi event bulanan
komunitas #StarUpLokal dan Project Eden?
Skala prioritas. Saya biasanya bikin to do list
per hari dan per minggu dan mengerjakan tugas berdasarkan skala
prioritas. Ditambah dengan 2 balita di rumah, biasanya saya membalas
email-email di jalan, atau saat anak-anak sudah tidur. On daylight, saya biasanya beredar from events to events and do meetings, dan mengerjakan tugas-tugas kantor.
Apa kendala yang dihadapi dalam mengembangkan bisnis online HamilCantik.com?
Kalau
HamilCantik kendalanya karena retail, maka tantangannya adalah
men-training staff untuk melayani pembeli dengan baik. Apalagi para ibu
hamil biasanya lebih sensitif, jadi harus ditangani dengan super careful.
Kalau dulu, kami masih mengedukasi masyarakat yang belum terbiasa
belanja online agar percaya bahwa situs kami bukan situs penipuan.
Setelah sukses dengan bisnis digital, apakah tertarik untuk membuka bisnis offline seperti franchise atau yang lainnya?
Saya sedang dalam proses membuat sesuatu untuk skala lebih besar, tapi masih rahasia. Tunggu saja ya update-nya...
Tentang komunitas #StartUpLokal, bagaimana prosesnya bisa menjadi inisiator komunitas #StartUpLokal?
Awalnya saya membantu Natalie menginisiasi pertemuan antarpenggiat start-up di bulan April 2011, dan mem-broadcast via Twitter. Kami pikir yang datang hanya belasan orang, ternyata ada 33 orang. Itu adalah #StartUpLokal meetup pertama. Lalu di bulan Mei 2011 saya membuat milis startuplokal@yahoogroups.com untuk meng-arrange meetup selanjutnya. Kini, milis itu berkembang menjadi tempat diskusi yang sangat berguna bagi teman-teman start-up.
Pengalaman apa saja yang paling berkesan selama mengurusi komunitas #StartUpLokal?
Pastinya saat diundang oleh pemerintah Irlandia mewakili start-up Indonesia untuk berkunjung ke Irlandia melihat bagaimana industri start-up
di sana. Rasanya seperti mimpi bahwa pemerintah suatu negara nun jauh
di sana ternyata memberikan perhatian terhadap gerakan kita. Akhir-akhir
ini pemerintah Indonesia juga sudah mulai aware dengan pergerakan #StartUpLokal dengan mengundang kami pada acara-acara mereka dan juga kami diundang untuk mewakili start-up
Indonesia, berbicara di depan wartawan bersama Ibu Menteri Mari Elka
Pangestu dan direktur GEPI Chris Kansil. Pemerintah melalui Kementrian
Pergadangan juga mensponsori #StartUpLokal meetup bulan Juni 2011 lalu di JCC, pada event PPKI.
Menurut Nuniek, apa yang harus dimiliki oleh tim start-up untuk bisa berjalan dan mengembangkan usaha?
Action.
Some people say if you fail to plan, you plan to fail. But if you plan
too much, you missed the moment to make a change. So just action. Find
the right partners, dan perluas network.
Komunitas
#StartUpLokal sekarang membuat Project Eden, bisa diceritakan bagaimana
proses hingga project ini akhirnya dilaksanakan?
Keinginan
untuk membuat inkubator memang sudah lama ada di mimpi kami, jauh
sebelum kami diundang ke Irlandia. Setelah pulang dari Irlandia, kami
melihat bagaimana start-up di sana sangat di-support oleh pemerintah dan itu sangat memacu perkembangan start-up
di sana. Kami jadi terpacu untuk membuat inkubator DENGAN ATAU TANPA
bantuan pemerintah. Lalu Natali menuangkan keinginan itu dengan
memposting di sini:
http://startuplokal.org/2011/05/16/startuplokal-hackerspace-jakarta/
Dua
hari kemudian, Kevin Mintaraga menelpon saya dan mengatakan dia nada
tempat yg bisa dipakai untuk itu. Kebetulan malam sebelumnya, partner
Kevin di Jardin Tech, Megain Widjaja, bilang sama Kevin, "Gue ada space nganggur
500 m2 di Menteng, enaknya dibikin apa ya?" Kevin langsung menunjukkan
tulisan Natali tersebut. Megain langsung setuju dan Kevin langsung
telepon saya saat itu juga.
Apa harapan Nuniek dari Project Eden bagi kemajuan start-up lokal?
Harapan
saya project eden ini mampu mewujudkan mimpi siapapun yang ingin
memiliki startup dengan modal materi nol, cukup dengan ide brillian,
kemauan dan ketekunan. Dalam skala lebih luas, semoga project eden
sebagai startup accelerator mampu memacu pertumbuhan industri startup di
Indonesia dan bukan tidak mungkin nanti akan ada Mark Zuckerberg baru
dari Indonesia :)
Project eEen sudah pernah melakukan pitching, dari pengalaman pitching,
apa yang kurang dari tim start-up lokal tersebut? Ada tips agar mereka
bisa lebih siap dalam mendirikan dan menjalankan start-up?
Biasanya
teman-teman hanya memikirkan dari segi teknologi, bukan dari
permasalahan apa yang ingin dipecahkan dan bagaimana monetasinya. Ada
yang menjelaskan terlalu teknis sehingga audience tidak mengerti apa artinya. Ada juga yang clueless ketika ditanya bagaimana monetasinya.
Bagaimana pendapat Nuniek tentang dukungan pemerintah terhadap start-up lokal?
Ada
atau tiada dukungan dari pemerintah menurut kami tidak terlalu masalah,
selama pemerintah tidak justru membuat kebijakan yang mematikan atau
merugikan pergerakan startuplokal saja. Di Silicon Valley justru campur
aduk pemerintah tidak banyak dan nyatanya mereka justru bisa
berkontribusi banyak bagi pendapatan pemerintah di sana.
Bagaimana
perkembangan start-up lokal di Indonesia menurut Nuniek? Apakah
start-up lokal bisa bersaing di pasar global? Apa yang harus
dipersiapkan?
Perkembangan start-up di Indonesia sangat
pesat, banyak sekali start-up bermunculan dalam beberapa tahun terakhir
ini. Menurut saya, bisa banget bersaing di pasar global. Banyak kok
teman-teman di Indonesia yang memiliki ide brilian, tinggal bagaimana
membentuk dan mengasahnya saja sehingga bisa benar-benar matang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar