KOMPAS.com - Natali Ardianto adalah salah satu dari empat inisiator komunitas #StartUpLokal. Awal karirnya di industri start up digital
dimulai dari mengurusi hal-hal teknis untuk Urbanesia.com, lalu menjadi
CTO (Chief Technology Officer) PT Warato Indonesia, COO (Chief
Operating Officer) untuk Tiket.com dan kini menjadi advisor untuk
Golfnesia.com dan Bouncity.
Sebelum menjadi enterpreneur digital,
ia juga punya banyak pengalaman sebagai karyawan di beberapa perusahaan.
Ternyata, kesuksesannya saat ini bermula sejak ia kecil. Dan sejak
remaja ia sadar, bahwa passion-nya adalah dunia digital.
Natali Ardianto membagi tentang ketertarikannya kepada dunia digital dan perjalanan karirnya kepada Kompas.com lewat wawancara elektronik berikut ini.
Bisa diceritakan asal mula menjadi seorang enterpreneur digital? Mengapa memilih industri digital, bukan bisnis offline?
Semua
diawali ketika saya masih kelas 5 SD, di sekolah ada komputer Apple di
mana di dalamnya ada game yang bernama Tortoise. Pada dasarnya game
tersebut adalah menggambar garis-garis dengan memasukkan koordinat X,Y.
Waktu itu merupakan pengalaman yang sangat berkesan untuk saya. Lalu
ketika SMP, saya mengikuti ekskul komputer. Waktu itu sedikit sekali
yang mau ekstra kurikuler komputer. Pada kelas 3 SMP, saya diajarkan
DBase3+, sebuah program yang mirip Microsoft Access untuk aplikasi
sekarang ini, dimana saya harus coding untuk membuat form-form input.
Ketertarikan
saya dengan dunia programming pun bertumbuh. Bahasa pemrograman seperti
BASIC, QBasic, Pascal, Java, saya lahap semuanya. Saya juga masuk Tim
Olimpiade Komputer Indonesia dan kompetisi-kompetisi programming
lainnya. Dari situ saya tahu bahwa passion saya adalah dunia digital, dan saya mengejar passion saya.
Kesempatan pertama menjadi entrepreneur itu datang ketika rekan satu kantor saya Selina Limman memiliki ide untuk membuat city directory
bernama Urbanesia.com, dim ana saya juga memiliki ide yang sama dua
tahun sebelumnya, dan mengembangkan prototype situs lokasi.info dan
direktori.info semasa saya menjadi konsultan IT (dua situs ini sudah
mati sekarang).
Apakah sebelum menjadi enterpreneur, pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan? Bagaimana pengalaman Anda?
Iya,
banyak sekali. Diawali dengan menjadi instruktur komputer di salah satu
training center terbesar di Indonesia bernama Inixindo. Disini saya
mengajar banyak materi, tapi semua materi yang saya ajarkan fokus ke
industri web. Semisal PHP, HTML, CSS, Flash, database mulai dari MySQL,
SQL Server, Oracle dan IBM DB2. Dari sini saya mengasah kemampuan
berkomunikasi dan presentasi saya. Dalam dua tahun saya mengajar lebih
dari 1000 peserta.
Setelah itu saya bekerja sebagai konsultan, web
developer, dan yang terakhir bekerja sebagai digital strategist di
SemutApi Colony (SAC). Disini saya bertemu dengan mentor-mentor saya
seperti Danny Wirianto, Antonny Liem dan Herman Kwok. Di SAC inilah saya
belajar, bahwa jika anda developer yang hebat sekali, tapi tidak punya
strategi marketing, maka kemungkinan untuk monetisasi (menghasilkan
uang) jauh lebih kecil ketimbang jika anda seorang marketer yang hebat
sekali tanpa ada developer.
Jika seorang developer dapat
menghasilkan Rp 50 juta per proyek, seorang marketer dapat menghasilkan
Rp 850 juta per proyek, dan bisa mempekerjakan developer terbaik di
industri. Itulah kenapa sebaiknya jika anda entrepreneur dengan latar
belakang teknis atau IT, maka sebaiknya anda menjadi CTO (Chief
Technology Officer) dan mengajak businessman yang komersil dan memiliki network yang luas untuk menjadi CEO (Chief Executive Officer).
Jika
sebelumnya pernah bekerja sebagai karyawan, apa perbedaan yang paling
terasa, ketika menjadi karyawan dengan ketika menjadi enterpreneur?
Perbedaan
yang mendasar adalah ketika menjadi entrepreneur, Anda yang mengambil
keputusan. Namun disinilah banyak kesalahan persepsi dari para
entrepreneur-entrepreneur muda. Keputusan yang Anda buat itu akan
mempengaruhi masa depan perusahaan Anda dan juga karyawan Anda.
Seharusnya keputusan ini didasarkan pada pengalaman, pengetahuan, dan
fakta, bukan berdasarkan perasaan atau keinginan belaka.
Ketika
kita menjadi karyawan, Anda bisa menjadi spesialisasi di satu hal.
Ketika kita menjadi entrepreneur, anda harus menjadi generalis, dan
memahami semua aspek bisnis mulai dari sales, marketing, komunikasi, branding, accounting, legal
dan lain-lain. Ketika menjadi entrepreneur, Anda harus lebih banyak
lagi belajar, dan tidak bisa hanya belajar yang Anda sukai. Mau tidak
mau, akuntansi pun harus dipelajari lagi.
Bagaimana
latar belakang sampai Anda mendirikan begitu banyak layanan di internet
seperti Tiket.com, Golfnesia.com, Urbanesia.com, dan Bouncity?
Diawali
dengan Urbanesia.com. Selina Limman mengajak saya untuk bergabung
mengembangkan Urbanesia.com dari sisi teknis. Di sini saya benar-benar
belajar apa itu entrepreneurship, dan mendapatkan banyak pengalaman yang
berharga. Setelah itu, saya di rekrut oleh PT Warato Indonesia untuk
menjadi CTO. Warato ini adalah perusahaan start up baru dengan investasi 50:50 dari Indonesia dan Jepang.
Terakhir,
saya direkrut Wenas Agusetiawan untuk bergabung di Tiket.com sebagai
COO. Sebagai informasi, sayalah yang paling tua di tim ini. Rata-rata
rekan-rekan lainnya berusia 24 tahun. Namun saya sangat percaya dengan
tim yang dikumpulkan oleh trio Wenas, Dimas dan Jeffry ini, karena track
record produk-produk yang sudah mereka hasilkan bukanlah produk
kacangan. Sebutlah divisi enterprise mereka untuk banking solution, lalu
produk-produk seperti hemat.com, wayangforce.com, bouncity.com dan
sekarang tiket.com.
Start up membutuhkan tiga hal agar
produknya sukses: talent, network, capital. Ketiga hal ini terpenuhi di
tim tiket.com yang sekarang. Bahkan kita memiliki 'super angel
investor' yang berani invest di ide kami. Ya, baru ide! Karena situs
kami baru akan launch November 2011 ini.
Saat ini saya sudah tidak
terlibat di Urbanesia.com. Saya sangat bangga bisa terlibat di
awal-awal pengembangan Urbanesia ini. Di Golfnesia.com, kini saya
menjadi advisor untuk mereka. Sebenarnya target market yang kami incar
untuk Golfnesia adalah pasar internasional.
Untuk Tiket.com, saya
belum bisa mengungkapkan detail lebih banyak lagi, namun jika
memperhatikan Facebook page kami, sudah banyak yang meminta tiket untuk
segala moda transportasi. Ini memacu kami untuk mengembangkan situs
lebih cepat lagi!
Saya di Bouncity hanya sebagai advisor saja, dan
masuk ke dalam timnya belakangan. Disini saya membantu sedikit di sisi
teknikal dan juga networking terutama ke media online dan offline.
Bagaimana
cara mengatur waktu untuk bisa mengelola semua bisnis tersebut,
ditambah lagi harus mengurusi event bulanan komunitas start-up lokal dan
Project Eden?
Fokus dan profesionalisme. Itu kata
kuncinya. Saya sudah tidak terlibat lagi untuk urbanesia.com, dan ketika
saya meninggalkan golfnesia.com untuk mengembangkan tiket.com, saya
secara langsung bilang saya tidak bisa terlalu involve di golfnesia.com,
bahkan part-time sekali pun. Mereka memahami posisi saya, oleh karena
itu saya ditawarkan menjadi advisor mereka dan sampai sekarang saya
memegang saham di sana.
Untuk event bulanan di #StartupLokal dan
Eden, sebenarnya ini masalah time management. Sebisa mungkin aktivitas
tersebut dilakukan di luar jam kerja saya. Namun jika terpaksa
mengganggu, saya harus mengganti waktu yang hilang. Tapi saya juga bukan
orang yang perhitungan dalam hal bekerja. Jika saya sudah coding, saya
bahkan bisa setiap hari tidur jam 3 pagi.
Apa kendala yang dihadapi dalam mengembangkan banyak situs baru?
Sebenarnya masalah paling dasar dalam mengembangkan ketiga start up tersebut adalah human resource.
Sumber daya manusia yang kompeten itu sangat sulit ditemukan. Dan kalau
sudah kompeten, belum tentu dia profesional dan produktif. Masalahnya,
lulusan jaman sekarang, terutama yang fresh graduate, mencarinya uang belaka.
Sebagai
informasi, ketika saya mengambil posisi instruktur IT, gaji saya waktu
itu Rp 1,5 juta per bulan. Rata-rata rekan saya (saya lulusan Ilmu
Komputer Universitas Indonesia) itu gajinya paling jelek Rp 3 juta per
bulan waktu itu. Tapi ya itu tadi, saya mengejar pengalaman dan target
saya adalah mengubah kepribadian saya yang tadinya introvert agar
menjadi ekstrovert. Saya percaya bahwa jika kamu melakukan yang terbaik,
bahkan 110 persen lebih baik dari yang lainnya, maka uang akan datang
sendiri ke kamu. Itulah kenapa saya selalu dibajak, tidak pernah saya
melamar pekerjaan.
Setelah sukses dengan bisnis digital, apakah tertarik untuk membuka bisnis offline seperti franchise atau yang lainnya?
Sebenarnya dalam strategi-strategi yang saya lakukan di startups saya, salah satu fokusnya adalah B2B (business-to-business).
Jadi ya tentunya pasti akan ada bisnis offline, seperti franchise,
keagenan atau sejenisnya, tapi tentunya dengan memanfaatkan online juga.
Saya ngga bisa jauh-jauh dari dunia online.
Bagaimana prosesnya bisa menjadi inisiator #StartUpLokal?
Diawali dengan pertemuan tidak sengaja saya dengan Sanny Gaddafi, Rama Mamuaya, Dondi Hananto dan Aulia Masna di sebuah coffee shop
di daerah Sudirman. Padahal malam itu saya hendak bertemu orang lain
untuk membicarakan startups baru. Jadi itu sebuah kebetulan yang luar
biasa, dan setelah kami bubar waktu itu, kami berjanji untuk bertemu
lagi sebulan kemudian.
Yang terjadi sebulan kemudian ternyata
melebihi ekspektasi kami. Yang hadir saat itu berjumlah 33 orang! Dan
semua diawali dengan ajakan kami kepada rekan-rekan startup kami di
Twitter menggunakan tagar #StartupLokal. Inisiator saat itu Rama
Mamuaya, Sanny Gaddafi dan saya sendiri. Saya mengajak Nuniek Tirta
karena dia ahli dalam membuat komunitas dan kemudian kami mengajak Ollie
untuk turut bergabung.
Pengalaman apa saja yang paling berkesan selama mengurusi komunitas start up lokal?
Pengalaman
yang paling berkesan tentunya ketika kami diundang oleh Pemerintah
Irlandia melalui perusahaan pemerintah bernama Enterprise Ireland. Pada
waktu pertama kali bertemu pihak Irlandia di Jakarta, pertemuan
dilakukan pada pukul 11 malam di Hotel Kempinski. Uniknya, kami semua
inisiator bisa turut hadir untuk melakukan pertemuan itu, padahal
biasanya sulit sekali untuk kami semua berkumpul karena kesibukan
masing-masing.
Setelah satu jam melakukan pembicaraan,
menceritakan tentang usaha-usaha yang telah kami lakukan di Indonesia
ini, Pat O'Riordan dari Enterprise Ireland tiba-tiba berujar "Bagaimana
jika saya mengundang kalian semua untuk datang ke Dublin, "Silicon
Valley"nya Eropa? Kami sangat senang sekali waktu itu. Dan pengalaman di
Irlandia selama tujuh hari telah membuka mata kami tentang Industri IT
Irlandia yang telah sangat matang dan berlangsung selama 25 tahun ini.
Pengalaman
lainnya yang juga cukup berkesan adalah ketika Departemen Perdagangan
melakukan konferensi pers mengenai GEPI (Global Entrepreneurship Program
Indonesia) bersama chairman GEPI Chris Kanter, ibu Mari Elka sendiri
dan saya mewakili startups di Indonesia. Waktu itu saya telat datang 30
menit karena saya menghadiri event lain sebelumnya. Walaupun saya sudah
naik ojek dan berlari-lari di dalam gedung Departemen Perdagangan. Waktu
itu saya panik dan malu sekali. Untung konferensi pers berjalan dengan
lancar, dan malah hingga sekarang Depdag dan GEPI mendukung komunitas
kami, semisal kami diberikan satu slot event dari pagi sampai sore di
hari Sabtu di event PPKI (Pekan Produk Kreatif Indonesia) 2011, sebuah
event yang digagas Departemen Perdagangan.
Bagaimana
pandangan Natali tentang start up di Indonesia? Apa yang harus dimiliki
oleh mereka untuk bisa berjalan dan mengembangkan usaha?
Saya sangat bangga dengan rekan-rekan start up yang sekarang, karena sekararang mereka semua mau belajar dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Start up harus punya jiwa pejuang, semisal ketika mereka melakukan pitch
di depan investor dan investor tidak tertarik untuk melakukan
investasi, bukan berarti startups mereka jelek. Tentunya masing-masing
investor memiliki jenis portfolio dan preferensinya masing-masing,
sehingga mereka pun dalam melakukan investasi tidak acak. Startups saya
tiket.com butuh pitch ke belasan investor agar mendapatkan satu investor
yang sama-sama cocok.
Hal lainnya adalah kemampuan untuk melakukan business plan dan financial statement
yang baik. Terkadang saya takjub dengan startups yang meminta dana
hingga Rp 2 miliar per tahun, padahal jumlah orangnya cuma bertujuh, dan
start up tersebut bukan technology centric, dalam arti tidak membutuhkan dana yang besar untuk server dan lain-lain. Padahal di start up
saya terdahulu, 25 orang hanya membutuhkan biaya Rp 1 miliar per tahun.
Juga terkadang asumsi pendapatan mereka sangat tidak masuk akal.
Contohnya adalah start up yang model monetisasinya dari iklan.
Saya paham sekali bahwa sangat sulit untuk mendapatkan kue iklan online
berdasarkan pengalaman startups saya terdahulu. Kasarnya, 80 persen kue
iklan sudah dimakan oleh Detik.com dan Kompas.com, dan sisa 20 persen
untuk rebutan semua dotcom lainnya.
Sebaiknya start up
dalam membuat asumsi pendapatan harus menggunakan informasi atau fakta
dari startups pendahulu mereka, supaya asumsinya mereka dapat
dipertanggungjawabkan, dan ketika kita tanya bagaimana mendapatkan angka
tersebut, jawabannya bukan "luki" (lu kira-kira).
Start up lokal sekarang membuat project eden, bisa diceritakan bagaimana proses hingga project ini akhirnya dilaksanakan?
Ketika
di Irlandia, kami melihat banyak startups Incubator di sana. Kami
mengunjungi 2 inkubator di kampus, dan 1 inkubator privat. Jadi di
Irlandia, semua kampusnya memiliki inkubator startups, dan inkubator ini
untuk publik, bukan hanya untuk orang-orang di kampus. Sekembalinya
dari Irlandia, kami ingin sekali membuat inkubator sejenis di Indonesia,
terutama di Jakarta. Saya membuat artikel di situs kami
http://startuplokal.org mengenai kisah inkubator di Irlandia dan
keinginan kami untuk membuat inkubator yang sama di Jakarta.
Kurang
dari satu minggu, sebuah perusahaan investasi PT. Jardin Tech Capital
mengundang kami untuk bertemu dan berbincang mengenai konsep inkubator,
dan kebetulan salah satu pihak dari JTC juga memiliki ide yang sama yang
dinamakan Project Eden. Dari situ kami mematangkan konsep kami dan
lahirnya Project Eden tersebut.
Apa harapan dari Project Eden bagi kemajuan start-up lokal?
Para
mentor yang berjumlah sembilan ini merupakan entrepreneur-entrepreneur
yang sangat sukses, dan menjadi pemimpin di industrinya. Dan yang lebih
hebatnya lagi, semuanya masih muda-muda. Masalah yang dihadapi oleh para
entrepreneur startups dan mentor saat ini adalah besarnya generation
gap antara yang tua dengan yang muda. Jadi lebih sering tidak nyambung
antara mentor dengan startups, karena metodologi dan cara kerjanya yang
berbeda. Saya percaya mentor di Project Eden merupakan individu yang
sangat kompeten dan up-to-date dengan perkembangan jaman dan teknologi saat ini. Harapan kami Project Eden dapat menjadi mercusuar startup accelerator di Indonesia.
Terakhir, bagaimana pendapat Natali tentang dukungan pemerintah terhadap start-up lokal?
Saat
ini pemerintah mulai memperhatikan startup lokal. Diawali oleh
pemerintah dari Kementerian Perdagangan melalui ibu Mari Elka. Beliau
sangat mensupport kami, melalui dukungan beliau untuk program GEPI
(Global Entrepreneurship Program Indonesia) dan juga di event PPKI
(Pekan Produk Kreatif Indonesia) dimana kami diberikan spot premium di
hari Sabtu seharian penuh di ballroom untuk membuat event untuk start up. Juga dari Kementerian Komunikasi dan Informasi Pak Tifatul juga sudah mulai mengundang start up
dan kami dari komunitas #StartupLokal untuk menghadiri event-event
seperti Inaicta dan lain-lain. Pada dasarnya kami tidak mencari dukungan
pemerintah secara langsung, sama halnya dengan Silicon Valley di
Amerika, di mana mereka tidak memiliki lobbyist khusus mereka untuk DPR.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar