Membangun Komunitas Saja Tidak Cukup

KOMPAS.com - Komunitas dan startup adalah dua hal yang saling berhubungan dalam iklim enterpreneurship. Startup membutuhkan komunitas untuk berkembang. Komunitas juga kadang membutuhkan startup untuk mewadahi kreatifitas yang mereka punya sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang menguntungkan secara finansial.
Menurut  Nuniek Tirta Sari, inisiator komunitas #startuplokal dan community manager Fimela.com, komunitas dan startup sebetulnya adalah sebab dan akibat. "Komunitas #StartUpLokal adalah contoh komunitas yang terbentuk dari kumpulan orang-orang yang mulai membangun bisnisnya dari nol. Sedangkan sebaliknya yang bisa terjadi adalah sebuah startup dibangun dari komunitas yang sudah terbentuk, contohnya Koprol dan Kaskus," ujar Nuniek saat menjadi pembicara pada #StartUpLokal Meetup v.14 dengan tema "Running a Succesful Community" yang merupakan rangkaian acara ICC 2011 di Assembly Hall 1, JCC, Jakarta, Sabtu (11/6/2011).
Koprol dan Kaskus awalnya terbentuk dari komunitas karyawan perusahaan yang bergerak di bidang web developer. Kreatifitas dua komunitas ini, yang semula iseng, menghasilkan sebuah proyek yang tak mereka duga justru menghasilkan uang lebih banyak dibandingkan hanya bekerja sebagai karyawan.  Akhirnya startup terbentuk. Startup yang mereka bentuk kemudian juga menghasilkan komunitas-komunitas baru yang lebih besar. Misalnya komunitas Koprol yang terbentuk dan tersebar di beberapa kota di Indonesia karena ketertarikan yang sama antaranggota terhadap Koprol. Atau komunitas Kaskus yang terbentuk dengan sendirinya dari forum yang berkembang di Kaskus.
Hubungan sebab-akibat antara komunitas dengan startup ini memang terus berputar. Bukan tidak mungkin komunitas-komunitas yang terbentuk dari Koprol dan Kaskus kemudian membangun startup baru. "Membangun itu mudah, namun menjaga adalah tantangan, karena membangun kembali itu lebih berat,” ujar Nuniek. Maka membangun dan menjaga eksistensi komunitas merupakan hal wajib yang harus dilakukan.
M. Ario Adimas, director communication and community development of IMA (Indonesia Marketing Association) yang juga digital strategist of Gramedia Digital ikut berbagi pengalamannya dalam acara kali ini. Menurutnya, komunitas bisa dibangun dengan mengenali dan memahami tujuan masing-masing individu untuk bergabung dalam suatu komunitas. Setelah itu, permudah akses untuk pendaftaran, untuk memperoleh informasi, untuk melakukan networking antaranggota. Jangan lupa beri kebanggan kepada anggota komunitas bahwa mereka bergabung di komunitas yang tepat.
"Setelah komunitas terbentuk, jaga konsistensi komunikasi antara founder, admin, dengan anggota komunitas. Beri multiple touchpoint yang membuat mereka selalu merasa dekat satu sama lain dan selalu beri akses mereka untuk berpartisipasi pada setiap event yang diadakan  komunitas. Anggota yang merasa dikenal, didengar, dan dilibatkan akan loyal pada suatu komunitas," tambah Ario.
Hal ini mungkin sudah dijalankan oleh Nulisbuku.com. Briliant Yotenega, salah satu founder Nulisbuku.com yang juga ikut menjadi pembicara membagikan pengalamannya menjaga komunitas penulis yang terbentuk dari Nulisbuku.com. Layanan selfpublishing buku berbasis print on demand ini tumbuh bersama dengan komunitas penulis di dalamnya. Anggota komunitas Nulisbuku.com tak hanya menerbitkan bukunya masing-masing, namun mereka juga saling mengenal, saling berkomunikasi baik di dunia maya dan dunia nyata.
Mayoritas anggota komunitas penulis di Nulisbuku.com berkomunikasi melalui Twitter. Satu bulan sekali, komunitas yang ada di Jakarta menghadiri acara Nulisbuku Club, di mana para penulis tak hanya bisa bertemu secara langsung namun juga bisa mendapatkan ilmu tentang dunia penulisan dari penulis tamu.  Dari lima kali pertemuan yang telah diadakan, dua diantaranya juga berisi pengumuman pemenang lomba menulis yang telah diadakan sebelum pertemuan digelar dan sekaligus launching buku kompilasi dari karya para peserta lomba. Jadi, meski tidak menang, karya mereka tetap dibukukan.
Hal yang paling berkesan dari komunitas ini menurut Briliant Yotenega adalah ketika para penulis membentuk #writers4Indonesia. "Ada ide dari para penulis saat terjadi rentetan bencana di Jogja dan Padang. Mereka banyak mengajukan usul di twitter, bagaimana kalau penulis melakukan sesuatu," kenang Ega. Saat itulah para penulis bergabung dan menulis buku kumpulan cerpen yang royalti penjualannya disumbangkan untuk korban bencana.
Berbeda dengan Nulisbuku.com yang memberikan kesempatan bagi para penulis menerbitkan bukunya tanpa syarat yang memberatkan, komunitas Female Daily Network justru menetapkan standar tinggi bagi  para anggotanya. Komunitas ini terbentuk dari seleksi yang cukup ketat terhadap calon anggotanya.
Hanifa Ambadar, Managing Director Female Daily Network dan Affi Assegaf, Editorial Director Female Daily Network juga berbagi cerita seputar komunitas yang mereka bangun. Hanifa dan Affi hanya meng-approve 32 persen dari total pengunjung website mereka yang ingin bergabung dalam komunitas ini. Secara berkala mereka juga menghapus anggota yang tidak aktif selama beberapa bulan. Mereka menetapkan standar yang ketat dalam hal posting artikel, komunikasi di forum, hingga penampilan anggota saat gathering.
"Tidak ada postingan dengan huruf-huruf alay, tidak boleh membicarakan gosip artis, tidak boleh membicarakan produk fashion bajakan seperti KW super, KW satu apalagi KW 2. Kami memang menetapkan sistem frantic community watchdog," ujar Affi.
Meski tampak menyulitkan, sistem ini ternyata berhasil membuat komunitas ini menjadi eksklusif dan mendatangkan kebanggaan tersendiri bagi yang berhasil bergabung seta aktif di dalamnya.  Komunitas ini juga hanya berisi anggota yang betul-betul fokus pada perkembangan komunitas, bukan sekadar mendaftar. Mereka saling berbagi informasi bermanfaat seputar dunia kewanitaan, fashion, kesehatan, juga mendapatkan persahabatan dan partnership yang nyata. Anggota juga dilibatkan dalam hal pemilihan nama komunitas dan tagline, bahkan desain logo juga dibentuk oleh komunitas. Mereka  menghadiri acara-acara offline yang digagas oleh anggota, bahkan sampai mengadakan acara amal bersama.
"Kami tumbuh seiring dengan pertumbuhan mereka. Kadang, anggota yang ketika bergabung masih berstatus single, saat bertemu kembali, ternyata sudah punya suami. Lalu pertemuan-pertemuan selanjutnya dia hamil, punya anak. Itu salah satu contoh saja," ujar Hanifa.
Dari semua pemaparan narasumber bisa disimpulkan bahwa membangun komunitas saja tidak cukup. Komunitas harus dijaga eksistensinya dengan berbagai cara agar tidak layu sebelum berkembang.

Tidak ada komentar: