KOMPAS.com - Jangan mengabaikan teknik bercerita
dalam presentasi. Karena cerita selain berkata, juga bisa menjual.
Setidaknya itu kata-kata Lex De Praxis, seorang praktisi hypnotheraphy
sekaligus pendiri HitmanSystem.com saat membagikan tips agar presentasi startup disukai investor.
Lex
menekankan pada cara berbicara yang penuh emosi pada saat presentasi.
"Pastikan anda berbicara dengan penuh emosi, karena ketika anda
berbicara dengan penuh emosi, maka audience akan membeli anda sebelum
anda menjual," ujar Lex pada presentasinya dalam acara #StartUpLokal
meetup v.13 di Gedung TransTV, Jakarta, Rabu (11/5/2011).
Emosi
yang dimaksud Lex adalah emosi positif seperti semangat, rasa penasaran,
rasa tertarik, dan perasaan postif lainnya yang mendukung presentasi
lebih mudah disukai. "Saya suka saat Aria Rajasa (founder Gantibaju.com)
naik ke atas panggung. Pembawaannya santai, langsung ramah menyapa audience, dan selama presentasi, Aria menyampaikan dengan energi yang menonjol," jelas Lex.
Ada lima hal yang dibagi Lex dalam presentasinya. Lima hal tersebut adalah facial (wajah), tatapan, repetisi, acting, dan body language. Semuanya terkait dengan hubungan personal antara presenter (yang menyampaikan presentasi) dengan audience (investor).
"Antara presenter dan audience harus ada unsur keakraban yang terjalin," tambah Lex. Unsur keakraban dapat terjalin dengan menatap mata audience satu per satu. Ketika presentasi, usahakan menatap mata audience satu per satu agar mau tidak mau mereka akan terbawa ke dalam isi pembahasan yang sedang diceritakan oleh presenter. "Lakukan eye contact, satu persatu, secara perlahan, agar wajah anda dapat membagikan emosi, bukan sekadar informasi," ungkap Lex.
Lalu bicaralah dengan facial expression, bukan mengandalkan slide presentasi, sehingga presenter tidak perlu bolak-balik menatap slide. Dengan facial expression, presenter juga dapat bercerita kepada audience tentang produknya, bukan membacakan teks pada slide. Hal ini dapat mendukung keakraban yang terjalin antara presenter dengan audience.
"Public speaking bukan pembaca berita. Orang yang melakukan public speaking harus melakukan komunikasi dengan audience-nya," tegas Lex. Ia juga menyarankan untuk melakukan repetisi untuk beberapa kalimat yang memang harus diingat oleh audience.
"Repetisi, pengulangan, ulang lagi, dan ulang terus kata-kata yang
menurut anda harus diingat oleh audience. Pengulangan membuat mereka
menjadi fokus dan mudah mengingat pesan penting anda," jelas Lex.
Kemudian jadilah story teller yang full of character. Untuk menjalankan hal ini, presenter harus melakukan sedikit drama dan akting agar dapat menjadi orang yang menyenangkan bagi audience. Drama atau akting bukan berarti berpura-pura, melainkan sebagai pendukung facial expression
yang telah dilakukan sebelumnya. Jika telah memiliki karakter yang
penuh dari bahasa tubuh yang tertata, rasa gugup pun akan berkurang
bahkan hilang setelah mulai berbicara.
Terakhir, jaga body language
agar tetap terlihat menarik, tidak kaku, santai dari awal hingga akhir
presentasi. Gerak tubuh yang rileks akan membantu tubuh membahasakan
bahwa presenter sangat menikmati proses presentasinya, sehingga audience pun dapat menikmati keseluruhan presentasi yang disampaikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar