KOMPAS.com – Penetrasi Information and Communication Technology (ICT) di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun. Peningkatan jumlah personal computer (PC), laptop, netbook,
tablet, dan ponsel disinyalir sebagai penyedot listrik paling banyak.
Pesatnya jumlah perusahaan Start-Up juga dicurigai menjadi pemicu
penggunaan listrik yang berlebihan. Padahal, konsumsi listrik dari
industri IT sebetulnya tidak separah itu.
Justru, jika dikelola dengan baik, industri ICT berpotensi mendukung kehidupan ramah lingkungan, atau yang biasa disebut green life. Hal itu disampaikan Rheza Sistiadi, Direktur PT. Realta Chakradarma, yang menyediakan software dan hardware untuk perhotelan dan industri pariwisata lainnya.
“Dari
penelitian di Jepang dan negara-negara berkembang, hanya dua hingga
tiga persen kontribusi industri IT dalam menimbulkan pemanasan global.
Selebihnya merupakan ulah dari pabrik dan polusi kendaraan,” ujar Rheza
saat ditemui Kompas.com, seusai #StartUpLokal Meet Up V.18 di Bina Nusantara University (Binus), Jakarta, Kamis (20/10/2011).
Menurutnya,
industri ICT justru berpotensi membantu menciptakan kehidupan ramah
lingkungan. Ada dua cara yang mendukungnya, yakni industri ICT sebagai
penyedia produk yang bisa membantu kehidupan manusia lebih ramah
lingkungan, atau praktisi ICT beralih menggunakan software dan hardware ramah lingkungan untuk menjaga kelestarian alam.
“Tanpa
kita sadari, perkembangan industri ICT justru membantu kehidupan kita
menjadi lebih ramah lingkungan. Contohnya penggunaan e-mail yang mengubah kebiasaan seseorang untuk tidak lagi menggunakan kertas dalam berkirim surat,” jelas Rheza.
Dalam
dunia perhotelan, teknologi yang dikembangkan Rheza di Realta
memungkinkan semua departemen di suatu hotel bisa memasukkan semua data
hanya dengan menggunakan satu software. Perangkat lunak
tersebut membentuk sebuah sistem terintegrasi yang menghubungkan semua
departemen, sehingga seluruh informasi bisa disimpan dan dibagi tanpa
harus menggunakan kertas.
“Kini Realta sudah mulai mengaplikasikan
sistem ini ke beberapa tablet dan ponsel sehingga sistem check in dan
check out hotel bisa dilakukan secara digital pada perangkat bergerak,”
tambah Rheza.
E-billing (sistem pembayaran secara elektronik) juga mengurangi penggunaan kertas
Untuk
penghematan lainnya, Rheza mencontohkan teknologi yang memungkinkan
manusia bisa mengendalikan listrik gedung pencakar langit dengan sistem
komputer.
“Sebetulnya bisa dikembangkan teknologi yang memberi
komando bagi jaringan listrik gedung. Pada pukul sekian, listrik
dipadamkan, dan pukul sekian listrik harus nyala secara keseluruhan,
sehingga tidak butuh lagi tenaga manusia untuk menjaga listrik, ”
katanya.
Contoh lainnya adalah, perusahaan start-up digital di
Indonesia, mulai membuat konsep perusahaan yang membantu manusia lebih
ramah pada lingkungan, contohnya www.Nebeng.com. Start-up ini
mengampanyekan penghematan bahan bakar minyak (BBM) dengan cara
menyediakan jejaring sosial agar pemilik mobil dapat memberikan
tumpangan kepada orang lain.
“Banyak start-up lain yang ternyata mampu mengampanyekan hidup ramah lingkungan,” tambah Rheza.
Cara kedua yang bisa dilakukan industri ICT dalam mendukung kehidupan ramah lingkungan adalah pengaplikasian Cloud Computing. Teknologi ini mampu menghemat penggunaan hardware dan software untuk server karena data center berubah dalam bentuk virtual.
“Ada penghematan listrik karena tidak butuh server komputer yang banyak, tidak perlu ruangan ber-AC untuk mendinginkan server, juga tidak perlu banyak tenaga manusia karena cloud computing bisa bekerja secara otomatis,” jelasnya.
Dalam industri telekomunikasi, BTS bisa menggunakan beterai yang bisa di-charge ulang, atau beralih ke tenaga surya sebagai sumber listrik.
Menurut
Rheza, yang dibutuhkan agar industri ICT terus membantu manusia menjadi
ramah lingkungan terdiri dari tiga hal. Pertama, regulasi pemerintah.
“Pemerintah harus mewajibkan pemain besar industri hardware melakukan
daur ulang bagi limbah-limbah produk mereka yang sudah tak terpakai.
Pemerintah juga harus membuat kebijakan yang mewajibkan
produsen-produsen besar dalam industri hardware untuk menjual produk yang bisa menghemat listrik secara otomatis,” ungkapnya.
Kedua, edukasi untuk meningkatkan perhatian. Harus ada workshop
dan seminar berkala yang memberikan informasi bahwa industri ICT aman
bagi lingkungan. Ketiga, inisiatif dari kalangan pebisnia untuk mulai
memikirkan membuat produk atau menyediakan jasa yang memikirkan masalah
kelestarian lingkungan.
Ide-ide ini disampaikan Rheza dalam
#Startuplokal Meet Up V. 18. Tiga pembicara lainnya, adalah Kurnia Vera
L (co-founder environmental-indonesia.com), Natalia Devina Widjaya
(dosen Binus), dan perwakilan dari Nebeng.com, juga membicarakan isu
yang serupa, yakni peran industri ICT dalam Green Life. Di penghujung
acara, komunitas digital Depok memperkenalkan konsep komunitas mereka.
Dilanjutkan dengan pengumuman program “Start Young to Innovate” yang
akan diadakan oleh Binus bekerja dengan komunitas #Startuplokal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar