JAKARTA, KOMPAS.com - Macet sudah menjadi "santapan"
sehari-hari masyarakat ibukota, khususnya Jakarta. Agar terhindar dari
macet, pengguna kendaraan bisa memantau kondisi jalan yang akan dilalui
melalui perangkat ponsel atau tablet secara langsung.
Chief Executive Officer 4id, Brynerio membuat aplikasi yang dapat memantau kondisi jalan khususnya ibukota Jakarta secara real time. Namanya MacetTer.us. Namun pantauan kondisi jalan ini bukan dilakukan secara streaming video, tapi melalui hasil tangkapan kamera berupa foto kondisi jalan secara langsung.
"Kecepatan internet di Indonesia saat ini belum cukup cepat untuk melakukan video streaming.
Sehingga kami lebih memilih mengirimkan kondisi jalan melalui foto,"
kata Brynerio ketika ditemui pada perayaan ulang tahun Startup Lokal
kedua di Gedung Multimedia Telkom Jakarta, Sabtu (7/4/2012).
Brynerio mengakui memang sudah banyak aplikasi yang mampu memantau
kondisi jalanan ibukota secara langsung. Baik melalui aplikasi berbentuk
streaming, CCTV, hasil pantauan Polda Metro, laporan radio hingga laporan televisi dan tweet dari pengguna jalan dari akun Twitter.
Kelebihan dari aplikasi ini adalah memungkinkan pengguna jalan bisa
menerima foto kondisi jalan secara langsung, meski berupa foto. Sampai
saat ini sudah ada 114 ruas jalan yang terpasang kamera CCTV, yang
dapat mengirimkan foto kondisi jalan secara langsung melalui ponsel
atau tablet.
"Aplikasi ini sementara hanya bisa digunakan untuk
mengakses kondisi jalan di Jakarta. Kami akan mengembangkan segera ke
Surabaya dan Bandung," katanya.
Aplikasi gratis yang baru
diluncurkan Desember 2011 saat ini baru dapat digunakan di ponsel
BlackBerry maupun tablet BlackBerry PlayBook. Tapi pihak developer
sedang menyiapkan aplikasi ini untuk perangkat iOS dan Android.
Hingga saat ini sudah ada sekitar 160.000 pengguna yang memakai aplikasi tersebut.
ScanBuku Tawarkan Layanan Digitalisasi Buku
JAKARTA, KOMPAS.com - Ada cara gampang untuk menyimpan
koleksi buku favorit kita. Bila rak buku sudah tidak muat untuk
menampungnya, maka buku koleksi kita bisa diubah menjadi versi digital
atau ebook.
Pemilik Scanbuku.com, Andri menjelaskan cara tersebut diambil karena masyarakat saat ini sudah kehilangan cara untuk menyimpan buku koleksi favorit mereka. Untuk merawat koleksi buku tersebut pun bukanlah hal yang mudah dan murah.
"Solusinya buku tersebut dibuat dalam versi digital. Cara menyimpannya gampang, tidak memakan tempat dan membacanya kembali juga mudah," kata Andri ketika ditemui pada perayaan ulang tahun Startup Lokal kedua di Gedung Multimedia Telkom Jakarta, Sabtu (7/4/2012).
Solusi digitalisasi buku ini dilakukan dengan metode pemindaian (scan). Buku dibongkar dan dilakukan pemindaian per halaman atau halaman yang dikehendaki oleh konsumen.
Biasanya konsumen langsung membuang koleksi bukunya setelah dibuat dalam versi digital. Tapi jika berminat, konsumen bisa meminta buku yang telah dibongkar dan dipindai untuk dijilid kembali. Buku tersebut bisa disimpan kembali atau disumbangkan ke pihak yang memerlukan.
Hasil dari pemindaian tersebut berupa file dengan format PDF. File ini bisa dibaca di laptop, tablet atau ponsel yang mendukung file PDF.
Kelebihdan dari penggunaan file berbentuk PDF, konsumen masih bisa mengambil/meng-copy isi dari buku tersebut. Sehingga konsumen bisa mengambil kata-kata atau halaman yang ingin dikirim atau dikutip.
Metode ini sudah marak di Amerika Serikat dan Jepang. Di Indonesia, digitalisasi buku hanya dilakukan oleh perusahaan cetak besar.
"Sementara kami melakukan usaha ini untuk konsumen pribadi (ritel). Sekarang trennya sudah mulai marak, sehari bisa ada 10-20 orang yang melakukan scan," katanya.
Untuk melakukan pemindaian tersebut tidak perlu biaya yang mahal, hanya Rp 15.000 per 100 halaman (isi) dan Rp 3.000 per cover.
Sampai saat ini, buku yang bisa dipindai maksimal berukuran kertas A4 dan minimal berukuran 6x6 cm.
Pemilik Scanbuku.com, Andri menjelaskan cara tersebut diambil karena masyarakat saat ini sudah kehilangan cara untuk menyimpan buku koleksi favorit mereka. Untuk merawat koleksi buku tersebut pun bukanlah hal yang mudah dan murah.
"Solusinya buku tersebut dibuat dalam versi digital. Cara menyimpannya gampang, tidak memakan tempat dan membacanya kembali juga mudah," kata Andri ketika ditemui pada perayaan ulang tahun Startup Lokal kedua di Gedung Multimedia Telkom Jakarta, Sabtu (7/4/2012).
Solusi digitalisasi buku ini dilakukan dengan metode pemindaian (scan). Buku dibongkar dan dilakukan pemindaian per halaman atau halaman yang dikehendaki oleh konsumen.
Biasanya konsumen langsung membuang koleksi bukunya setelah dibuat dalam versi digital. Tapi jika berminat, konsumen bisa meminta buku yang telah dibongkar dan dipindai untuk dijilid kembali. Buku tersebut bisa disimpan kembali atau disumbangkan ke pihak yang memerlukan.
Hasil dari pemindaian tersebut berupa file dengan format PDF. File ini bisa dibaca di laptop, tablet atau ponsel yang mendukung file PDF.
Kelebihdan dari penggunaan file berbentuk PDF, konsumen masih bisa mengambil/meng-copy isi dari buku tersebut. Sehingga konsumen bisa mengambil kata-kata atau halaman yang ingin dikirim atau dikutip.
Metode ini sudah marak di Amerika Serikat dan Jepang. Di Indonesia, digitalisasi buku hanya dilakukan oleh perusahaan cetak besar.
"Sementara kami melakukan usaha ini untuk konsumen pribadi (ritel). Sekarang trennya sudah mulai marak, sehari bisa ada 10-20 orang yang melakukan scan," katanya.
Untuk melakukan pemindaian tersebut tidak perlu biaya yang mahal, hanya Rp 15.000 per 100 halaman (isi) dan Rp 3.000 per cover.
Sampai saat ini, buku yang bisa dipindai maksimal berukuran kertas A4 dan minimal berukuran 6x6 cm.
Ini Dia, Resep Sukses E-Commerce di Indonesia
KOMPAS.com - Di Indonesia saat ini banyak bermunculan
situs e-commerce. Agar bisa sukses, pendiri layanan e-commerce
disarankan untuk menetapkan fokus mereka.
Para pendiri sebaiknya tidak hanya fokus memikirkan sisi teknologi. Hal yang lebih penting adalah jenis dan ketersediaan produk yang dijual serta penguasaan bisnis.
Hal ini disampaikan Andi S. Boediman, mantan Chief Innovation Officer (CIO) Plasa.com dalam #Startuplokal Meet Up v.23 yang bertema E-commerce.
Andi berbagi pengalamannya ketika membangun Plasa.com. Andi kini adalah Direktur Ideosource dan pendiri Internasional Design School (IDS).
"Mengapa eBay bisa memiliki transaksi 5 juta dollar dari Indonesia saja? Karena eBay punya barang yang orang Indonesia ga bisa jual," jelas Andi dalam event yang digelar di kantor Microsoft Indonesia, Jakarta, Kamis (8/3/2012).
Andi mengatakan, Indonesia juga harus bisa begitu. "Kebanyakan website e-commerce trafficnya tinggi, tapi transaksi nol, karena orang datang hanya untuk membandingkan harga," tuturnya.
Cara mengelola ritel
Hal senada juga diungkapkan Benhard Soebiakto. Ben merupakan CEO Octovate Group Asia, pendiri Fimela.com yang juga akan merilis Fimela Shop.
Selain itu, Ben juga menjadi co-founder bagi startup wishkoo.com.
"Yang terpenting dalam perusahaan e-commerce bukan siapa CTO-nya, atau seluas apa networkingnya, tapi apakah founder sudah mengerti cara mengelola retail," kata Ben.
Menurutnya, pendiri harus tahu dulu bagaimana membangun toko. Termasuk kendala pemasaran, margin, stok barang hingga distribusi.
"Setelah itu, baru pelajari habit dan behaviour dari online buyer itu sendiri. Kalau teknologinya, saya rasa hampir semua founder startup digital sudah mengerti," jelas Ben.
Kesiapan logistik
Heriyadi Janwar mantan General Manager Portal dan Platform Management Plasa.com yang kini Platform Strategy Lead di Microsoft Indonesia juga menegaskan hal yang sama.
"Jangan sampai produknya sudah sama, harganya juga sama dengan yang ada di toko. Orang tidak akan mau beli secara online," kata Heriyadi.
Apalagi, lanjutnya, toko online kemudian dibebani adanya ongkos kirim dan waktu pengiriman yang cukup lama. Oleh karena itu ia mengatakan toko online harus menawarkan nilai tambah.
"Selain harga yang lebih murah, logistik juga harus siap. Stok produk harus selalu ada dan siap kirim, karena karakter orang Indonesia itu nggak sabaran," ungkap Heriyadi.
Daya tahan dan konsistensi
Andi menambahkan, dalam membangun e-commerce, startup digital juga harus fokus pada satu bisnis model. Jangan menyediakan semua produk bagi semua orang.
Ia pernah melakukan kesalahan tersebut saat membangun Plasa.com, yang notabene ingin menyediakan semua produk bagi semua kalangan. Akibatnya, Plasa.com "keteteran".
Setelah fokus pada produk dan bisnis model, e-comerce juga harus memiliki persistensi alias daya tahan. Andi mengaku dirinya tak cukup kuat mempertahankan Plasa.com.
"Kaskus itu 12 tahun baru bisa kaya raya, sebelumnya biasa-biasa saja. Tetapi orang-orang Kaskus daya tahannya tinggi, mereka konsisten sampai keberhasilan diperoleh," kata Andi.
Ia mengaku menyesal karena tidak bisa sedikit bersabar. "Ini bisa jadi pelajaran untuk semua, bahwa mendirikan startup e-commerce itu harus persistent dan consistent," tutupnya.
Para pendiri sebaiknya tidak hanya fokus memikirkan sisi teknologi. Hal yang lebih penting adalah jenis dan ketersediaan produk yang dijual serta penguasaan bisnis.
Hal ini disampaikan Andi S. Boediman, mantan Chief Innovation Officer (CIO) Plasa.com dalam #Startuplokal Meet Up v.23 yang bertema E-commerce.
Andi berbagi pengalamannya ketika membangun Plasa.com. Andi kini adalah Direktur Ideosource dan pendiri Internasional Design School (IDS).
"Mengapa eBay bisa memiliki transaksi 5 juta dollar dari Indonesia saja? Karena eBay punya barang yang orang Indonesia ga bisa jual," jelas Andi dalam event yang digelar di kantor Microsoft Indonesia, Jakarta, Kamis (8/3/2012).
Andi mengatakan, Indonesia juga harus bisa begitu. "Kebanyakan website e-commerce trafficnya tinggi, tapi transaksi nol, karena orang datang hanya untuk membandingkan harga," tuturnya.
Cara mengelola ritel
Hal senada juga diungkapkan Benhard Soebiakto. Ben merupakan CEO Octovate Group Asia, pendiri Fimela.com yang juga akan merilis Fimela Shop.
Selain itu, Ben juga menjadi co-founder bagi startup wishkoo.com.
"Yang terpenting dalam perusahaan e-commerce bukan siapa CTO-nya, atau seluas apa networkingnya, tapi apakah founder sudah mengerti cara mengelola retail," kata Ben.
Menurutnya, pendiri harus tahu dulu bagaimana membangun toko. Termasuk kendala pemasaran, margin, stok barang hingga distribusi.
"Setelah itu, baru pelajari habit dan behaviour dari online buyer itu sendiri. Kalau teknologinya, saya rasa hampir semua founder startup digital sudah mengerti," jelas Ben.
Kesiapan logistik
Heriyadi Janwar mantan General Manager Portal dan Platform Management Plasa.com yang kini Platform Strategy Lead di Microsoft Indonesia juga menegaskan hal yang sama.
"Jangan sampai produknya sudah sama, harganya juga sama dengan yang ada di toko. Orang tidak akan mau beli secara online," kata Heriyadi.
Apalagi, lanjutnya, toko online kemudian dibebani adanya ongkos kirim dan waktu pengiriman yang cukup lama. Oleh karena itu ia mengatakan toko online harus menawarkan nilai tambah.
"Selain harga yang lebih murah, logistik juga harus siap. Stok produk harus selalu ada dan siap kirim, karena karakter orang Indonesia itu nggak sabaran," ungkap Heriyadi.
Daya tahan dan konsistensi
Andi menambahkan, dalam membangun e-commerce, startup digital juga harus fokus pada satu bisnis model. Jangan menyediakan semua produk bagi semua orang.
Ia pernah melakukan kesalahan tersebut saat membangun Plasa.com, yang notabene ingin menyediakan semua produk bagi semua kalangan. Akibatnya, Plasa.com "keteteran".
Setelah fokus pada produk dan bisnis model, e-comerce juga harus memiliki persistensi alias daya tahan. Andi mengaku dirinya tak cukup kuat mempertahankan Plasa.com.
"Kaskus itu 12 tahun baru bisa kaya raya, sebelumnya biasa-biasa saja. Tetapi orang-orang Kaskus daya tahannya tinggi, mereka konsisten sampai keberhasilan diperoleh," kata Andi.
Ia mengaku menyesal karena tidak bisa sedikit bersabar. "Ini bisa jadi pelajaran untuk semua, bahwa mendirikan startup e-commerce itu harus persistent dan consistent," tutupnya.
Usung Konsep Unik, Wishkoo Gandeng Mantan VJ MTV
JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan VJ MTV Indonesia, Daniel
Mananta, tak hanya piawai menjadi VJ dan MC. Daniel kini mulai memasuki
dunia bisnis. Sukses berbisnis offline dengan brand "Damn I Love Indonesia", Daniel kini mulai melirik bisnis online. Tak hanya satu, Daniel langsung terjun membangun dua website e-commerce.
Salah satu website e-commerce yang dibangunnya adalah versi online dari brand "Damn I Love Indonesia". Meski masih baru dan belum sesukses versi offline, Daniel mengaku serius menjalankan website tersebut.
"Versi online-nya memang masih hard sale, menyediakan produk-produk yang sudah ada di toko-toko cabang di beberapa mal. Tapi ke depannya, saya akan membuat perubahan karena saya serius ingin menjalani versi online ini sebagai e-commerce. Strateginya apa? Masih rahasia," ungkap Daniel dalam #Startuplokal Meet Up v.23 di kantor Microsoft Indonesia, Kamis (8/3/2012).
Daniel mengakui, online shopping akan menjadi tren di Indonesia sehingga ia ingin serius di bidang ini. Daniel lebih memilih membangun e-commerce dibandingkan sosial media, karena menurutnya e-commerce bisa lebih bertahan lebih dari 10 tahun, dibandingkan sosial media yang bisa tenggelam setelah beberapa tahun.
Membuat strategi marketing untuk startup baru
Selain menjadi founder versi online dari "Damn I Love Indonesia", Daniel kini menjadi co-founder untuk sebuah startup yaitu Wishkoo.com. Website ini merupakan website e-commerce yang dilengkapi dengan sosial media.
"Saya berperan sebagai perumus ide dan melakukan kegiatan operasional. Daniel berperan merumuskan strategi marketing," jelas Chaya Kusuma, founder Wishkoo.com saat ditemui Kompas.com. Selain Daniel, ada satu orang co-founder lagi, yakni Ben Subiakto.
Chaya mengenal Daniel dari Ben Subiakto. Ketika Chaya menyampaikan konsep Wishkoo.com kepada Daniel, keduanya merasakan kecocokan sehingga Daniel pun memilih bergabung. "Daniel sangat aktif memberikan insight," ungkap Chaya.
Tentang Wishkoo.com
Wishkoo.com telah melakukan soft launching pada 14 Februari 2012 dan akan segera menggelar big launching setelah tanggal 14 April 2012.
Mengapa mereka memilih tanggal itu? Karena sejak 14 Februari hingga 14 April 2012, Wishkoo.com mengadakan promo berhadiah BlackBerry, busana karya desainer, dan tiket berlibur. Keterangan lengkap bisa diakses di www.wishkoo.com
Website ini merupakan e-commerce yang menjual produk dengan mengandalkan jaringan sosial media. Pengguna bisa login dengan menggunakan akun Facebook atau membuat akun baru di Wishkoo.
Setelah mendaftar menjadi anggota, pengguna bisa memasukkan keinginannya di dalam kotak "Wishlist". Teman-teman pengguna akan mewujudkan keinginan tersebut dengan cara patungan.
Misalnya ingin punya iPod saat ulang tahun, maka teman-teman akan patungan untuk membeli iPod yang dijual di wishkoo.com. Untuk memancing orang lain memberikan apa yang diinginkan, pengguna bisa menuliskan janjinya di kotak "Kaul".
Misalnya menulis, "Jika teman-teman membelikan saya iPod, saya akan berjalan mundur dari Bunderan HI ke Pacific Place". Janji atau kaul ini bisa berisi apa saja, tergantungan kesanggupan.
Chaya mengaku, sejak launching, anggota Wishkoo.com sudah berjumlah 8 ribu orang, yang sebagian besar login menggunakan akun baru, bukan akun Facebook.
"Ini menunjukkan mereka niat banget. Kebanyakan yang sekarang mendaftar itu pelajar dan mahasiswa, buat lucu-lucuan," jelas Chaya. Ia mengaku, Wishkoo.com memang menargetkan pengguna usia 18 hingga 30 tahun.
Untuk sementara, Wishkoo masih berjalan di format desktop. Ke depan, Chaya sudah berencana untuk membuat aplikasi untuk perangkat bergerak.
Salah satu website e-commerce yang dibangunnya adalah versi online dari brand "Damn I Love Indonesia". Meski masih baru dan belum sesukses versi offline, Daniel mengaku serius menjalankan website tersebut.
"Versi online-nya memang masih hard sale, menyediakan produk-produk yang sudah ada di toko-toko cabang di beberapa mal. Tapi ke depannya, saya akan membuat perubahan karena saya serius ingin menjalani versi online ini sebagai e-commerce. Strateginya apa? Masih rahasia," ungkap Daniel dalam #Startuplokal Meet Up v.23 di kantor Microsoft Indonesia, Kamis (8/3/2012).
Daniel mengakui, online shopping akan menjadi tren di Indonesia sehingga ia ingin serius di bidang ini. Daniel lebih memilih membangun e-commerce dibandingkan sosial media, karena menurutnya e-commerce bisa lebih bertahan lebih dari 10 tahun, dibandingkan sosial media yang bisa tenggelam setelah beberapa tahun.
Membuat strategi marketing untuk startup baru
Selain menjadi founder versi online dari "Damn I Love Indonesia", Daniel kini menjadi co-founder untuk sebuah startup yaitu Wishkoo.com. Website ini merupakan website e-commerce yang dilengkapi dengan sosial media.
"Saya berperan sebagai perumus ide dan melakukan kegiatan operasional. Daniel berperan merumuskan strategi marketing," jelas Chaya Kusuma, founder Wishkoo.com saat ditemui Kompas.com. Selain Daniel, ada satu orang co-founder lagi, yakni Ben Subiakto.
Chaya mengenal Daniel dari Ben Subiakto. Ketika Chaya menyampaikan konsep Wishkoo.com kepada Daniel, keduanya merasakan kecocokan sehingga Daniel pun memilih bergabung. "Daniel sangat aktif memberikan insight," ungkap Chaya.
Tentang Wishkoo.com
Wishkoo.com telah melakukan soft launching pada 14 Februari 2012 dan akan segera menggelar big launching setelah tanggal 14 April 2012.
Mengapa mereka memilih tanggal itu? Karena sejak 14 Februari hingga 14 April 2012, Wishkoo.com mengadakan promo berhadiah BlackBerry, busana karya desainer, dan tiket berlibur. Keterangan lengkap bisa diakses di www.wishkoo.com
Website ini merupakan e-commerce yang menjual produk dengan mengandalkan jaringan sosial media. Pengguna bisa login dengan menggunakan akun Facebook atau membuat akun baru di Wishkoo.
Setelah mendaftar menjadi anggota, pengguna bisa memasukkan keinginannya di dalam kotak "Wishlist". Teman-teman pengguna akan mewujudkan keinginan tersebut dengan cara patungan.
Misalnya ingin punya iPod saat ulang tahun, maka teman-teman akan patungan untuk membeli iPod yang dijual di wishkoo.com. Untuk memancing orang lain memberikan apa yang diinginkan, pengguna bisa menuliskan janjinya di kotak "Kaul".
Misalnya menulis, "Jika teman-teman membelikan saya iPod, saya akan berjalan mundur dari Bunderan HI ke Pacific Place". Janji atau kaul ini bisa berisi apa saja, tergantungan kesanggupan.
Chaya mengaku, sejak launching, anggota Wishkoo.com sudah berjumlah 8 ribu orang, yang sebagian besar login menggunakan akun baru, bukan akun Facebook.
"Ini menunjukkan mereka niat banget. Kebanyakan yang sekarang mendaftar itu pelajar dan mahasiswa, buat lucu-lucuan," jelas Chaya. Ia mengaku, Wishkoo.com memang menargetkan pengguna usia 18 hingga 30 tahun.
Untuk sementara, Wishkoo masih berjalan di format desktop. Ke depan, Chaya sudah berencana untuk membuat aplikasi untuk perangkat bergerak.
Komunitas Startuplokal Jadi Pusat Publikasi Bisnis Digital
JAKARTA, KOMPAS.com - Komunitas Startuplokal tak hanya
rutin mengadakan pertemuan bulanan. Komunitas ini juga kini menjadi
pusat publikasi berita dari startup-startup digital di Indonesia. Salah
satunya adalah informasi lowongan pekerjaan.
Perusahaan digital yang baru dibangun dan membutuhkan pekerja, bisa mengirimkan informasi lowongan kerja ke all@startuplokal.org dengan subjek email: "Lowongan pekerjaan". Sebaliknya, bagi pencari kerja juga bisa mengirimkan CV ke alamat email komunitas Startuplokal tersebut.
Info-info lainnya seperti undangan peluncuran produk juga bisa dikirimkan melalui email. Insiator komunitas Startuplokal akan mengumumkannya dalam setiap kali pertemuan diadakan.
Berikut adalah pengumuman-pengumuman yang dikumpulkan dari email dan diumumkan dalam #Startuplokal Meet Up v.23 di kantor Microsoft Indonesia, Kamis (8/3/2012) :
1. Jakarta Founder Institute telah meluluskan angkatan pertamanya
Dari 132 orang yang mendaftar, 43 orang yang diterima di program, JKTFI meluluskan 13 founder dengan 8 startup. Kedelapan startup tersebut adalah Abilities, Eductory, Fokado, Ifecta, Mitra Micro, Socientix, Stilomo, dan Wujudkan.
2. Perkenalan WGChat.com
WGChat.com hadir sebagai solusi, memungkinkan perusahaan memiliki akun YM yang selalu online, dengan arsip percakapan terpusat. YM ini dapat diakses secara langsung oleh seluruh tim costumer service dengan tampilan statistik costumer yang akan sangat membantu pengambilan keputusan.
3. Cooming Soon : Kucari.com
Merupakan situs e-commerce atau belanja online peralatan industri, alat teknik, alat uji, perkakas, GPS, dan peralatan lainnya. KUcari.com akan segera launching pada 21 Maret 2012.
4. Private Beta : PrivaTutor.com
Online Platform untuk aktivitas belajar-mengajar secara privat. Akan dirilis fase private beta pada, tanggal 15 Maret 2012. Penjelasan lebih lanjutnya di privatutor.com.
5. Launching SpotDokter dan Telunjuk.com
Dua startup yang diinkubasi oleh Project Eden telah mengadakan launching produk mereka. Startup tersbeut adalah Telunjuk.com (layanan mencari dan membandingkan harga laptop, handphone, tiket), dan SpotDokter (aplikasi kesehatan).
6. Info : Digital Worshipper
Untuk anggota komunitas startup yang beragam Kristen, bisa bergabung di Kebaktian Perdana Digital Worshipper pada Selasa,13 Maret 2012, mulai pukul 18.30 WIB di Project Eden Campus, Graha 9 Jl. Penataran No. 9 Menteng.
7. Soft Launch Startsoup.com
Berita, artikel, roundup, komunitas, dan event tentang startup Indonesia akan di-update ke email pengunjung website ini jika melakukan subscribe.
8. Microsoft bekerja sama dengan tiga startup : gantibaju.com, urbanesia.com, dan fupei.com dalam hal penggabungan platform Microsoft dan Open Source.
Perusahaan digital yang baru dibangun dan membutuhkan pekerja, bisa mengirimkan informasi lowongan kerja ke all@startuplokal.org dengan subjek email: "Lowongan pekerjaan". Sebaliknya, bagi pencari kerja juga bisa mengirimkan CV ke alamat email komunitas Startuplokal tersebut.
Info-info lainnya seperti undangan peluncuran produk juga bisa dikirimkan melalui email. Insiator komunitas Startuplokal akan mengumumkannya dalam setiap kali pertemuan diadakan.
Berikut adalah pengumuman-pengumuman yang dikumpulkan dari email dan diumumkan dalam #Startuplokal Meet Up v.23 di kantor Microsoft Indonesia, Kamis (8/3/2012) :
1. Jakarta Founder Institute telah meluluskan angkatan pertamanya
Dari 132 orang yang mendaftar, 43 orang yang diterima di program, JKTFI meluluskan 13 founder dengan 8 startup. Kedelapan startup tersebut adalah Abilities, Eductory, Fokado, Ifecta, Mitra Micro, Socientix, Stilomo, dan Wujudkan.
2. Perkenalan WGChat.com
WGChat.com hadir sebagai solusi, memungkinkan perusahaan memiliki akun YM yang selalu online, dengan arsip percakapan terpusat. YM ini dapat diakses secara langsung oleh seluruh tim costumer service dengan tampilan statistik costumer yang akan sangat membantu pengambilan keputusan.
3. Cooming Soon : Kucari.com
Merupakan situs e-commerce atau belanja online peralatan industri, alat teknik, alat uji, perkakas, GPS, dan peralatan lainnya. KUcari.com akan segera launching pada 21 Maret 2012.
4. Private Beta : PrivaTutor.com
Online Platform untuk aktivitas belajar-mengajar secara privat. Akan dirilis fase private beta pada, tanggal 15 Maret 2012. Penjelasan lebih lanjutnya di privatutor.com.
5. Launching SpotDokter dan Telunjuk.com
Dua startup yang diinkubasi oleh Project Eden telah mengadakan launching produk mereka. Startup tersbeut adalah Telunjuk.com (layanan mencari dan membandingkan harga laptop, handphone, tiket), dan SpotDokter (aplikasi kesehatan).
6. Info : Digital Worshipper
Untuk anggota komunitas startup yang beragam Kristen, bisa bergabung di Kebaktian Perdana Digital Worshipper pada Selasa,13 Maret 2012, mulai pukul 18.30 WIB di Project Eden Campus, Graha 9 Jl. Penataran No. 9 Menteng.
7. Soft Launch Startsoup.com
Berita, artikel, roundup, komunitas, dan event tentang startup Indonesia akan di-update ke email pengunjung website ini jika melakukan subscribe.
8. Microsoft bekerja sama dengan tiga startup : gantibaju.com, urbanesia.com, dan fupei.com dalam hal penggabungan platform Microsoft dan Open Source.
Pakai "Telunjuk" untuk Cari Harga Ponsel dan Laptop
JAKARTA, KOMPAS.com - Telunjuk Komputasi Indonesia secara resmi meluncurkan layanan pencarian dan pembanding harga khusus untuk gadget dan travel. Portal yang diberi nama Telunjuk.com ini merupakan perusahaan start-up dibawah bimbingan Project Eden.
Telunjuk.com menggunakan teknologi automatic - crawling dalam mengumpulkan data-data produk yang dijual online di Indonesia. Saat ini, kategori pencarian produk yang tersedia adalah laptop, ponsel, dan tiket pesawat.
"Telunjuk.com akan memberikan rekomendasi produk, harga, dan tempat berbelanja yang sesuai dengan keinginan pengunjung dengan cara yang mudah dan dalam waktu yang cepat," jelas Redya Febriyanto, pendiri dan CEO Telunjuk.com dalam jumpa pers di Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (29/2/2012).
"Kalau tidak ada Telunjuk.com, biasanya pengguna internet membutuhkan waktu berjam-jam membandingkan produk di banyak halaman web hanya untuk menemukan produk yang diinginkan. Itulah alasan kami untuk menghadirkan solusi ini," tambahnya.
Selain pencarian berdasarkan spesifikasi dan harga, salah stau fitur unggulan dari Telunjuk.com adalah PriceAlert. Fitur ini akan mengirimkan notifikasi kepada pengunjung apabila produk yang dicari mengalami penurunan harga sesuai dengan budget yang dimiliki.
Cara mengakses Telunjuk.com
Saat ini Telunjuk.com dapat diakses melalui website, www.telunjuk.com dan mobile site, m.telunjuk.com.
Bahkan, pencarian tiket termurah bisa dilakukan melalui Twitter dengan melakukan tweet berformat : @telunjukdotcom < kota tujuan> < tanggal keberangkatan>
Ke depan, akan hadir aplikasi Telunjuk.com untuk platform BlackBerry, Android, iOS, dan Windows Phone.
Telunjuk.com menggunakan teknologi automatic - crawling dalam mengumpulkan data-data produk yang dijual online di Indonesia. Saat ini, kategori pencarian produk yang tersedia adalah laptop, ponsel, dan tiket pesawat.
"Telunjuk.com akan memberikan rekomendasi produk, harga, dan tempat berbelanja yang sesuai dengan keinginan pengunjung dengan cara yang mudah dan dalam waktu yang cepat," jelas Redya Febriyanto, pendiri dan CEO Telunjuk.com dalam jumpa pers di Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (29/2/2012).
"Kalau tidak ada Telunjuk.com, biasanya pengguna internet membutuhkan waktu berjam-jam membandingkan produk di banyak halaman web hanya untuk menemukan produk yang diinginkan. Itulah alasan kami untuk menghadirkan solusi ini," tambahnya.
Selain pencarian berdasarkan spesifikasi dan harga, salah stau fitur unggulan dari Telunjuk.com adalah PriceAlert. Fitur ini akan mengirimkan notifikasi kepada pengunjung apabila produk yang dicari mengalami penurunan harga sesuai dengan budget yang dimiliki.
Cara mengakses Telunjuk.com
Saat ini Telunjuk.com dapat diakses melalui website, www.telunjuk.com dan mobile site, m.telunjuk.com.
Bahkan, pencarian tiket termurah bisa dilakukan melalui Twitter dengan melakukan tweet berformat : @telunjukdotcom
Ke depan, akan hadir aplikasi Telunjuk.com untuk platform BlackBerry, Android, iOS, dan Windows Phone.
Ketika Calon Dokter Jadi Pengusaha Start-up Digital
KOMPAS.com - Sejak Agustus 2011, Project Eden telah
memilih 3 start-up untuk di-inkubasi. Satu dari tiga start-up itu, telah
meluncurkan produknya, Kamis (9/2/2012).
PT. SpotMed Group, resmi meluncurkan aplikasi untuk ponsel pintar, bernama SpotDokter. Aplikasi ini membantu pengguna menemukan dokter dan rumah sakit terdekat.
SpotDokter juga dilengkapi dengan peta Google Maps untuk memudahkan pencarian lokasi. Selain itu, ada pula artikel-artikel kesehatan yang bisa membantu pengguna menangani gejala penyakit yang ringan.
"Saat tim Spotdokter memasukkan prototype ide mereka ke Project Eden, kami langsung tertarik, karena selama ini kami belum menemukan ide tentang kesehatan di antara ide-ide yang diajukan kepada kami," ungkap Calvin Kizana.
Calvin mengungkapkan hal itu dalam jumpa pers di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (9/2/2012). Calvin adalah salah satu tim penyelenggara Project Eden yang menjadi mentor SpotDokter.
Calon Dokter
Calvin mengaku, selama 3 hingga 4 bulan inkubasi, tim SpotDokter lebih banyak mengembangkan produk mereka sendiri. Sebagian besar mereka lakukan tanpa bantuan Project Eden.
"Padahal mereka calon dokter semua. Saya sangat mengapresiasi mereka, calon dokter yang nantinya akan terjun ke dunia TI dengan serius," jelas Calvin.
SpotDokter didirikan oleh 3 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.
Tiga orang tersebut adalah Mendy Candella sebagai Chief Executive Officer (CEO), Pascal Christian sebagai Chief Technology Officer (CTO), dan Jaka Pradipta sebagai Chief Marketing Officer (CMO).
Dari Hobi
Mendy dan Jaka awalnya tidak pernah terpikir akan berkecimpung di dunia TI, apalagi membangun start-up digital.
Namun, karena Pascal sangat hobi bermain hal-hal yang bersifat teknis dan sering mengikuti acara-acara start-up digital, Pascal pun mengajak dua temannya untuk mengikuti Project Eden.
Ternyata ide mereka ditanggapi oleh tim Project Eden. Sejak Agustus 2011, tim SpotDokter resmi diinkubasi oleh Project Eden dan kini telah meluncurkan produk.
Rencana Ke Depan
"Dalam waktu dekat kami akan menyiapkan SpotDokter untuk ponsel low end. Kami juga masih akan membuat proyek-proyek lainnya terkait kesehatan, bukan hanya aplikasi SpotDokter. Nantinya akan bersifat lebih spesifik. Tunggu saja," ungkap Jaka.
Kini, aplikasi SpotDokter sudah tersedia di Android Market dan BlackBerry App World. Apple App Store menyusul di bulan Maret atau April 2012. Aplikasi ini bisa diunduh dan digunakan secara gratis.
"Untuk monetizing SpotDokter, target kami saat ini adalah membiarkan SpotDokter digunakan oleh sebanyak-banyaknya pengguna ponsel. Pemasukan akan menyusul," tutup Calvin.
PT. SpotMed Group, resmi meluncurkan aplikasi untuk ponsel pintar, bernama SpotDokter. Aplikasi ini membantu pengguna menemukan dokter dan rumah sakit terdekat.
SpotDokter juga dilengkapi dengan peta Google Maps untuk memudahkan pencarian lokasi. Selain itu, ada pula artikel-artikel kesehatan yang bisa membantu pengguna menangani gejala penyakit yang ringan.
"Saat tim Spotdokter memasukkan prototype ide mereka ke Project Eden, kami langsung tertarik, karena selama ini kami belum menemukan ide tentang kesehatan di antara ide-ide yang diajukan kepada kami," ungkap Calvin Kizana.
Calvin mengungkapkan hal itu dalam jumpa pers di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (9/2/2012). Calvin adalah salah satu tim penyelenggara Project Eden yang menjadi mentor SpotDokter.
Calon Dokter
Calvin mengaku, selama 3 hingga 4 bulan inkubasi, tim SpotDokter lebih banyak mengembangkan produk mereka sendiri. Sebagian besar mereka lakukan tanpa bantuan Project Eden.
"Padahal mereka calon dokter semua. Saya sangat mengapresiasi mereka, calon dokter yang nantinya akan terjun ke dunia TI dengan serius," jelas Calvin.
SpotDokter didirikan oleh 3 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.
Tiga orang tersebut adalah Mendy Candella sebagai Chief Executive Officer (CEO), Pascal Christian sebagai Chief Technology Officer (CTO), dan Jaka Pradipta sebagai Chief Marketing Officer (CMO).
Dari Hobi
Mendy dan Jaka awalnya tidak pernah terpikir akan berkecimpung di dunia TI, apalagi membangun start-up digital.
Namun, karena Pascal sangat hobi bermain hal-hal yang bersifat teknis dan sering mengikuti acara-acara start-up digital, Pascal pun mengajak dua temannya untuk mengikuti Project Eden.
Ternyata ide mereka ditanggapi oleh tim Project Eden. Sejak Agustus 2011, tim SpotDokter resmi diinkubasi oleh Project Eden dan kini telah meluncurkan produk.
Rencana Ke Depan
"Dalam waktu dekat kami akan menyiapkan SpotDokter untuk ponsel low end. Kami juga masih akan membuat proyek-proyek lainnya terkait kesehatan, bukan hanya aplikasi SpotDokter. Nantinya akan bersifat lebih spesifik. Tunggu saja," ungkap Jaka.
Kini, aplikasi SpotDokter sudah tersedia di Android Market dan BlackBerry App World. Apple App Store menyusul di bulan Maret atau April 2012. Aplikasi ini bisa diunduh dan digunakan secara gratis.
"Untuk monetizing SpotDokter, target kami saat ini adalah membiarkan SpotDokter digunakan oleh sebanyak-banyaknya pengguna ponsel. Pemasukan akan menyusul," tutup Calvin.
Mau Ke Mana Start Up Digital Pasca Boost Conference?
KOMPAS.com - Boost Conference, adalah konferensi yang mempertemukan pendiri startup di Indonesia dengan pembicara dari Silicon Valley dan Jepang secara gratis. Harapannya, banyak tercipta pengusaha start up digital Indonesia yang mampu go international.
Target diadakannya acara ini tak semata uang, melainkan membangun hubungan baik antara pendiri start up Indonesia dengan investor, pengusaha start up, dan pengamat start up dari Silicon Valley dan Jepang.
"Target acara ini untuk start up adalah getting knowledge, bukan getting money, jadi kami tidak menyediakan pitching, melainkan networking dan mentoring," jelas Fida Heyder, Boost Asia Commitee, saat ditemui di Ballroom Hotel Inter Continental, Jakarta, Rabu (18/1/2012).
Fida menambahkan, panitia Boost Conference melakukan seleksi terhadap 50 start up yang akan mengikuti acara ini. Seleksi dilakukan secara online, dan start up yang terpilih merupakan start up yang sudah berdiri, sudah memiliki revenue, dan memiliki pengguna yang menjanjikan.
Ada pula start up yang diajukan oleh inkubator seperti Merah Putih Inc atau pemodal ventura seperti East Venture. Total 50 start up ini disebut Top 50, yang berhak mendapatkan mentoring selama acara berlangsung.
Boost Conference digelar di Ballroom Hotel Inter Continental, Jakarta, tanggal 17 dan 18 Januari 2012. Acara ini dihadiri oleh pembicara dari pengusaha digital yang sudah sukses di Silicon Valley dan Jepang, serta investor.
Selama dua hari, 50 start up mengikuti serangkaian diskusi panel mengenai bekal dasar mendirikan start up, lalu di penghujung acara ditutup dengan mentoring. Sebanyak 11 grup dibentuk, disesuaikan dengan kategori start up yang didirikan. Mentornya pun disesuaikan dengan kategori tersebut.
"Kemarin mereka sudah menyimak bagaimana para mentor membagi pengalaman mendirikan start up dan bertahan. Sebaliknya, mentor juga mendengarkan cerita teman-teman start up dan memberikan solusi terhadap permasalahan nyata yang selama ini mereka hadapi," ungkap Fida.
Hari kedua, para pendiri Start up mendapat kesempatan menunjukkan produk mereka kepada para investor. Panitia tak ingin menyebutnya sebagai pitching.
Sesi "bukan pitching" itu disebut sebagai ajang promosi untuk mengenalkan produk dan membincangkan kemungkinan rencana jangka panjang. "Kami ingin menjadi jembatan agar kedua belah pihak bisa saling mengenal," tambah Fida.
Rencana Jangka Panjang dengan XL
Meski Fida tak bisa memberi kepastian apakah Boost akan menjadi acara tahunan, namun acara ini ternyata mendapat sambutan dari provider XL untuk program jangka panjang.
Setelah acara Boost ini selesai, 50 pengusaha start up yang menjaid peserta diberi kesempatan untuk mengajukan proposal bisnis ke XL untuk mendapat dukungan finansial bagi pengembangan aplikasi mobile.
"XL akan memilih aplikasi mobile terbaik dari produk yang dimiliki 50 pengusaha start up yang partisipasi di Boost. Aplikasi mobile yang terpilih akan mendapat kontrak eksklusif dari XL dan bisa mengembangkan aplikasinya di berbagai perangkat ponsel," ujar Fida.
Sedangkan untuk kerja sama jangka panjang dengan investor yang hadir sebagai pembicara dan mentor, panitia Boost menyerahkan keputusan tersebut kepada masing-masing investor.
Untuk penyelenggaraan Boost tahun-tahun selanjutnya, panitia masih akan menyimak feedback yang bisa dikirimkan melalui polling online.
Logo StartUp Lokal Ini Dia Bekal Dasar Dirikan Startup Digital
KOMPAS.com - Boost Conference adalah konferensi yang mempertemukan pengusaha digital Indonesia dengan pembicara dari Silicon Valley dan Jepang secara gratis.
Harapannya, banyak tercipta pengusaha digital lokal yang mampu go international. Selain diskusi panel, acara ini juga memberikan mentorship kepada pengusaha startup digital yang hadir.
Boost Conference diadakan selama dua hari, yakni 17 dan 18 Januari 2012. Acara ini dihadiri 44 startup digital Indonesia, dimana masing-masing startup mengirimkan dua orang delegasi untuk mentorship.
Sebelum mentorship, di hari pertama digelar empat diskusi panel tentang dasar-dasar mendirikan startup digital. Berikut adalah rangkuman diskusi panel yang digelar dalam Boost Conference pada hari pertama, Selasa (17/1/2012).
Dirikan Startup untuk Selesaikan Masalah
Mendirikan startup harus dimulai dengan motivasi untuk memecahkan masalah. Jika tidak ada masalah yang hendak diselesaikan, maka startup akan sulit diterima di kalangan masyarakat.
Moderator panel, Andy Zain, mencontohkan ide membuat Ngojek.com yang memberi solusi terhadap masalah kemacetan di Jakarta, yakni menyediakan layanan ojek yang bisa dipesan melalui website.
Menurut Brent Hurley (salah satu anggota tim pendiri YouTube), Indonesia memiliki banyak sekali permasalahan yang sebetulnya bisa menjadi lahan bagi pengusaha startup digital Indonesia untuk bereksplorasi. "Mudah bagi pengusaha start up digital Indonesia untuk menemukan masalah, bahkan mencari masalah untuk diselesaikan sendiri," ungkap Hurley.
Mulai Membangun Produk
Masalah yang sering terjadi di kalangan startup digital di Indonesia adalah mulai membangun produk. Kebanyakan pendiri startup ragu untuk membangun produk karena banyak pertimbangan. Padahal, jika ide sudah diolah dan bisnis model sudah disusun, sebaiknya startup digital segera memulai membangun produk.
Hal ini dicontohkan Tatsuya Mizuguchi (Co-founder and Chief Creative Officer - Q Entertainment) yang pernah membangun game Sega Rally Championship bersama Sega tahun 2004. Saat itu, mobil yang digunakan di dalam game adalah mobil Toyota.
Seiring berkembangnya game Sega tersebut, Toyota kemudian menghadirkan mobil aslinya untuk dimofikasi ke dalam mesin game, sehingga pemain dapat memainkan game ini di dalam mobil Toyota asli. "Kuncinya adalah bangun produk awal, lalu perlahan skilling your product," ujar Mizuguchi.
Marketing Hemat
Setelah membangun produk, satu hal yang bisa membantu perkembangan produk atau layanan adalah marketing. Kegiatan marketing bisa dihemat dengan cara memanfaatkan fungsi sosial media. Danny Wirianto (pendiri MindTalk) mengatakan, contoh kongkret startup Indonesia yang melakukan marketing hemat adalah Kaskus.
Dengan hanya mengandalkan format forum, Kaskus mampu menjadi portal dengan pengunjung lebih dari 40 juta orang per bulan. Padahal, Kaskus tidak pernah melakukan marketing dengan biaya mahal. Promosi berjalan menyebar ke seluruh Indonesia hanya dari cerita seseorang ke seseorang lainnya. "Sekarang, Kaskus punya nilai jual untuk mencari iklan," jelas Danny.
Sumber Dana dan Estimasi Jangka Panjang
Setelah startup dibangun, tentu akan membutuhkan dana lebih banyak untuk kegiatan operasional sehari-hari maupun untuk kegiatan jangka panjang. Ketika memutuskan mencari dana, perusahaan startup digital harus merumuskan estimasi kebutuhan dana untuk minimal lima tahun ke depan. Hal ini disampaikan Jia Shen, co-founder dan CEO Chocobot games.
Harapannya, banyak tercipta pengusaha digital lokal yang mampu go international. Selain diskusi panel, acara ini juga memberikan mentorship kepada pengusaha startup digital yang hadir.
Boost Conference diadakan selama dua hari, yakni 17 dan 18 Januari 2012. Acara ini dihadiri 44 startup digital Indonesia, dimana masing-masing startup mengirimkan dua orang delegasi untuk mentorship.
Sebelum mentorship, di hari pertama digelar empat diskusi panel tentang dasar-dasar mendirikan startup digital. Berikut adalah rangkuman diskusi panel yang digelar dalam Boost Conference pada hari pertama, Selasa (17/1/2012).
Dirikan Startup untuk Selesaikan Masalah
Mendirikan startup harus dimulai dengan motivasi untuk memecahkan masalah. Jika tidak ada masalah yang hendak diselesaikan, maka startup akan sulit diterima di kalangan masyarakat.
Moderator panel, Andy Zain, mencontohkan ide membuat Ngojek.com yang memberi solusi terhadap masalah kemacetan di Jakarta, yakni menyediakan layanan ojek yang bisa dipesan melalui website.
Menurut Brent Hurley (salah satu anggota tim pendiri YouTube), Indonesia memiliki banyak sekali permasalahan yang sebetulnya bisa menjadi lahan bagi pengusaha startup digital Indonesia untuk bereksplorasi. "Mudah bagi pengusaha start up digital Indonesia untuk menemukan masalah, bahkan mencari masalah untuk diselesaikan sendiri," ungkap Hurley.
Mulai Membangun Produk
Masalah yang sering terjadi di kalangan startup digital di Indonesia adalah mulai membangun produk. Kebanyakan pendiri startup ragu untuk membangun produk karena banyak pertimbangan. Padahal, jika ide sudah diolah dan bisnis model sudah disusun, sebaiknya startup digital segera memulai membangun produk.
Hal ini dicontohkan Tatsuya Mizuguchi (Co-founder and Chief Creative Officer - Q Entertainment) yang pernah membangun game Sega Rally Championship bersama Sega tahun 2004. Saat itu, mobil yang digunakan di dalam game adalah mobil Toyota.
Seiring berkembangnya game Sega tersebut, Toyota kemudian menghadirkan mobil aslinya untuk dimofikasi ke dalam mesin game, sehingga pemain dapat memainkan game ini di dalam mobil Toyota asli. "Kuncinya adalah bangun produk awal, lalu perlahan skilling your product," ujar Mizuguchi.
Marketing Hemat
Setelah membangun produk, satu hal yang bisa membantu perkembangan produk atau layanan adalah marketing. Kegiatan marketing bisa dihemat dengan cara memanfaatkan fungsi sosial media. Danny Wirianto (pendiri MindTalk) mengatakan, contoh kongkret startup Indonesia yang melakukan marketing hemat adalah Kaskus.
Dengan hanya mengandalkan format forum, Kaskus mampu menjadi portal dengan pengunjung lebih dari 40 juta orang per bulan. Padahal, Kaskus tidak pernah melakukan marketing dengan biaya mahal. Promosi berjalan menyebar ke seluruh Indonesia hanya dari cerita seseorang ke seseorang lainnya. "Sekarang, Kaskus punya nilai jual untuk mencari iklan," jelas Danny.
Sumber Dana dan Estimasi Jangka Panjang
Setelah startup dibangun, tentu akan membutuhkan dana lebih banyak untuk kegiatan operasional sehari-hari maupun untuk kegiatan jangka panjang. Ketika memutuskan mencari dana, perusahaan startup digital harus merumuskan estimasi kebutuhan dana untuk minimal lima tahun ke depan. Hal ini disampaikan Jia Shen, co-founder dan CEO Chocobot games.
Investor Jepang Siap "Jaring" Startup Potensial
JAKARTA, KOMPAS.com - East Ventures adalah venture capital
pertama yang melakukan investasi untuk startup di Indonesia. Selama dua
tahun berturut-turut, East Venture telah sukses menyelenggarakan
Jakarta Ventures Night, dimana investor, korporasi, dan entrepreneur
(kurang lebih 30 orang) dari Jepang, hadir untuk menyimak "pitching"
yang dilakukan para pendiri startup.
"Tahun ketiga ini lebih spesial, karena kami menambahkan sesi pitching dari startup yang sudah mengikuti program inkubasi kami selama 100 hari. Dua tahun sebelumnya, Jakarta Ventures Night hanya diisi pitching dari para startup baik anggota East Venture maupun di luar East Venture," ujar Wilson Cuaca, Managing Partner East Venture saat ditemui Kompas.com di acara Jakarta Ventures Night di Ballroom A, Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (12/01/2012).
Program inkubasi yang dilakukan oleh East Venture ini dinamakan East Venture Alpha. Pada awal September 2011, selama dua minggu East Venture membuka pendaftaran bagi startup yang telah memiliki ide pendirian sebuah startup. Dari 80 pendaftar, terpilih 6 startup yang akan mengikuti Inkubasi selama 100 hari. Setelah 100 hari tersebut, keenam startup ini harus sudah memiliki produk yang sudah jadi.
"Selama 100 hari, mereka bekerja di kantor kami, mengikuti mentorship dan membangun produk mereka di kantor kami. Maka, setelah 100 hari, mereka harus sudah memiliki sebuah produk yang bisa dipamerkan malam ini dan dipresentasikan di hadapan para investor," jelas Wilson.
Setelah Jakarta Ventures Night, akan dilanjutkan dengan acara East Venture Angels Network, dalam waktu dekat. Acara ini akan mempertemukan "angel investor" dengan para startup di Indonesia, baik anggota East Venture maupun di luar keanggotaan East Venture.
"Kalau investor yang hadir sekarang adalah yang biasanya investasi dalam jumlah besar. Sedangkan startup kita hanya membutuhkan investasi yang tidak terlalu besar. Jadi "angel investor" bisa membantu memberikan funding yang lebih kecil," tambahnya.
Para mentor yang memberikan bimbingan dan pelatihan dalam East Venture Alpha adalah Cyril Ebersweiler (China Accelerator), Leo Haryono (Direktur Macys.com), Jia Shen (founder Rock You), Satya Witoelar (founder Yahoo! Koprol), Lawrence Ng (Entrepreneur dan Investor), serta Shintaro Yamada (General Manager Zynga, Jepang).
Berikut adalah nama-nama startup dari East Venture Alpha yang mengikuti pitching dalam Jakarta Ventures Capital :
1. Promoote.com
Merupakan freemium business model yang berisi testimonial, foto, video, dan peta, untuk mencari sebuah rekomendasi terpercaya terhadap sebuah produk atau layanan. Inti dari layanan dalam website ini adalah menemukan, membandingkan, dan hingga membantu memesan (booking) sebuah layanan di suatu tempat.
2. Whappagames.com
Adalah multiplayer mobile game yang akan menawarkan portal game khusus platform flash game, yang gratis dan mudah dimainkan. Game pertama yang mereka buat saat ini adalah Asylon World, casual RPG game dengan tema fantasi, dilengkapi touch gesture base comand dan bisa dimainkan dengan multiplayer gamer. Game ini berjalan di platform Android. Saat ini Whappagames sedang mengajukan proposal ke publisher Square Enix dan Chillingo.
3. Buzzle Technology
Menyediakan aplikasi di Android dan BlackBerry, yakni Buzzle Mal. Sebuah aplikasi yang membantu untuk menavigasi sebuah mal,mencari diskon-diskon yang sedang ditawarkan, juga memberikan reward setiap kali check ini di sebuah mal. Reward ini nantinya bisa ditukar dengan penawaran diskon tertentu yang ditawarkan mal.
4. Red Eclipse Game
Merupakan game developer yang memproduksi game Swift Strikes. Game ini merupakan game peperangan dengan menggunakan pesawat tempur, dimana para pemain bisa mengkostumisasi karakter setiap penerbang pesawat. Selain itu, selama permainan juga tersedia percakapan antarpemain, seperti dalam film perang.
5. Macamoco
Adalah startup yang membangun website penyedia Personalized Curated Content. Dengan platform HTML, website yang dibangun Macamoco memungkinkan pengguna memilih website mana saja yang akan muncul di halaman situsnya. Misalnya pengguna menyukai olahraga, semua informasi olahraga akan muncul di halaman website ini, tanpa perlu langganan RSS.
6. Velmery
Merupakan layanan "Share Shopping Experience". Velmery memberikan layanan kepada pengguna untuk membagikan pengalaman berbelanja, sehingga bisa memandu pengguna lain ketika akan berbelanja. Layanan ini dikhususkan bagi pecinta produk fashion.
"Tahun ketiga ini lebih spesial, karena kami menambahkan sesi pitching dari startup yang sudah mengikuti program inkubasi kami selama 100 hari. Dua tahun sebelumnya, Jakarta Ventures Night hanya diisi pitching dari para startup baik anggota East Venture maupun di luar East Venture," ujar Wilson Cuaca, Managing Partner East Venture saat ditemui Kompas.com di acara Jakarta Ventures Night di Ballroom A, Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (12/01/2012).
Program inkubasi yang dilakukan oleh East Venture ini dinamakan East Venture Alpha. Pada awal September 2011, selama dua minggu East Venture membuka pendaftaran bagi startup yang telah memiliki ide pendirian sebuah startup. Dari 80 pendaftar, terpilih 6 startup yang akan mengikuti Inkubasi selama 100 hari. Setelah 100 hari tersebut, keenam startup ini harus sudah memiliki produk yang sudah jadi.
"Selama 100 hari, mereka bekerja di kantor kami, mengikuti mentorship dan membangun produk mereka di kantor kami. Maka, setelah 100 hari, mereka harus sudah memiliki sebuah produk yang bisa dipamerkan malam ini dan dipresentasikan di hadapan para investor," jelas Wilson.
Setelah Jakarta Ventures Night, akan dilanjutkan dengan acara East Venture Angels Network, dalam waktu dekat. Acara ini akan mempertemukan "angel investor" dengan para startup di Indonesia, baik anggota East Venture maupun di luar keanggotaan East Venture.
"Kalau investor yang hadir sekarang adalah yang biasanya investasi dalam jumlah besar. Sedangkan startup kita hanya membutuhkan investasi yang tidak terlalu besar. Jadi "angel investor" bisa membantu memberikan funding yang lebih kecil," tambahnya.
Para mentor yang memberikan bimbingan dan pelatihan dalam East Venture Alpha adalah Cyril Ebersweiler (China Accelerator), Leo Haryono (Direktur Macys.com), Jia Shen (founder Rock You), Satya Witoelar (founder Yahoo! Koprol), Lawrence Ng (Entrepreneur dan Investor), serta Shintaro Yamada (General Manager Zynga, Jepang).
Berikut adalah nama-nama startup dari East Venture Alpha yang mengikuti pitching dalam Jakarta Ventures Capital :
1. Promoote.com
Merupakan freemium business model yang berisi testimonial, foto, video, dan peta, untuk mencari sebuah rekomendasi terpercaya terhadap sebuah produk atau layanan. Inti dari layanan dalam website ini adalah menemukan, membandingkan, dan hingga membantu memesan (booking) sebuah layanan di suatu tempat.
2. Whappagames.com
Adalah multiplayer mobile game yang akan menawarkan portal game khusus platform flash game, yang gratis dan mudah dimainkan. Game pertama yang mereka buat saat ini adalah Asylon World, casual RPG game dengan tema fantasi, dilengkapi touch gesture base comand dan bisa dimainkan dengan multiplayer gamer. Game ini berjalan di platform Android. Saat ini Whappagames sedang mengajukan proposal ke publisher Square Enix dan Chillingo.
3. Buzzle Technology
Menyediakan aplikasi di Android dan BlackBerry, yakni Buzzle Mal. Sebuah aplikasi yang membantu untuk menavigasi sebuah mal,mencari diskon-diskon yang sedang ditawarkan, juga memberikan reward setiap kali check ini di sebuah mal. Reward ini nantinya bisa ditukar dengan penawaran diskon tertentu yang ditawarkan mal.
4. Red Eclipse Game
Merupakan game developer yang memproduksi game Swift Strikes. Game ini merupakan game peperangan dengan menggunakan pesawat tempur, dimana para pemain bisa mengkostumisasi karakter setiap penerbang pesawat. Selain itu, selama permainan juga tersedia percakapan antarpemain, seperti dalam film perang.
5. Macamoco
Adalah startup yang membangun website penyedia Personalized Curated Content. Dengan platform HTML, website yang dibangun Macamoco memungkinkan pengguna memilih website mana saja yang akan muncul di halaman situsnya. Misalnya pengguna menyukai olahraga, semua informasi olahraga akan muncul di halaman website ini, tanpa perlu langganan RSS.
6. Velmery
Merupakan layanan "Share Shopping Experience". Velmery memberikan layanan kepada pengguna untuk membagikan pengalaman berbelanja, sehingga bisa memandu pengguna lain ketika akan berbelanja. Layanan ini dikhususkan bagi pecinta produk fashion.
Kiat Sukses Bangun Startup dari Pengusaha Jepang
KOMPAS.com - Acara Jakarta Ventures Night kembali
digelar dan tahun ini merupakan tahun ketiga pelaksanaannya. Tahun 2012
ini, East Venture sebagai penyelenggara acara ini menambahkan sesi
"pitching" dari startup yang telah mengikuti East Venture Alpha (program
inkubasi) selama 100 hari.
Selain pitching, ada pula presentasi dari entrepreneur sukses Jepang, Shinichi Takamiya yang memaparkan rahasia suksesnya berbisnis di dunia online.
Shinichi Takamiya adalah Globis Capital Partner yang telah sukses membangun startup di Jepang. Menurutnya, kunci untuk bisa sukses membangun startup adalah memikirkan sesuatu yang besar.
"Anda harus Thik Big! Pikirkan sesuatu yang besar yang bisa Anda hasilkan dari startup yang Anda bangun," ujar Takamiya dalam presentasinya di Jakarta Ventures Night, di Ballroom A, Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (12/1/2012).
Sesuatu yang besar itu, menurutnya harus berdampak sosial, mampu menambah akutualisasi diri bagi pendirinya dan mampu menghasilkan penghasilan bagi kelangsungan hidup perusahaan. Sehingga, apa yang diperjuangkan ketika mendirikan startup, mampu memberikan arti bagi kehidupan.
Ketika menemukan ide untuk mendirikan startup, seorang entrepreneur harus merumuskan definisi bisnis yang akan dikembangkan. Setelah itu, menyusun strategi seperti konsep, auto pilot, power play, hingga strategi keuangan. Buat bisnis model yang berisi portfolio dan profit model, yang bisa digunakan untuk presentasi di depan investor.
Ketika sudah mendapatkan pendanaan dari investor, entreprenur juga harus memperhatikan tips berikut :
Selain itu, jika suatu hari karyawan terus bertambah, maka pendiri harus membuat A-Team, yakni tim inti yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup perusahaan dan menjadi tim unggulan perusahaan jika terjadi suatu masalah yang besar.
Dalam proses mengembangkan perusahaan, jangan lupa untuk selalu memegang pedoman PDCA (Plan, Do, Check, dan Action). Merencanakan, mengerjakan, mengevaluasi, dan terus bergerak akan membantu perusahaan bertahan dalam waktu yang lama.
Selain pitching, ada pula presentasi dari entrepreneur sukses Jepang, Shinichi Takamiya yang memaparkan rahasia suksesnya berbisnis di dunia online.
Shinichi Takamiya adalah Globis Capital Partner yang telah sukses membangun startup di Jepang. Menurutnya, kunci untuk bisa sukses membangun startup adalah memikirkan sesuatu yang besar.
"Anda harus Thik Big! Pikirkan sesuatu yang besar yang bisa Anda hasilkan dari startup yang Anda bangun," ujar Takamiya dalam presentasinya di Jakarta Ventures Night, di Ballroom A, Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (12/1/2012).
Sesuatu yang besar itu, menurutnya harus berdampak sosial, mampu menambah akutualisasi diri bagi pendirinya dan mampu menghasilkan penghasilan bagi kelangsungan hidup perusahaan. Sehingga, apa yang diperjuangkan ketika mendirikan startup, mampu memberikan arti bagi kehidupan.
Ketika menemukan ide untuk mendirikan startup, seorang entrepreneur harus merumuskan definisi bisnis yang akan dikembangkan. Setelah itu, menyusun strategi seperti konsep, auto pilot, power play, hingga strategi keuangan. Buat bisnis model yang berisi portfolio dan profit model, yang bisa digunakan untuk presentasi di depan investor.
Ketika sudah mendapatkan pendanaan dari investor, entreprenur juga harus memperhatikan tips berikut :
- Jaga hubungan baik dengan investor, sebelum dan sesudah pendanaan.
- Jaga uang yang diberikan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan selama 18 hingga 24 bulan.
- Cari hal-hal lain yang bsia digali dari investor selain uang, bisa berupa networking, atau informasi yang bisa menguntungkan perusahaan.
- Berikan investor keuntungan yang seimbang, yang membuatnya tertarik untuk bekerja sama dalam hal lain.
Selain itu, jika suatu hari karyawan terus bertambah, maka pendiri harus membuat A-Team, yakni tim inti yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup perusahaan dan menjadi tim unggulan perusahaan jika terjadi suatu masalah yang besar.
Dalam proses mengembangkan perusahaan, jangan lupa untuk selalu memegang pedoman PDCA (Plan, Do, Check, dan Action). Merencanakan, mengerjakan, mengevaluasi, dan terus bergerak akan membantu perusahaan bertahan dalam waktu yang lama.
Bisnis 'Titip-Menitip' yang Menghasilkan Duit
KOMPAS.com - Pernah dititipi orang sesuatu ketika
berada di luar kota atau luar negeri? Mungkin yang terbayang adalah
repot, berat, dan belum tentu orangnya mau membayar.
Apalagi yang menitip adalah keluarga atau sahabat dekat? Pernah terpikir aktivitas 'titip-menitip' bisa menjadi sumber penghasilan? Bistip.com akan menjawabnya.
Bistip.com sebagai Peer to Peer Courier Service merupakan situs yang memberikan kesempatan bagi pelawat (traveler) untuk menyampaikan kepada seluruh dunia bahwa dia sedang berada di suatu tempat dan akan kembali dalam kurun waktu tertentu, dan tentu saja siap dititipi membeli barang yang Anda inginkan.
Bagi siapapun yang ingin menitip sesuatu dari traveler ini, akan dikenakan biaya sesuai dengan keinginan traveler. Misalnya ada orang yang sedang berada di Singapura dan akan kembali ke Indonesia tiga bulan lagi, maka orang Indonesia yang mau menitip sesuatu seperti tas, sepatu, atau apapun bisa menginformasikan ke orang yang di Singapura tersebut.
Ketika orang yang di Singapura datang dan membawa barangnya, yang menitip harus membayar harga barang plus komisi sebesar yang diinginkan oleh traveler. Biasanya kesepakatan dilakukan di awal transaksi.
"Ada yang membayar sampai berkali-kali lipat karena saking senangnya mendapat barang yang diinginkan," ujar William, pendiri Bistip.com, saat menjadi pembicara dalam Sparx Up Seminar "Gamification and Cnvergence" di International Design School, Jakarta, Jumat (23/12/2011).
William menambahkan, keberhasilan konsep yang ditawarkan Bistip.com telah membuat situs ini memiliki lebih dari 3600 anggota tersebar di 237 kota di 47 negara. Selain pembayaran di tempat, sistem pembayaran yang sudah bisa menggunakan BCA dan PayPal juga menjadi pendukung keberhasilan Bistip.com di berbagai negara.
Bistip.com yang dirintis pada Juli 2011 merupakan pemenang Sparx Up Awards 2011 untuk kategori Best User Generated Content dan mendapat gelar Most Promising Start Up 2011.
Kehadiran William di seminar Sparx Up yang disponsori oleh Kompas.com ini adalah untuk menginspirasi teman-teman lain yang belum mendirikan startup untuk berani memulai dan berani mengambil pangsa pasar internasional.
Konsep sederhana yang ditawarkan Bistip.com memberi contoh bahwa untuk "Go International" ternyata tidak sesulit yang disangka.
Apalagi yang menitip adalah keluarga atau sahabat dekat? Pernah terpikir aktivitas 'titip-menitip' bisa menjadi sumber penghasilan? Bistip.com akan menjawabnya.
Bistip.com sebagai Peer to Peer Courier Service merupakan situs yang memberikan kesempatan bagi pelawat (traveler) untuk menyampaikan kepada seluruh dunia bahwa dia sedang berada di suatu tempat dan akan kembali dalam kurun waktu tertentu, dan tentu saja siap dititipi membeli barang yang Anda inginkan.
Bagi siapapun yang ingin menitip sesuatu dari traveler ini, akan dikenakan biaya sesuai dengan keinginan traveler. Misalnya ada orang yang sedang berada di Singapura dan akan kembali ke Indonesia tiga bulan lagi, maka orang Indonesia yang mau menitip sesuatu seperti tas, sepatu, atau apapun bisa menginformasikan ke orang yang di Singapura tersebut.
Ketika orang yang di Singapura datang dan membawa barangnya, yang menitip harus membayar harga barang plus komisi sebesar yang diinginkan oleh traveler. Biasanya kesepakatan dilakukan di awal transaksi.
"Ada yang membayar sampai berkali-kali lipat karena saking senangnya mendapat barang yang diinginkan," ujar William, pendiri Bistip.com, saat menjadi pembicara dalam Sparx Up Seminar "Gamification and Cnvergence" di International Design School, Jakarta, Jumat (23/12/2011).
William menambahkan, keberhasilan konsep yang ditawarkan Bistip.com telah membuat situs ini memiliki lebih dari 3600 anggota tersebar di 237 kota di 47 negara. Selain pembayaran di tempat, sistem pembayaran yang sudah bisa menggunakan BCA dan PayPal juga menjadi pendukung keberhasilan Bistip.com di berbagai negara.
Bistip.com yang dirintis pada Juli 2011 merupakan pemenang Sparx Up Awards 2011 untuk kategori Best User Generated Content dan mendapat gelar Most Promising Start Up 2011.
Kehadiran William di seminar Sparx Up yang disponsori oleh Kompas.com ini adalah untuk menginspirasi teman-teman lain yang belum mendirikan startup untuk berani memulai dan berani mengambil pangsa pasar internasional.
Konsep sederhana yang ditawarkan Bistip.com memberi contoh bahwa untuk "Go International" ternyata tidak sesulit yang disangka.
Pengusaha Internet Jangan Hanya Bisa Meniru
KOMPAS.com - Tahun 2010 merupakan awal dari
bertumbuhnya perusahaan-perusahaan digital di Indonesia (startup lokal).
Perusahaan startup lokal ini kemudian menunjukkan eksistensinya di
tahun 2011.
Ada yang bertahan, ada yang berkembang, namun ada yang mati. Mengapa startup lokal bisa bertahan? Lalu mengapa ada yang gulung tikar?
Danny Wirianto, pemimpin Merah Putih Incubator menyatakan bahwa kematian sebuah perusahaan startup lokal sering disebabkan oleh "copy cat" atau mengkloning mentah-mentah konsep milik perusahaan digital dari luar negeri yang telah sukses.
"Kalau orang malas, ya sudah, copy cat saja sudah cukup bagi dia. Akhirnya tidak bisa bertahan karena tidak punya kreatifitas. Startup lokal Indonesia butuh sebuah orisinalitas," ujar Danny dalam #startuplokal meet up v. 20 di @america, Pacific Place, Jakarta, Kamis (8/12/2011).
Orang yang rajin dan akan berhasil menurut Danny adalah orang yang memiliki keinginan untuk bekerja keras dan melakukan inovasi dalam berbagai hal. Ia memberikan tips inovasi yang bisa dikembangkan yakni merencanakan bisnis model, menikmati proses, fokus kepada produk, berikan service yang memadai kepada konsumen, dan lakukan pemasaran yang efektif.
"Jangan pernah ingin tahu apa yang dilakukan kompetitor, tapi fokus kepada apa yang bisa Anda lakukan untuk konsumen. Kalau anda sibuk mempelajari kompetitor, Anda tidak akan punya waktu mengurusi konsumen Anda," ungkapnya.
Inovator yang akan sukses menurut Danny harus memiliki empat hal berikut, yakni visioner, exploring, experimentery, dan modifying. Visioner adalah mampu memiliki visi yang ideal untuk masa depan. Eksploring adalah orang yang bisa mempelajari banyak hal untuk mewujudkan visi. Eksperimen bisa mngkombinasikan berbagai inovasi dan melakukan percobaan. Modifying dapat membantu mengubah format yang sudah ada ke dalam format baru yang lebih kreatif.
Selain itu, ada satu hal yang harus menjadi fokus bagi perusahaan digital start up, yakni relevansi. Dalam hal relevansi, start up harus memperhatikan hal berikut :
Bahasa
Gunakan bahasa lokal yang menjadi target konsumen. Jika menargetkan pengguna dari Indonesia maka gunakan bahasa Indonesia. Jika mengharapkan pengguna global, maka gunakan bahasa Inggris.
Konten
Sesuaikan konten dengan selera pengguna. Fokus kepada satu jenis konten. Misalnya, LinkedIn fokus kepada konten untuk para profesional, lalu Instagram fokus pada konten pengolahan foto. Konten jangan bersifat umum tetapi harus spesifik sehingga memiliki pengguna yang juga fokus.
Integrasi
Lakukan integrasi dengan website lain seperti jejaring sosial atau email dan messenger akan pengguna betah berlama-lama berada di website kita, karena mereka bisa membagikan apapun yang mereka dapat dari website kita ke semua jejaring sosial yang mereka miliki.
Berikan tools
Lengkapi integrasi dengan tools yang memadai sehingga memudahkan pengguna untuk melakukan sharing konten dari website kita. Seperti tombol Facebook, twitter, e-mail, dan Yahoo Messenger yang diletakkan di tempat yang mudah ditemukan.
Ada yang bertahan, ada yang berkembang, namun ada yang mati. Mengapa startup lokal bisa bertahan? Lalu mengapa ada yang gulung tikar?
Danny Wirianto, pemimpin Merah Putih Incubator menyatakan bahwa kematian sebuah perusahaan startup lokal sering disebabkan oleh "copy cat" atau mengkloning mentah-mentah konsep milik perusahaan digital dari luar negeri yang telah sukses.
"Kalau orang malas, ya sudah, copy cat saja sudah cukup bagi dia. Akhirnya tidak bisa bertahan karena tidak punya kreatifitas. Startup lokal Indonesia butuh sebuah orisinalitas," ujar Danny dalam #startuplokal meet up v. 20 di @america, Pacific Place, Jakarta, Kamis (8/12/2011).
Orang yang rajin dan akan berhasil menurut Danny adalah orang yang memiliki keinginan untuk bekerja keras dan melakukan inovasi dalam berbagai hal. Ia memberikan tips inovasi yang bisa dikembangkan yakni merencanakan bisnis model, menikmati proses, fokus kepada produk, berikan service yang memadai kepada konsumen, dan lakukan pemasaran yang efektif.
"Jangan pernah ingin tahu apa yang dilakukan kompetitor, tapi fokus kepada apa yang bisa Anda lakukan untuk konsumen. Kalau anda sibuk mempelajari kompetitor, Anda tidak akan punya waktu mengurusi konsumen Anda," ungkapnya.
Inovator yang akan sukses menurut Danny harus memiliki empat hal berikut, yakni visioner, exploring, experimentery, dan modifying. Visioner adalah mampu memiliki visi yang ideal untuk masa depan. Eksploring adalah orang yang bisa mempelajari banyak hal untuk mewujudkan visi. Eksperimen bisa mngkombinasikan berbagai inovasi dan melakukan percobaan. Modifying dapat membantu mengubah format yang sudah ada ke dalam format baru yang lebih kreatif.
Selain itu, ada satu hal yang harus menjadi fokus bagi perusahaan digital start up, yakni relevansi. Dalam hal relevansi, start up harus memperhatikan hal berikut :
Bahasa
Gunakan bahasa lokal yang menjadi target konsumen. Jika menargetkan pengguna dari Indonesia maka gunakan bahasa Indonesia. Jika mengharapkan pengguna global, maka gunakan bahasa Inggris.
Konten
Sesuaikan konten dengan selera pengguna. Fokus kepada satu jenis konten. Misalnya, LinkedIn fokus kepada konten untuk para profesional, lalu Instagram fokus pada konten pengolahan foto. Konten jangan bersifat umum tetapi harus spesifik sehingga memiliki pengguna yang juga fokus.
Integrasi
Lakukan integrasi dengan website lain seperti jejaring sosial atau email dan messenger akan pengguna betah berlama-lama berada di website kita, karena mereka bisa membagikan apapun yang mereka dapat dari website kita ke semua jejaring sosial yang mereka miliki.
Berikan tools
Lengkapi integrasi dengan tools yang memadai sehingga memudahkan pengguna untuk melakukan sharing konten dari website kita. Seperti tombol Facebook, twitter, e-mail, dan Yahoo Messenger yang diletakkan di tempat yang mudah ditemukan.
Lima Area "Basah" 2012 untuk Startup Lokal
KOMPAS.com - Tahun 2010, perusahaan Internet (startup)
lokal di Indonesia mulai tumbuh. Satu persatu perusahaan startup hadir
dan menghidupkan kembali dunia bisni digital di Indonesia.
Tahun 2011 adalah tahun yang menunjukkan persaingan terhadap semua startup yang sudah didirikan, apakah berkembang, bertahan, atau bahkan mati. Apa yang akan terjadi dalam dunia startup lokal di tahun 2012?
"Tahun 2012 akan lebih banyak startup yang muncul, tetapi saya yakin akan lebih banyak juga yang mati," ujar Rama Mamuaya, pendiri DailySocial.net dalam acara #StartupLokal MeetUp v.20 di @america, Pacific Place, Jakarta, Kamis (8/12/2011). Menurutnya, kematian startup lokal terjadi karena persaingan yang ketat di tahun 2012.
Setidaknya ada lima hal yang sedang berkembang dalam industri startup saat ini. Ini adalah peluang bagi pengusaha digital untuk mengembangkannya menjadi bisnis yang kompetitif di tahun 2012.
1. Local Mobile Content
Dengan pertumbuhan jumlah pengguna Internet mobile, startup yang mampu mengembangkan mobile konten yang menarik akan dilirik oleh pasar lokal.
2. Location Based, NFC, AR Technology
Aplikasi atau jejaring sosial berbasis lokasi (location based) akan menjadi tren di tahun 2012. Selain itu, teknologi NFC (Near Field Communication), serta Augmented Reality (AR) Technology akan menjadi tren. Dua teknologi ini bukan teknologi baru, namun masih belum banyak dimanfaatkan untuk pengembangan startup. Tahun 2012 akan jadi peluang yang menjanjikan jika dua teknologi ini bisa dikembangkan.
3. Game dan Music
Berinvestasi dalam industri game dan musik akan menjadi tren karena dua hiburan ini sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Rama memprediksi industri game Indonesia akan sangat berkembang di tahun 2012 jika dikelola dengan bisnis model yang tepat.
4. User Generated Content
Karakter orang Indonesia yang menyukai komunikasi dan berjejaring akan membuat startup yang bergerak dalam user generated content bisa berkembang.
5. Travel
Industri travel akan berkembang di tahun 2012 karena kenyataan bahwa masyarakat menengah di Indonesia mulai bertambah dan mulai senang melakukan perjalanan ke luar kota. Ini menjadi ladang yang seharusnya bisa dieksplorasi.
Secara umum, industri telekomunikasi akan menjadi penggerak tumbuhnya startup lokal. Selain itu, inkubator juga akan semakin banyak karena investor yang datang dari negara lain ingin agar startup yang mereka rangkul memiliki kompetisi yang memadai.
Investor akan banyak datang dari Jepang, Cina, dan Amerika Serikat, untuk melihat potensi Indonesia dengan pangsa pasar yang luas. Startup lokal akan punya tempat belajar yang beragam, sarana pembelajaran yang memadai, dan kompetisi yang semakin ketat.
Tahun 2011 adalah tahun yang menunjukkan persaingan terhadap semua startup yang sudah didirikan, apakah berkembang, bertahan, atau bahkan mati. Apa yang akan terjadi dalam dunia startup lokal di tahun 2012?
"Tahun 2012 akan lebih banyak startup yang muncul, tetapi saya yakin akan lebih banyak juga yang mati," ujar Rama Mamuaya, pendiri DailySocial.net dalam acara #StartupLokal MeetUp v.20 di @america, Pacific Place, Jakarta, Kamis (8/12/2011). Menurutnya, kematian startup lokal terjadi karena persaingan yang ketat di tahun 2012.
Setidaknya ada lima hal yang sedang berkembang dalam industri startup saat ini. Ini adalah peluang bagi pengusaha digital untuk mengembangkannya menjadi bisnis yang kompetitif di tahun 2012.
1. Local Mobile Content
Dengan pertumbuhan jumlah pengguna Internet mobile, startup yang mampu mengembangkan mobile konten yang menarik akan dilirik oleh pasar lokal.
2. Location Based, NFC, AR Technology
Aplikasi atau jejaring sosial berbasis lokasi (location based) akan menjadi tren di tahun 2012. Selain itu, teknologi NFC (Near Field Communication), serta Augmented Reality (AR) Technology akan menjadi tren. Dua teknologi ini bukan teknologi baru, namun masih belum banyak dimanfaatkan untuk pengembangan startup. Tahun 2012 akan jadi peluang yang menjanjikan jika dua teknologi ini bisa dikembangkan.
3. Game dan Music
Berinvestasi dalam industri game dan musik akan menjadi tren karena dua hiburan ini sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Rama memprediksi industri game Indonesia akan sangat berkembang di tahun 2012 jika dikelola dengan bisnis model yang tepat.
4. User Generated Content
Karakter orang Indonesia yang menyukai komunikasi dan berjejaring akan membuat startup yang bergerak dalam user generated content bisa berkembang.
5. Travel
Industri travel akan berkembang di tahun 2012 karena kenyataan bahwa masyarakat menengah di Indonesia mulai bertambah dan mulai senang melakukan perjalanan ke luar kota. Ini menjadi ladang yang seharusnya bisa dieksplorasi.
Secara umum, industri telekomunikasi akan menjadi penggerak tumbuhnya startup lokal. Selain itu, inkubator juga akan semakin banyak karena investor yang datang dari negara lain ingin agar startup yang mereka rangkul memiliki kompetisi yang memadai.
Investor akan banyak datang dari Jepang, Cina, dan Amerika Serikat, untuk melihat potensi Indonesia dengan pangsa pasar yang luas. Startup lokal akan punya tempat belajar yang beragam, sarana pembelajaran yang memadai, dan kompetisi yang semakin ketat.
Banjir Pengumuman di Start Up Meet Up V. 19
KOMPAS.com - Komunitas #startuplokal kembali
menggelar Start Up Meet Up. Event bulanan yang telah diadakan selama 19
kali ini, membahas teknologi NFC yang telah digunakan beberapa
perusahaan start-up dan peluangnya di masa depan. Selain talkshow
tentang teknologi NFC, meet up kali ini banjir pengumuman baik dari
startuplokal maupun dari Nokia. Berikut rincian pengumumannya.
Nuniek Tirta, salah satu inisiator komunitas #startuplokal menyampaikan beberapa pengumuman yang dikumpulkan dari anggota komunitas ini. Berikut adalah pengumuman tersebut:
Pengumuman lainnya disampaikan oleh Maretha Dewi dari Nokia Indonesia yang menyampaikan nama-nama pemenang kompetisi "Create 4 Milion" yang diadakan oleh Nokia Developer. Para peserta diwajibkan membuat aplikasi yang bisa berjalan di Nokia 40 series sesuai dengan kategori yang dilombakan.
Nuniek Tirta, salah satu inisiator komunitas #startuplokal menyampaikan beberapa pengumuman yang dikumpulkan dari anggota komunitas ini. Berikut adalah pengumuman tersebut:
- Yahoo! Koprol kini telah terintegrasi dengan BBM6.
- Akan diadakan konferensi yang menghadirkan perusahaan-perusahaan dari Silicon Valley pada 17-18 januari 2012 di Intercontinental Jakarta.
- Bouncity kini telah merilis android apps sehingga sudah bisa didownload di Android Market.
- Tiket.com mengadakan kompetisi berhadiah liburan ke Bali untuk 2 orang sebagai promo soft launching. Info lengkap bisa dilihat di website Tiket.com.
- Kaskus pindah kantor dan berita ini sudah jadi Trending Topic Twitter.
- Peluncuran startup baru, localbrand.co.id. Startup ini fokus kepada online mal yang menyediakan produk fashion dari brand-brand lokal Indonesia.
- Tempalabs sedang membangun sebuah game baru.
- Project Eden Campus kembali dibuka. Untuk bisa berpartisipasi dalam acara ini bisa menghubungi bayu@startuplokal.org.
- Nolimitid.com telah melakukan soft launching.
- Acara Fimela Fest akan diadakan sejak 25 hingga 27 November 2011. Informasi lengkap bisa klik situs Fimela.com.
- On Off ID akan diadakan di Rasuna Epicentrum tanggal 3 Desember 2011 mulai pukul 10.00 WIB hingga 19.00 WIB.
Pengumuman lainnya disampaikan oleh Maretha Dewi dari Nokia Indonesia yang menyampaikan nama-nama pemenang kompetisi "Create 4 Milion" yang diadakan oleh Nokia Developer. Para peserta diwajibkan membuat aplikasi yang bisa berjalan di Nokia 40 series sesuai dengan kategori yang dilombakan.
- Kategori best cultural apps yang mendapat hadiah Rp 75 juta dimenangkan oleh game Komodo Park. Game ini menyingkirkan pesaingnya yakni Arjuna Sang Pemanah yang dikembangkan Creacle.
- Kategori Best Web Apps dimenangkan oleh Transjakarta S40 yang dikembangkan oleh Komodo Dev. Mengalahkan pesaingnya Indonesia 2020, pengembang Transjakarta S40 mendapatkan Rp 50 juta.
- Kategori Best Touch Apps dengan hadiah Rp 50 juta dimenangkan oleh aplikasi Baby Write Number, mengalahkan pesaingnya game Sexy Witch yang dikembangkan Agate Studio.
- Kategori Best Maps Apps dimenangkan oleh Toresto yang tidak memiliki pesaing sehingga langsung mendapatakan hadiah Rp 50 juta.
Belajar Manfaatkan NFC dari Bisnis Angry Birds
JAKARTA, KOMPAS.com - Teknologi NFC (near filed communication)
diperkirakan akan menjadi tren baru di industri ponsel di dunia. Satu
demi satu, platform smartphone mendukung NFC. Sudah banyak model bisnis
yang dikembangkan memanfaatkan NFC, misalnya untuk transaksi mikro cukup
dengan menempelkan ponsel ke counter kasir atau sekadar untuk bermian
interaktif antara dua perangkat smartphone.
Tapi, ada satu contoh perusahaan yang telah memenfaatkan NFC untuk mendukung lini produk dan layanannya secara terintegrasi. Kenal dengan Angry Birds kan? Selama ini memang dikenal sebagai game dengan karakter burung yang sangat populer. Namun, Rovio dan Finlandia selaku pengembangnya tidak puas hanya membuat game. Angry Birds dikembangkan menjadi merek produk dan layanan dan NFC berperan di sana.
Di mana perannya? Narenda Wicaksono, Developer Operation Manager Nokia Indonesia, menjelaskan contoh pemanfaatan teknologi NFC oleh pengembang Angry Birds saat menjadi pembicara dalam #StartUpLokal meet up v.19 di Jakarta, Kamis (24/11/2011) malam lalu di FX, Jakarta.
"Pengembang Angry Birds berhasil memanfaatkan teknologi NFC untuk mengembangkan bisnis merchandise mereka. Kini tidak hanya game saja yang unggul, boneka-boneka Angry Birds juga dicari-cari oleh pengemarnya," jelas Narenda.
Angry Birds semula merupakan game yang dikhususkan untuk pengguna iOS, kemudian dikembangkan menjadi game yang bisa di-download di PC dan ponsel pintar dengan beragam platform. Pesatnya pertumbuhan game ini ternyata tidak membuat produsennya berpuas diri. Angry Birds mulai menjual merchandise, dan pemasarannya didukung dengan teknologi NFC. Bagaimana caranya?
"Sekarang untuk unlocked special character di Angry Birds, gamer harus membeli merchandise original lalu men-scan foto boneka atau merchandise Angry Birds lainnya. Angry Birds sekarang bukan sekadar game, tapi brand!" ujarnya.
Tentu saja karena rasa penasaran dengan game tersebut, gamer tak akan segan-segan untuk membeli merchandise. Selain bisa digunakan untuk membuka kunci karakter spesial, merchandise Angry Birds juga tampak keren dipajang di kamar atau ruang tamu.
Teknologi NFC adalah teknologi pertukaran data antardua perangkat dengan jarak tidak lebih dari 4 sentimeter. Teknologi ini pada awal pengembangannya digunakan oleh perusahaan-perusahaan atau hotel untuk mengkoneksikan ID card karyawan ke alat absensi atau ke perangkat lift. Teknologi ini berkembang ke ponsel setelah dimulai oleh Nokia yang memproduksi ponsel pertama yang memiliki teknologi NFC pada tahun 2006.
Tapi, ada satu contoh perusahaan yang telah memenfaatkan NFC untuk mendukung lini produk dan layanannya secara terintegrasi. Kenal dengan Angry Birds kan? Selama ini memang dikenal sebagai game dengan karakter burung yang sangat populer. Namun, Rovio dan Finlandia selaku pengembangnya tidak puas hanya membuat game. Angry Birds dikembangkan menjadi merek produk dan layanan dan NFC berperan di sana.
Di mana perannya? Narenda Wicaksono, Developer Operation Manager Nokia Indonesia, menjelaskan contoh pemanfaatan teknologi NFC oleh pengembang Angry Birds saat menjadi pembicara dalam #StartUpLokal meet up v.19 di Jakarta, Kamis (24/11/2011) malam lalu di FX, Jakarta.
"Pengembang Angry Birds berhasil memanfaatkan teknologi NFC untuk mengembangkan bisnis merchandise mereka. Kini tidak hanya game saja yang unggul, boneka-boneka Angry Birds juga dicari-cari oleh pengemarnya," jelas Narenda.
Angry Birds semula merupakan game yang dikhususkan untuk pengguna iOS, kemudian dikembangkan menjadi game yang bisa di-download di PC dan ponsel pintar dengan beragam platform. Pesatnya pertumbuhan game ini ternyata tidak membuat produsennya berpuas diri. Angry Birds mulai menjual merchandise, dan pemasarannya didukung dengan teknologi NFC. Bagaimana caranya?
"Sekarang untuk unlocked special character di Angry Birds, gamer harus membeli merchandise original lalu men-scan foto boneka atau merchandise Angry Birds lainnya. Angry Birds sekarang bukan sekadar game, tapi brand!" ujarnya.
Tentu saja karena rasa penasaran dengan game tersebut, gamer tak akan segan-segan untuk membeli merchandise. Selain bisa digunakan untuk membuka kunci karakter spesial, merchandise Angry Birds juga tampak keren dipajang di kamar atau ruang tamu.
Teknologi NFC adalah teknologi pertukaran data antardua perangkat dengan jarak tidak lebih dari 4 sentimeter. Teknologi ini pada awal pengembangannya digunakan oleh perusahaan-perusahaan atau hotel untuk mengkoneksikan ID card karyawan ke alat absensi atau ke perangkat lift. Teknologi ini berkembang ke ponsel setelah dimulai oleh Nokia yang memproduksi ponsel pertama yang memiliki teknologi NFC pada tahun 2006.
Kark, Ajak Anak Belajar Sambil Bermain
Itulah ide awal aplikasi "KARK", pemenang "Telkomsel Start Up Bootcamp" dan akan mewakili Indonesia di ajang "Joyful Frog Digital Incubator-Innov8 2012 Bootcamp" yang diadakan oleh SingTel selama 100 hari di Singapura, mulai 25 Januari 2012.
Tim "KARK" digawangi Bullit Sesariza, Sindhu Prabowo Dilaksono, Fatkul Amri, Rakhmat Permana, Arsa Widitiarsa, Daniel Simon, dan Fithor Fariz. Permainan "KARK" juga terinspirasi dari permainan "Need for Speed dan Dino Duel Arcade" karena salah satu pembuatnya ada dalam tim ini.
"Kami membuat aplikasi bagi anak yang suka bermain tapi tidak mau belajar. Nah, ide awal itu yang mencetuskan bagaimana tetap bisa belajar dari perangkat digital yang ada," ungkap Bullit Sesariza, Ketua Tim "KARK" di Jakarta, Minggu malam (20/11/2011).
Sebenarnya, ide tersebut muncul saat Bullit ingin membawa dunia yang lebih menyenangkan ke dalam sebuah ponsel atau gadget yang banyak dipakai sekarang. Apalagi, ponsel saat ini sudah bukan menjadi barang mewah bagi orang dewasa. Anak-anak pun kini sudah dibekali oleh orang tuanya dengan perangkat canggih.
Agar tidak semakin "kebablasan" dalam menggunakan ponsel, Bullit merevolusi ponsel tersebut sebagai sarana belajar. Caranya dengan menggabungkan media konvensional berupa kartu yang sudah ada "QR Code" dan ponsel atau gadget yang dapat membaca "QR code" dari kameranya.
"Untuk sementara kami hanya memakai kertas yang memiliki "QR code". Nantinya bisa dikembangkan menjadi kartu seperti kartu kredit yang masih memiliki QR code," tambah Sindhu Prabowo Dilaksono, anggota tim KARK yang saat ini sedang menimba ilmu di IKJ-IDS Jakarta.
Penerima Beasiswa Unggulan dari Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI ini menambahkan aplikasi game tersebut ditujukan untuk anak usia 5-15 tahun. Ke depan, aplikasi ini juga bisa dikembangkan untuk pembelajaran bagi orang dewasa.
Rakhmat Permana, anggota tim "KARK" menjelaskan aplikasi permainan tersebut ingin memberikan pengalaman bermain di dunia baru yang berbeda dengan dunia permainan yang sudah ada.
"Semua bisa mencoba, tidak perlu takut mencampur kartu-kartu yang ada. Tidak ada yang salah dalam permainan ini," kata Rakhmat.
Saat ini, KARK baru memiliki satu kategori permainan yaitu iklim, dengan kartu berjumlah 12 lembar. Misalnya, untuk memainkan hujan, pengguna harus menggabungkan kartu "Oceans", "Wind" dan "Sun". Namun, jika pengguna salah mengurutkan kartu yang harus dimainkan, maka juga akan terjadi visualisasi, tapi visualisasinya aneh. Misalnya, "Rain" yang ditambah "Wind" secara terus menerus, akan terjadi hujan badai.
"Anak jangan dibatasi untuk memainkan kartu-kartu tersebut. Nanti mereka akan mengetahui efek visualisasinya," tambah Arsa Widitiarsa.
Di balik kartu tersebut, juga ada pengetahuan singkat yang diselipkan. Hal ini untuk mendapatkan pengetahuan ganda baik dari visualisasi di ponsel atau laptop sekaligus penjelaskan di kartu.
Daniel Simon menginginkan game ini memungkinkan ada level permainan sehingga akan memberi efek tantangan bagi pemain. Selain itu, game ini nanti juga bisa dikembangkan ke jenis yang lain, misalnya memasak yang dilengkapi dengan resep masakan tertentu.
"Anak akan cenderung kreatif menggunakan permainan ini. Selain bisa dicoba di gadget, kita harapkan mereka bisa mempraktekkannya di dunia nyata," jelas Daniel.
Saat ini tim memang kesulitan untuk memasukkan sistem visualisasi dari kartu-kartu yang telah dibuat. Namun, dengan adanya bootcamp di Singapura nanti, kesulitan ini akan bisa diatasi. Sedangkan nama "KARK" sendiri merupakan plesetan kartu dalam bahasa Inggris, Card.
"Game ini perlu sebutan yang kuat dan kami memilih KARK. Tidak ada arti spesifik terhadap KARK sendiri," pungkas Fithor Fariz.
Industri ICT Bantu Tingkatkan "Green Life"
KOMPAS.com – Penetrasi Information and Communication Technology (ICT) di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun. Peningkatan jumlah personal computer (PC), laptop, netbook,
tablet, dan ponsel disinyalir sebagai penyedot listrik paling banyak.
Pesatnya jumlah perusahaan Start-Up juga dicurigai menjadi pemicu
penggunaan listrik yang berlebihan. Padahal, konsumsi listrik dari
industri IT sebetulnya tidak separah itu.
Justru, jika dikelola dengan baik, industri ICT berpotensi mendukung kehidupan ramah lingkungan, atau yang biasa disebut green life. Hal itu disampaikan Rheza Sistiadi, Direktur PT. Realta Chakradarma, yang menyediakan software dan hardware untuk perhotelan dan industri pariwisata lainnya.
“Dari penelitian di Jepang dan negara-negara berkembang, hanya dua hingga tiga persen kontribusi industri IT dalam menimbulkan pemanasan global. Selebihnya merupakan ulah dari pabrik dan polusi kendaraan,” ujar Rheza saat ditemui Kompas.com, seusai #StartUpLokal Meet Up V.18 di Bina Nusantara University (Binus), Jakarta, Kamis (20/10/2011).
Menurutnya, industri ICT justru berpotensi membantu menciptakan kehidupan ramah lingkungan. Ada dua cara yang mendukungnya, yakni industri ICT sebagai penyedia produk yang bisa membantu kehidupan manusia lebih ramah lingkungan, atau praktisi ICT beralih menggunakan software dan hardware ramah lingkungan untuk menjaga kelestarian alam.
“Tanpa kita sadari, perkembangan industri ICT justru membantu kehidupan kita menjadi lebih ramah lingkungan. Contohnya penggunaan e-mail yang mengubah kebiasaan seseorang untuk tidak lagi menggunakan kertas dalam berkirim surat,” jelas Rheza.
Dalam dunia perhotelan, teknologi yang dikembangkan Rheza di Realta memungkinkan semua departemen di suatu hotel bisa memasukkan semua data hanya dengan menggunakan satu software. Perangkat lunak tersebut membentuk sebuah sistem terintegrasi yang menghubungkan semua departemen, sehingga seluruh informasi bisa disimpan dan dibagi tanpa harus menggunakan kertas.
“Kini Realta sudah mulai mengaplikasikan sistem ini ke beberapa tablet dan ponsel sehingga sistem check in dan check out hotel bisa dilakukan secara digital pada perangkat bergerak,” tambah Rheza.
E-billing (sistem pembayaran secara elektronik) juga mengurangi penggunaan kertas
Untuk penghematan lainnya, Rheza mencontohkan teknologi yang memungkinkan manusia bisa mengendalikan listrik gedung pencakar langit dengan sistem komputer.
“Sebetulnya bisa dikembangkan teknologi yang memberi komando bagi jaringan listrik gedung. Pada pukul sekian, listrik dipadamkan, dan pukul sekian listrik harus nyala secara keseluruhan, sehingga tidak butuh lagi tenaga manusia untuk menjaga listrik, ” katanya.
Contoh lainnya adalah, perusahaan start-up digital di Indonesia, mulai membuat konsep perusahaan yang membantu manusia lebih ramah pada lingkungan, contohnya www.Nebeng.com. Start-up ini mengampanyekan penghematan bahan bakar minyak (BBM) dengan cara menyediakan jejaring sosial agar pemilik mobil dapat memberikan tumpangan kepada orang lain.
“Banyak start-up lain yang ternyata mampu mengampanyekan hidup ramah lingkungan,” tambah Rheza.
Cara kedua yang bisa dilakukan industri ICT dalam mendukung kehidupan ramah lingkungan adalah pengaplikasian Cloud Computing. Teknologi ini mampu menghemat penggunaan hardware dan software untuk server karena data center berubah dalam bentuk virtual.
“Ada penghematan listrik karena tidak butuh server komputer yang banyak, tidak perlu ruangan ber-AC untuk mendinginkan server, juga tidak perlu banyak tenaga manusia karena cloud computing bisa bekerja secara otomatis,” jelasnya.
Dalam industri telekomunikasi, BTS bisa menggunakan beterai yang bisa di-charge ulang, atau beralih ke tenaga surya sebagai sumber listrik.
Menurut Rheza, yang dibutuhkan agar industri ICT terus membantu manusia menjadi ramah lingkungan terdiri dari tiga hal. Pertama, regulasi pemerintah.
“Pemerintah harus mewajibkan pemain besar industri hardware melakukan daur ulang bagi limbah-limbah produk mereka yang sudah tak terpakai. Pemerintah juga harus membuat kebijakan yang mewajibkan produsen-produsen besar dalam industri hardware untuk menjual produk yang bisa menghemat listrik secara otomatis,” ungkapnya.
Kedua, edukasi untuk meningkatkan perhatian. Harus ada workshop dan seminar berkala yang memberikan informasi bahwa industri ICT aman bagi lingkungan. Ketiga, inisiatif dari kalangan pebisnia untuk mulai memikirkan membuat produk atau menyediakan jasa yang memikirkan masalah kelestarian lingkungan.
Ide-ide ini disampaikan Rheza dalam #Startuplokal Meet Up V. 18. Tiga pembicara lainnya, adalah Kurnia Vera L (co-founder environmental-indonesia.com), Natalia Devina Widjaya (dosen Binus), dan perwakilan dari Nebeng.com, juga membicarakan isu yang serupa, yakni peran industri ICT dalam Green Life. Di penghujung acara, komunitas digital Depok memperkenalkan konsep komunitas mereka. Dilanjutkan dengan pengumuman program “Start Young to Innovate” yang akan diadakan oleh Binus bekerja dengan komunitas #Startuplokal.
Justru, jika dikelola dengan baik, industri ICT berpotensi mendukung kehidupan ramah lingkungan, atau yang biasa disebut green life. Hal itu disampaikan Rheza Sistiadi, Direktur PT. Realta Chakradarma, yang menyediakan software dan hardware untuk perhotelan dan industri pariwisata lainnya.
“Dari penelitian di Jepang dan negara-negara berkembang, hanya dua hingga tiga persen kontribusi industri IT dalam menimbulkan pemanasan global. Selebihnya merupakan ulah dari pabrik dan polusi kendaraan,” ujar Rheza saat ditemui Kompas.com, seusai #StartUpLokal Meet Up V.18 di Bina Nusantara University (Binus), Jakarta, Kamis (20/10/2011).
Menurutnya, industri ICT justru berpotensi membantu menciptakan kehidupan ramah lingkungan. Ada dua cara yang mendukungnya, yakni industri ICT sebagai penyedia produk yang bisa membantu kehidupan manusia lebih ramah lingkungan, atau praktisi ICT beralih menggunakan software dan hardware ramah lingkungan untuk menjaga kelestarian alam.
“Tanpa kita sadari, perkembangan industri ICT justru membantu kehidupan kita menjadi lebih ramah lingkungan. Contohnya penggunaan e-mail yang mengubah kebiasaan seseorang untuk tidak lagi menggunakan kertas dalam berkirim surat,” jelas Rheza.
Dalam dunia perhotelan, teknologi yang dikembangkan Rheza di Realta memungkinkan semua departemen di suatu hotel bisa memasukkan semua data hanya dengan menggunakan satu software. Perangkat lunak tersebut membentuk sebuah sistem terintegrasi yang menghubungkan semua departemen, sehingga seluruh informasi bisa disimpan dan dibagi tanpa harus menggunakan kertas.
“Kini Realta sudah mulai mengaplikasikan sistem ini ke beberapa tablet dan ponsel sehingga sistem check in dan check out hotel bisa dilakukan secara digital pada perangkat bergerak,” tambah Rheza.
E-billing (sistem pembayaran secara elektronik) juga mengurangi penggunaan kertas
Untuk penghematan lainnya, Rheza mencontohkan teknologi yang memungkinkan manusia bisa mengendalikan listrik gedung pencakar langit dengan sistem komputer.
“Sebetulnya bisa dikembangkan teknologi yang memberi komando bagi jaringan listrik gedung. Pada pukul sekian, listrik dipadamkan, dan pukul sekian listrik harus nyala secara keseluruhan, sehingga tidak butuh lagi tenaga manusia untuk menjaga listrik, ” katanya.
Contoh lainnya adalah, perusahaan start-up digital di Indonesia, mulai membuat konsep perusahaan yang membantu manusia lebih ramah pada lingkungan, contohnya www.Nebeng.com. Start-up ini mengampanyekan penghematan bahan bakar minyak (BBM) dengan cara menyediakan jejaring sosial agar pemilik mobil dapat memberikan tumpangan kepada orang lain.
“Banyak start-up lain yang ternyata mampu mengampanyekan hidup ramah lingkungan,” tambah Rheza.
Cara kedua yang bisa dilakukan industri ICT dalam mendukung kehidupan ramah lingkungan adalah pengaplikasian Cloud Computing. Teknologi ini mampu menghemat penggunaan hardware dan software untuk server karena data center berubah dalam bentuk virtual.
“Ada penghematan listrik karena tidak butuh server komputer yang banyak, tidak perlu ruangan ber-AC untuk mendinginkan server, juga tidak perlu banyak tenaga manusia karena cloud computing bisa bekerja secara otomatis,” jelasnya.
Dalam industri telekomunikasi, BTS bisa menggunakan beterai yang bisa di-charge ulang, atau beralih ke tenaga surya sebagai sumber listrik.
Menurut Rheza, yang dibutuhkan agar industri ICT terus membantu manusia menjadi ramah lingkungan terdiri dari tiga hal. Pertama, regulasi pemerintah.
“Pemerintah harus mewajibkan pemain besar industri hardware melakukan daur ulang bagi limbah-limbah produk mereka yang sudah tak terpakai. Pemerintah juga harus membuat kebijakan yang mewajibkan produsen-produsen besar dalam industri hardware untuk menjual produk yang bisa menghemat listrik secara otomatis,” ungkapnya.
Kedua, edukasi untuk meningkatkan perhatian. Harus ada workshop dan seminar berkala yang memberikan informasi bahwa industri ICT aman bagi lingkungan. Ketiga, inisiatif dari kalangan pebisnia untuk mulai memikirkan membuat produk atau menyediakan jasa yang memikirkan masalah kelestarian lingkungan.
Ide-ide ini disampaikan Rheza dalam #Startuplokal Meet Up V. 18. Tiga pembicara lainnya, adalah Kurnia Vera L (co-founder environmental-indonesia.com), Natalia Devina Widjaya (dosen Binus), dan perwakilan dari Nebeng.com, juga membicarakan isu yang serupa, yakni peran industri ICT dalam Green Life. Di penghujung acara, komunitas digital Depok memperkenalkan konsep komunitas mereka. Dilanjutkan dengan pengumuman program “Start Young to Innovate” yang akan diadakan oleh Binus bekerja dengan komunitas #Startuplokal.
Jejaring Sosial Fitnes dari Indonesia Diluncurkan di AS
LAS VEGAS, KOMPAS.com - Layanan jejaring sosial
buatan Indonesia yang khusus mengumpulkan para pecinta fitness,
SixReps.com, akhirnya diluncurkan meski baru soft launching. Acara peluncurannya dilakukan dalam Olympia Weekend 2011 yang diadakan pada 15-18 September 2011 di Las Vegas, Nevada, AS.
Pengguna yang disasar layanan ini memang tidak hanya lokal dari Indonesia tapi juga ke mancanegara. Data terakhir yang diterima Kompas.com, SixReps.com telah digunakan tak kurang dari 25.000 anggota.
Denny Santoso, Founder & CEO SixReps.com, mengatakan bahwa SixReps ini dibuat dengan tujuan awal membentuk sebuah komunitas pencinta olahraga fitness secara online. SixReps.com dibuat dengan mengutamakan replikasi user experience kehidupan nyata agar para penggunanya lebih mudah melakukan aktivitasnya semudah di kehidupan nyata.
SixReps.com dilengkapi oleh modul-modul fitness untuk membantu penggunanya membentuk tubuh dan mendapatkan berat badan ideal, memotivasi diri dan temannya, serta menemukan teman baru sesama fitness mania. SixReps.com bahkan akan membantu pengguna untuk membuat program latihan yang sesuai berdasarkan tujuan mereka melakukan olahraga fitness yang terdapat di dalam profil.
Selain itu, layanan ini juga memiliki built-in database dari program latihan untuk semua bagian otot di tubuh manusia yang dilengkapi dengan foto, video, serta panduan untuk melakukan setiap gerakannya sehingga akan sangat membantu para pemula di dunia fitness untuk memulai berlatih dengan lebih mudah.
Para pengguna SixReps juga dapat mengikuti kompetisi yang diadakan di dalam SixReps serta membuat group bersama teman-teman yang lain sesuai minat masing-masing. Sebagai sebuah fitness social network, di SixReps pengguna bisa saling memotivasi temannya, berbagi perkembangan program fitness-nya, dan berbagi bersama teman-teman yang sedang menjalani program yang sama.
Setiap pengguna SixReps juga akan memiliki sebuah tanda pengenal yang disebut dengan SixReps Passport. Denny menjelaskan, "SixReps Passport adalah kartu identitas pengguna SixReps yang akan berlaku secara internasional. Passport ini dapat dicetak dan dibawa ke tempat-tempat yang menjadi partner dari SixReps untuk mendapatkan berbagai macam keuntungan."
Pengguna yang disasar layanan ini memang tidak hanya lokal dari Indonesia tapi juga ke mancanegara. Data terakhir yang diterima Kompas.com, SixReps.com telah digunakan tak kurang dari 25.000 anggota.
Denny Santoso, Founder & CEO SixReps.com, mengatakan bahwa SixReps ini dibuat dengan tujuan awal membentuk sebuah komunitas pencinta olahraga fitness secara online. SixReps.com dibuat dengan mengutamakan replikasi user experience kehidupan nyata agar para penggunanya lebih mudah melakukan aktivitasnya semudah di kehidupan nyata.
SixReps.com dilengkapi oleh modul-modul fitness untuk membantu penggunanya membentuk tubuh dan mendapatkan berat badan ideal, memotivasi diri dan temannya, serta menemukan teman baru sesama fitness mania. SixReps.com bahkan akan membantu pengguna untuk membuat program latihan yang sesuai berdasarkan tujuan mereka melakukan olahraga fitness yang terdapat di dalam profil.
Selain itu, layanan ini juga memiliki built-in database dari program latihan untuk semua bagian otot di tubuh manusia yang dilengkapi dengan foto, video, serta panduan untuk melakukan setiap gerakannya sehingga akan sangat membantu para pemula di dunia fitness untuk memulai berlatih dengan lebih mudah.
Para pengguna SixReps juga dapat mengikuti kompetisi yang diadakan di dalam SixReps serta membuat group bersama teman-teman yang lain sesuai minat masing-masing. Sebagai sebuah fitness social network, di SixReps pengguna bisa saling memotivasi temannya, berbagi perkembangan program fitness-nya, dan berbagi bersama teman-teman yang sedang menjalani program yang sama.
Setiap pengguna SixReps juga akan memiliki sebuah tanda pengenal yang disebut dengan SixReps Passport. Denny menjelaskan, "SixReps Passport adalah kartu identitas pengguna SixReps yang akan berlaku secara internasional. Passport ini dapat dicetak dan dibawa ke tempat-tempat yang menjadi partner dari SixReps untuk mendapatkan berbagai macam keuntungan."
Sagad: Dasarnya "Social Network"
KOMPAS.com - Sanny Gaddafi yang kini mulai aktif
mengurusi Jakarta Founder Institute (JKTFI) mengawali debut di bisnis
digital dengan mendirikan sebuah layanan online pertemanan terinspirasi
Friendster. Kesuksesan jejaring pertemanan itu membuatnya penasaran
ingin membuat jejaring sosial yang sama persis dengan nama Fupei.
Saat itu ia masih berstatus mahasiswa Univesitas Bina Nusantara jurusan Teknologi Informasi dan Statistik. Tak ada niat untuk menjadikan jejaring sosial yang dibangunnya tersebut menjadi sebuah bisnis. Namun, setelah lulus kuliah dan mendapat investor, ia sadar, apa yang dibangunnya bisa menghasilkan uang. Ia pun mengurusi Fupei.com bersama investor.
Meski hanya bertahan 9 bulan berjalan bersama investor, hingga kini Sanny masih mempertahankan Fupei karena jejaring sosial tersebut memiliki nilai sejarah bagi dirinya secara pribadi. Ia kemudian membangun start up lainnya seperti Bundagaul.com, Pendek.in, Infoiklan.com, Sixreps, Superbestdeal.com, Autosally.com, dan Travelnesia.com.
Aktifitas di dunia bisnis digital membantunya mengenal pendiri-pendiri start up yang lain, salah satunya Natali Ardianto. Pertemuannya dengan Natali, tanpa sengaja justru melahirkan terbentuknya komunitas #StartUpLokal. Pengalamannya mengikuti program Founder Institute di Silicon Valley bersama Novistiar Rustandi juga menginspirasi Sanny untuk membuat program yang sama di Jakarta dan melahirkan Jakarta Founder Institute (JKTFI).
Sanny pun berbagi pengalamannya kepada Kompas.com di sela-sela acara Jakarta Founder Institute, di Jakarta, akhir Agustus 2011 lalu. Berikut wawancara dengan Sanny. .
Bisa diceritakan awal mula mendirikan bisnis digital?
Awalnya saya tidak berniat untuk berbisnis digital. Saya punya background TI karena kuliah saya adalah jurusan Teknologi Informasi dan Statistik. Saat kuliah, sekitar tahun 2004, saya harus freelance untuk menjadi web developer dan saya pun membuat website hanya untuk portfolio. Saya terinpirasi dari kesuksesan Friendster (FS) dengan jejaring sosialnya. Iseng saya coba buat yang sama persis dan ternyata bisa. Saya terbantu dari keanggotaan FS karena banyak anggota FS yang juga daftar ke Fupei.com. Setelah lulus kuliah, saya malah mendapatkan investor. Meskipun hanya berjalan 9 bulan dengan investor, sampai sekarang saya masih mempertahankan Fupei.com dan mengurusinya sendiri.
Mengapa memilih untuk tetap mempertahankan Fupei?
Banyak anggota Fupei.com yang menggunakan Fupei karena mereka bangga menggunakan aplikasi buatan lokal, asli Indonesia. Selain itu, kalau FS dan FB untuk mencari teman lama, maka mereka pakai Fupei untuk cari teman baru. Banyak yang mendapat teman baru, bahkan bejodoh di Fupei. Maka, meskipun sudah tidak berjalan dengan investor, sampai sekarang saya masih mempertahankan Fupei karena ada nilai sejarahnya buat saya secara pribadi.
Bisa diceritakan berdirinya Bundagaul.com, Pendek.in, Infoiklan.com, Sixreps, Superbestbeal.com, Autosally.com, dan Travelnesia.com?
Pada mulanya justru saya mendirikan Infoiklan.com. Saya pikir domainnya bagus jadi masih saya pertahankan. Lalu semester akhir kuliah, saya mendirikan Fupei. Saat lulus kuliah dan mulai menjadikan Fupei sebagai bisnis, saya berpikir, penghasilan utama Fupei adalah dari iklan. Tetapi ternyata para pengiklan mengharapkan website yang segmented, sedangkan Fupei sangat general. Akhirnya saya buat Bundagaul.com yang lebih segmented. Ternyata saya tidak menemukan partner yang tepat untuk membangun Bundagaul.com, sehingga web ini sekarang masih dalam tahap pengembangan.
Kalau Pendek.in itu hanya proyek lucu-lucan aja, bukan proyek yang serius. Kalau Autosally.com itu saya dirikan bersama partner saya di Founder Institute. Waktu itu seharusnya saya ke San Fransisco tapi karena visa ditahan, maka saya tidak berangkat. Partner saya di San Francisco yang mendirikan Autosally.com, dia yang sekarang mengurusi semuanya meskipun belum berjalan, masih tahap pengembangan. Sedangkan Superbestdeal saya hanya nyumbang ide aja, eksekutornya partner saya. Kalau Sixreps.com itu saya menjadi co-founder bersama Denny Santoso. Khusus untuk Sixreps.com saya bekerja full time.
Sixreps.com anggotanya sudah 25 ribu-an, Fupei.com 200 ribuan, Bundagaul.com hanya dua ribuan, yang lainnya masih dalam tahap pengembangan jadi belum punya member. Untuk Pendek.in dan Superbestdeal memang tidak merekrut member, jadi tidak ada data member.
Dengan start up sebanyak itu, bagaimana cara Sanny mengatur waktu?
Kalau Autosally.com dan Travelnesia.com itu masih dalam tahap pengembangan. Sedangkan Infoiklan.com sudah tidak saya urusi lagi, hanya mempertahankan domainnya saja. Pendek.in dan Fupei.com sudah bisa berjalan sendiri, jadi saya biarkan jalan sendiri. Superbestdeal.com saya hanya konseptor, jadi yang menjalankan partner saya. Bundagaul.com masih saya biarkan karena saya belum menemukan partner yang tepat. Jadi saat ini saya hanya full di Sixreps.com.
Untuk mengatur waktu, saya bersyukur punya partner yang sangat mengerti kondisi saya. Mereka tahu saya mengerti tanggung jawab saya. Dan kebetulan hampir semua start up yang saya dirikan dasarnya social network, jadi kalau ada pengembangan untuk satu web, bisa dikembangkan juga untuk yang lain.
Sebelum menjadi enterpreneur digital, apakah pernah bekerja sebagai karyawan?
Selama lulus kuliah sampai sekarang sebetulnya saya belum pernah jadi karyawan tetap. Saya ditawari bekerja justru setahun terakhir. Tahun lalu saya ditawari bekerja full time untuk sebuah perusahaan handset lokal untuk mengurusi aplikasi yang mereka bangun. Tapi saya hanya bertahan tiga bulan, karena saya merasa, menjadi karyawan ada batas-batas untuk inovasi, batas-batas untuk melakukan inisiatif. Sedangkan ketika menjadi founder start up, saya merasa lebih punya kontrol terhadap diri saya sendiri dan saya bisa lebih banyak melakukan eksperimen. Saya merasakan betul perbedaannya.
Apa peran Sanny di komunitas #StartUpLokal?
Awalnya tahun lalu ketemu sama Natali Ardianto di FX, ngobrol-ngobrol karena kebetulan satu minat dan sama-sama CTO (Chief Technology Officer). Saya ceritakan ke Natali, bagaimana kalau bikin event kumpul-kumpul seperti di Founder Institute (FI). Kebetulan saya pernah ikut yang di Silicon Valley. Lalu kami sepakat ngumpul lagi. Pertama kali ngumpul ternyata yang datang 30-an orang. Dari situ kami mulai rutin ketemuan sebulan sekali. Lalu saya pikir, mengapa tidak ada sharings session seperti di FI?
Akhirnya pada pertemuan ketiga dimulai dengan sharing session dari founder start up yang sudah matang. Waktu itu yang kami undang bapak Isaak Jenie. Di pertemuan pertama, saya dan Natali (Natali Ardianto) sudah dibantu Nuniek (Nuniek. Pertemuan kedua, Ollie mulai bantu-bantu. Lalu saya pikir, Natali dan Nuniek kan suami istri, harus ada orang lain yang bantu mengurusi supaya netral. Bergabunglah Ollie di pertemuan ke empat dia sudah jadi inisiator.
Lalu mengapa Sanny memutuskan mengundurkan diri sebagai inisiator komunitas #StartUpLokal? Apa karena pegang JKTFI?
Sebetulnya saya mundur bukan karena JKTFI. Saya bisa saja menjalani kedua-duanya sekaligus, karena tidak terlalu menyita waktu. Hanya saja, ada beberapa keputusan yang diambil mayoritas yang sudah tidak sejalan dengan visi misi saya. Karena merasa kontribusi saya juga tidak terlalu besar, saya memilih mundur agar tidak menganggu yang lain. Tapi saya mundur bukan sepenuhnya mundur lalu pergi begitu saja. Selama masih ada yang bisa saya bantu, saya akan tetap bantu komunitas #StartUpLokal.
Pengalaman apa yang paling berkesan selama mengurusi komunitas start up lokal?
Saya tidak menyangka ternyata banyak orang-orang seperti saya, developer website yang baru mendirikan perusahaan digital. Ternyata jumlahnya lumayan banyak dan terus bertambah. Saya ketemu sama partner di Sixreps, Denny Santoso, dari start up meet up. Natali juga ketemu partner-nya di sana. Nuniek juga gabung di Fimela karena meet up.
Menurut Sanny, bagaimana perkembangan start up digital di Indonesia?
Start up lokal perkembangannya cukup bagus, tapi kita masih dalam tahap infancy. Kita masih seperti bayi yang sedang belajar berjalan. Kita mungkin butuh role model dari luar yang bisa di-adopt di Indonesia. Berita-berita mengenai start up lokal juga sudah mulai ramai di luar negeri. Sekarang tinggal bagaimana kita mempertahankan semua itu, agar saat mereka ke Indonesia, mereka betul-betul melihat keunggulan kita, bukan beritanya saja. Kalau dari sisi kompetisi menurut saya kita mampu kok, cuma bagaimana kita mengatur sustainability seperti yang dilakukan di luar.
Dari pengalaman mendirikan sekian banyak start up digital. Apa kiat yang bisa Anda bagikan buat para founder sebelum membuat perusahaan?
Sebelum membuat startup harus tahu problema apa yg harus mereka solve, kalau enggak ada, buat apa mereka dirikan start up? Sebelum bikin start up harus lihat market, bukan ide. Mungkin banyak juga yang punya background teknikal, cuma kalau mau memasarkan, ada teknologi yang harus diredam karena masyarakat tidak butuh itu. Percuma web keren tapi masyarakat tidak mau pakai. Contohnya Twitter, awalnya Twitter konsepnya sederhana sekali, tapi sekarang digunakan banyak orang dan berkembang dengan sendirinya. Contoh lainnya aplikasi Movrek. Berhubung saya suka nonton, saya pakai aplikasi itu untuk cek jadwal film. Sesederhana itu untuk aplikasi kita bisa bermanfaat bagi orang lain.
Motivasi pendiri start up minimal bisa seperti Koprol. Ada juga yang menjadikan kasus koprol sebagai role model yang bisa menjadi contoh kesuksesan untuk diceritakan kepada orang tua.
Apa target yang ingin diraih dari program JKTFI bagi perkembangan start up lokal?
Target kami adalah mencoba mengumpulkan sebanyak mungkin high potensial founder melalui sistem filter yang sudah ada. Pada saat terpilih, menteor-mentor mereka akan share dari dunia masing-masing sehingga harapan JKTFI adalah adanya start up baru yang didirikan dari berbagai aspek yang berbeda. Kalau ada dua yang sama, bergabung saja agar lebih kuat. Start up yang akan lolos nanti adalah start up yang memang kompeten untuk masuk ke pasar yang sebenarnya. Start up tidak lagi hanya sebagai tren, tapi start up didirikan untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi di Indonesia.
Terakhir, bagaimana dukungan pemerintah selama ini terhadap perkembangan start up lokal di mata Sanny?
Menurut saya kita tidak boleh bergantung kepada dukungan pemerintah. Start up lokal bukan center of Indonesia, bukan center of problem di Indonesia. Banyak hal yang harus diurusi pemerintah yang menjadi prioritas. Jadi kita jangan terpaku dengan bantuan pemerintah. Kasus kita sebetulnya sama dengan yang dialami perusahaan-perusahaan di Silicon Valley yang tidak mendapat dukungan dari pemerintah secara langsung. Tapi mereka bisa jadi Silicon Valley yang sekarang, dalam waktu 10 tahun. Mereka berkembang sendiri, build network sendiri, sharing antar komunitas mereka sendiri. Kita pun sudah ada di jalan yang sama, jadi kita lanjutkan saja apa yang sudah kita lakukan sampai sejauh ini. Kalau akhirnya nanti pemerintah mendukung, ya anggap itu bonus saja.
Saat itu ia masih berstatus mahasiswa Univesitas Bina Nusantara jurusan Teknologi Informasi dan Statistik. Tak ada niat untuk menjadikan jejaring sosial yang dibangunnya tersebut menjadi sebuah bisnis. Namun, setelah lulus kuliah dan mendapat investor, ia sadar, apa yang dibangunnya bisa menghasilkan uang. Ia pun mengurusi Fupei.com bersama investor.
Meski hanya bertahan 9 bulan berjalan bersama investor, hingga kini Sanny masih mempertahankan Fupei karena jejaring sosial tersebut memiliki nilai sejarah bagi dirinya secara pribadi. Ia kemudian membangun start up lainnya seperti Bundagaul.com, Pendek.in, Infoiklan.com, Sixreps, Superbestdeal.com, Autosally.com, dan Travelnesia.com.
Aktifitas di dunia bisnis digital membantunya mengenal pendiri-pendiri start up yang lain, salah satunya Natali Ardianto. Pertemuannya dengan Natali, tanpa sengaja justru melahirkan terbentuknya komunitas #StartUpLokal. Pengalamannya mengikuti program Founder Institute di Silicon Valley bersama Novistiar Rustandi juga menginspirasi Sanny untuk membuat program yang sama di Jakarta dan melahirkan Jakarta Founder Institute (JKTFI).
Sanny pun berbagi pengalamannya kepada Kompas.com di sela-sela acara Jakarta Founder Institute, di Jakarta, akhir Agustus 2011 lalu. Berikut wawancara dengan Sanny. .
Bisa diceritakan awal mula mendirikan bisnis digital?
Awalnya saya tidak berniat untuk berbisnis digital. Saya punya background TI karena kuliah saya adalah jurusan Teknologi Informasi dan Statistik. Saat kuliah, sekitar tahun 2004, saya harus freelance untuk menjadi web developer dan saya pun membuat website hanya untuk portfolio. Saya terinpirasi dari kesuksesan Friendster (FS) dengan jejaring sosialnya. Iseng saya coba buat yang sama persis dan ternyata bisa. Saya terbantu dari keanggotaan FS karena banyak anggota FS yang juga daftar ke Fupei.com. Setelah lulus kuliah, saya malah mendapatkan investor. Meskipun hanya berjalan 9 bulan dengan investor, sampai sekarang saya masih mempertahankan Fupei.com dan mengurusinya sendiri.
Mengapa memilih untuk tetap mempertahankan Fupei?
Banyak anggota Fupei.com yang menggunakan Fupei karena mereka bangga menggunakan aplikasi buatan lokal, asli Indonesia. Selain itu, kalau FS dan FB untuk mencari teman lama, maka mereka pakai Fupei untuk cari teman baru. Banyak yang mendapat teman baru, bahkan bejodoh di Fupei. Maka, meskipun sudah tidak berjalan dengan investor, sampai sekarang saya masih mempertahankan Fupei karena ada nilai sejarahnya buat saya secara pribadi.
Bisa diceritakan berdirinya Bundagaul.com, Pendek.in, Infoiklan.com, Sixreps, Superbestbeal.com, Autosally.com, dan Travelnesia.com?
Pada mulanya justru saya mendirikan Infoiklan.com. Saya pikir domainnya bagus jadi masih saya pertahankan. Lalu semester akhir kuliah, saya mendirikan Fupei. Saat lulus kuliah dan mulai menjadikan Fupei sebagai bisnis, saya berpikir, penghasilan utama Fupei adalah dari iklan. Tetapi ternyata para pengiklan mengharapkan website yang segmented, sedangkan Fupei sangat general. Akhirnya saya buat Bundagaul.com yang lebih segmented. Ternyata saya tidak menemukan partner yang tepat untuk membangun Bundagaul.com, sehingga web ini sekarang masih dalam tahap pengembangan.
Kalau Pendek.in itu hanya proyek lucu-lucan aja, bukan proyek yang serius. Kalau Autosally.com itu saya dirikan bersama partner saya di Founder Institute. Waktu itu seharusnya saya ke San Fransisco tapi karena visa ditahan, maka saya tidak berangkat. Partner saya di San Francisco yang mendirikan Autosally.com, dia yang sekarang mengurusi semuanya meskipun belum berjalan, masih tahap pengembangan. Sedangkan Superbestdeal saya hanya nyumbang ide aja, eksekutornya partner saya. Kalau Sixreps.com itu saya menjadi co-founder bersama Denny Santoso. Khusus untuk Sixreps.com saya bekerja full time.
Sixreps.com anggotanya sudah 25 ribu-an, Fupei.com 200 ribuan, Bundagaul.com hanya dua ribuan, yang lainnya masih dalam tahap pengembangan jadi belum punya member. Untuk Pendek.in dan Superbestdeal memang tidak merekrut member, jadi tidak ada data member.
Dengan start up sebanyak itu, bagaimana cara Sanny mengatur waktu?
Kalau Autosally.com dan Travelnesia.com itu masih dalam tahap pengembangan. Sedangkan Infoiklan.com sudah tidak saya urusi lagi, hanya mempertahankan domainnya saja. Pendek.in dan Fupei.com sudah bisa berjalan sendiri, jadi saya biarkan jalan sendiri. Superbestdeal.com saya hanya konseptor, jadi yang menjalankan partner saya. Bundagaul.com masih saya biarkan karena saya belum menemukan partner yang tepat. Jadi saat ini saya hanya full di Sixreps.com.
Untuk mengatur waktu, saya bersyukur punya partner yang sangat mengerti kondisi saya. Mereka tahu saya mengerti tanggung jawab saya. Dan kebetulan hampir semua start up yang saya dirikan dasarnya social network, jadi kalau ada pengembangan untuk satu web, bisa dikembangkan juga untuk yang lain.
Sebelum menjadi enterpreneur digital, apakah pernah bekerja sebagai karyawan?
Selama lulus kuliah sampai sekarang sebetulnya saya belum pernah jadi karyawan tetap. Saya ditawari bekerja justru setahun terakhir. Tahun lalu saya ditawari bekerja full time untuk sebuah perusahaan handset lokal untuk mengurusi aplikasi yang mereka bangun. Tapi saya hanya bertahan tiga bulan, karena saya merasa, menjadi karyawan ada batas-batas untuk inovasi, batas-batas untuk melakukan inisiatif. Sedangkan ketika menjadi founder start up, saya merasa lebih punya kontrol terhadap diri saya sendiri dan saya bisa lebih banyak melakukan eksperimen. Saya merasakan betul perbedaannya.
Apa peran Sanny di komunitas #StartUpLokal?
Awalnya tahun lalu ketemu sama Natali Ardianto di FX, ngobrol-ngobrol karena kebetulan satu minat dan sama-sama CTO (Chief Technology Officer). Saya ceritakan ke Natali, bagaimana kalau bikin event kumpul-kumpul seperti di Founder Institute (FI). Kebetulan saya pernah ikut yang di Silicon Valley. Lalu kami sepakat ngumpul lagi. Pertama kali ngumpul ternyata yang datang 30-an orang. Dari situ kami mulai rutin ketemuan sebulan sekali. Lalu saya pikir, mengapa tidak ada sharings session seperti di FI?
Akhirnya pada pertemuan ketiga dimulai dengan sharing session dari founder start up yang sudah matang. Waktu itu yang kami undang bapak Isaak Jenie. Di pertemuan pertama, saya dan Natali (Natali Ardianto) sudah dibantu Nuniek (Nuniek. Pertemuan kedua, Ollie mulai bantu-bantu. Lalu saya pikir, Natali dan Nuniek kan suami istri, harus ada orang lain yang bantu mengurusi supaya netral. Bergabunglah Ollie di pertemuan ke empat dia sudah jadi inisiator.
Lalu mengapa Sanny memutuskan mengundurkan diri sebagai inisiator komunitas #StartUpLokal? Apa karena pegang JKTFI?
Sebetulnya saya mundur bukan karena JKTFI. Saya bisa saja menjalani kedua-duanya sekaligus, karena tidak terlalu menyita waktu. Hanya saja, ada beberapa keputusan yang diambil mayoritas yang sudah tidak sejalan dengan visi misi saya. Karena merasa kontribusi saya juga tidak terlalu besar, saya memilih mundur agar tidak menganggu yang lain. Tapi saya mundur bukan sepenuhnya mundur lalu pergi begitu saja. Selama masih ada yang bisa saya bantu, saya akan tetap bantu komunitas #StartUpLokal.
Pengalaman apa yang paling berkesan selama mengurusi komunitas start up lokal?
Saya tidak menyangka ternyata banyak orang-orang seperti saya, developer website yang baru mendirikan perusahaan digital. Ternyata jumlahnya lumayan banyak dan terus bertambah. Saya ketemu sama partner di Sixreps, Denny Santoso, dari start up meet up. Natali juga ketemu partner-nya di sana. Nuniek juga gabung di Fimela karena meet up.
Menurut Sanny, bagaimana perkembangan start up digital di Indonesia?
Start up lokal perkembangannya cukup bagus, tapi kita masih dalam tahap infancy. Kita masih seperti bayi yang sedang belajar berjalan. Kita mungkin butuh role model dari luar yang bisa di-adopt di Indonesia. Berita-berita mengenai start up lokal juga sudah mulai ramai di luar negeri. Sekarang tinggal bagaimana kita mempertahankan semua itu, agar saat mereka ke Indonesia, mereka betul-betul melihat keunggulan kita, bukan beritanya saja. Kalau dari sisi kompetisi menurut saya kita mampu kok, cuma bagaimana kita mengatur sustainability seperti yang dilakukan di luar.
Dari pengalaman mendirikan sekian banyak start up digital. Apa kiat yang bisa Anda bagikan buat para founder sebelum membuat perusahaan?
Sebelum membuat startup harus tahu problema apa yg harus mereka solve, kalau enggak ada, buat apa mereka dirikan start up? Sebelum bikin start up harus lihat market, bukan ide. Mungkin banyak juga yang punya background teknikal, cuma kalau mau memasarkan, ada teknologi yang harus diredam karena masyarakat tidak butuh itu. Percuma web keren tapi masyarakat tidak mau pakai. Contohnya Twitter, awalnya Twitter konsepnya sederhana sekali, tapi sekarang digunakan banyak orang dan berkembang dengan sendirinya. Contoh lainnya aplikasi Movrek. Berhubung saya suka nonton, saya pakai aplikasi itu untuk cek jadwal film. Sesederhana itu untuk aplikasi kita bisa bermanfaat bagi orang lain.
Motivasi pendiri start up minimal bisa seperti Koprol. Ada juga yang menjadikan kasus koprol sebagai role model yang bisa menjadi contoh kesuksesan untuk diceritakan kepada orang tua.
Apa target yang ingin diraih dari program JKTFI bagi perkembangan start up lokal?
Target kami adalah mencoba mengumpulkan sebanyak mungkin high potensial founder melalui sistem filter yang sudah ada. Pada saat terpilih, menteor-mentor mereka akan share dari dunia masing-masing sehingga harapan JKTFI adalah adanya start up baru yang didirikan dari berbagai aspek yang berbeda. Kalau ada dua yang sama, bergabung saja agar lebih kuat. Start up yang akan lolos nanti adalah start up yang memang kompeten untuk masuk ke pasar yang sebenarnya. Start up tidak lagi hanya sebagai tren, tapi start up didirikan untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi di Indonesia.
Terakhir, bagaimana dukungan pemerintah selama ini terhadap perkembangan start up lokal di mata Sanny?
Menurut saya kita tidak boleh bergantung kepada dukungan pemerintah. Start up lokal bukan center of Indonesia, bukan center of problem di Indonesia. Banyak hal yang harus diurusi pemerintah yang menjadi prioritas. Jadi kita jangan terpaku dengan bantuan pemerintah. Kasus kita sebetulnya sama dengan yang dialami perusahaan-perusahaan di Silicon Valley yang tidak mendapat dukungan dari pemerintah secara langsung. Tapi mereka bisa jadi Silicon Valley yang sekarang, dalam waktu 10 tahun. Mereka berkembang sendiri, build network sendiri, sharing antar komunitas mereka sendiri. Kita pun sudah ada di jalan yang sama, jadi kita lanjutkan saja apa yang sudah kita lakukan sampai sejauh ini. Kalau akhirnya nanti pemerintah mendukung, ya anggap itu bonus saja.
Tak Melulu soal Dunia Perempuan
KOMPAS.com - Banyak perempuan pengusaha yang fokus
terhadap produk-produk yang tak jauh dari kehidupan mereka misalnya
menjual produk-produk seperti fashion, perlengkapan bayi, bunga, jasa
pembungkus kado, atau makanan. Tapi tak sedikit juga perempuan yang
membuat usaha yang bisa saja tak berkaitan dengan dunianya. Khususnya di
bisnis online, inovasi lebih beragam.
Misalnya saja para pembicara yang menjadi panelis dalam #StartUpLokal Meet Up V.17 di @america, Pacific Place, Jakarta, Kamis (8/9/2011) malam. Para panelis yang terdiri dari Shinta W. Dhanuwardoyo, Titi Rusdi, dan Anantya, adalah pebisnis online yang tidak memfokuskan bisnis mereka pada urusan wanita.
Shinta, yang lebih dikenal dengan Shinta Bubu membangun usaha Digital Agency untuk development web melalui Bubu.com. Titi, membangun usaha aplikasi mobile khusus untuk platform BlackBerry yang menonjolkan konten lokal. Sedangkan Ananta, membangun usaha web agency untuk membantu konsep, maintenance, dan desain web.
Pengguna jasa mereka bisa saja wanita, tapi usaha mereka tersebut tidak secara khusus diperuntukkan bagi kaum wanita. Dari dua perempuan inisiator komunitas #StartUpLokal pun, hanya Nuniek Tirta yang fokus terhadap dunia wanita, yakni membangun komunitas yang fokus pada fashion dan lifestyle yakni Fimela.com dan Hamilcantik.com. Sedangkan inisiator #StartUpLokal wanita lainnya, yakni Aulia Halimatussadiah, membangun bisnis-bisnis digital yang justru berkitan dengan buku NulisBuku dan Kutukutubuku serta games developer Tampalabs.
Beragamnya jenis bisnis yang mengunggulkan inovasi juga terlihat dari lima pitching atau unjuk ide yang dilakukan lima undangan terpilih. Dalam acara tersebut lima orang berkesempatan mengungkapkan ide bisnisnya yakni Indah Fitria, Suci Lestarini, Siti Nurazizah, Vera Lingga, dan Suci Lestari Yuana.
Suci Lestari Yuana bahkan melakukan presentasi jaraj jauh melalui video conference dari Perancis. Ia mendirikan Ar-Razaq, portal untuk memfasilitasi orang-orang terutama yang beragama muslim di Perancis dalam hal lowongan pekerjaan. Portal ini menghubungkan antara pemberi kerja, pencari kerja dan juga pencari partner bisnis muslim di Eropa. Ia mendapat inspirasi saat berbincang secara tak sengaja dengan sesama muslimah di Perancis yang sulit mendapatkan pekerjaan kantoran karena berjilbab.
Peserta lainnya, Indah mengungkapkan seputar bisnis digital yang dibangunnya, yakni TutorCon.com. Web ini fokus kepada jejaring sosial yang memberikan layanan menghubungkan tutor dengan siswanya. TutorCon berasal dari kata Tutorial dan Connected. Web ini diharapkan menjadi penghubung antara tutor dengan siswanya secara real time, kapan saja, di mana saja. Fitur-fitur yang tersedia di TutorCon adalah manajemen profil, e-learning, online classroom, dan fitur-fitur lain yang mendukung pembelajaran. Sistem pembelajaran yang berlaku adalah private distance learning.
Sementara itu, Rakhmita Akhsayanty menjelaskan web AsahAsuh.com. Web ini berfokus kepada kehidupan rumah tangga pasangan suami-istri berusia 21 hingga 40 tahun. Web ini memiliki fitur artikel, konsultasi, dan tes psikologi. Isi artikel-artikel di dalam web ini adalah artikel yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Sedangkan konsultasi dimaksudkan agar pasutri tidak malu jika ingin berkonsultasi masalah rumah tangga, sehingga bisa konsultasi secara online. Untuk fitur tes psikologi, berguna bagi suami-istri yang mulai merasakan tekanan dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Pitching selanjutnya dilakukan oleh Siti Nurazizah yang memperkenalkan tentang Jejak.us. Web ini terinspirasi dari Google maps, sehingga Siti membuat jejaring sosial khusus bagi pecinta traveling yang berbasis lokasi. Para pecinta traveling bisa mendapatkan informasi seputar tempat wisata, informasi penginapan, informasi kuliner, wisata belanja, dan lainnya dari artikel yang dibuat oleh Jejak.us maupun yang di-sharing oleh para pengguna Jejak.us.
Satu-satunya peserta pitching yang fokus kepada dunia wanita mungkin adalah Vera Lingga, yang mendirikan womanbizlife.com. Web ini merupakan blog yang diperuntukkan bagi entrepreneur wanita untuk saling menginspirasi dan slaing mendukung. Web ini nantinya akan berisi strategi dan tips bisnis, kepemimpinan, info event, artikel gaya hidup, dan kisah-kisah sukses pengusaha wanita baik dari maupun luar negeri.
Peserta terakhir, Suci Lestarini, memperkenalkan tentang Talknesia. Meskipun tidak berbentuk web tunggal, melainkan subdomain dari Indonesia Berprestasi (kios.indonesiaberprestasi.web.id), namun Talknesia memiliki misi yang bagus. Tujuannya mengangkat nama Indonesia melalui hal-hal yang sederhana. Misalnya membuat produk-produk sehari-hari yang tulisannya menandakan bahwa penggunanya bangga sebagai rakyat Indonesia. Misalnya kaos bertuliskan "Save Komodo", mug bertuliskan "Cinta Indonesia", atau pin yang berbicara tentang kecintaan dengan Indonesia.
Meskipun semua yang dibahas dalam pitching masih berbentuk ide dan baru AsahAsuh.com yang sudah mulai berjalan, namun dari meet up kali ini kita bisa melihat, bahwa pebisnis digital memiliki peluang bisnis yang lebih luas. Para wanita ini telah membuktikan, meskipun mereka wanita, mereka tak harus membangun bisnis digital yang berfokus kepada dunia wanita saja. Banyak hal yang bisa dieksplorasi selain fashion dan masak-memasak. Dalam dunia bisnis digital, seorang wanita bahkan bisa melakukan coding hingga larut malam di kamarnya sendiri, berbeda dengan bisnis offline yang terkait hari kerja dan jam kerja.
Misalnya saja para pembicara yang menjadi panelis dalam #StartUpLokal Meet Up V.17 di @america, Pacific Place, Jakarta, Kamis (8/9/2011) malam. Para panelis yang terdiri dari Shinta W. Dhanuwardoyo, Titi Rusdi, dan Anantya, adalah pebisnis online yang tidak memfokuskan bisnis mereka pada urusan wanita.
Shinta, yang lebih dikenal dengan Shinta Bubu membangun usaha Digital Agency untuk development web melalui Bubu.com. Titi, membangun usaha aplikasi mobile khusus untuk platform BlackBerry yang menonjolkan konten lokal. Sedangkan Ananta, membangun usaha web agency untuk membantu konsep, maintenance, dan desain web.
Pengguna jasa mereka bisa saja wanita, tapi usaha mereka tersebut tidak secara khusus diperuntukkan bagi kaum wanita. Dari dua perempuan inisiator komunitas #StartUpLokal pun, hanya Nuniek Tirta yang fokus terhadap dunia wanita, yakni membangun komunitas yang fokus pada fashion dan lifestyle yakni Fimela.com dan Hamilcantik.com. Sedangkan inisiator #StartUpLokal wanita lainnya, yakni Aulia Halimatussadiah, membangun bisnis-bisnis digital yang justru berkitan dengan buku NulisBuku dan Kutukutubuku serta games developer Tampalabs.
Beragamnya jenis bisnis yang mengunggulkan inovasi juga terlihat dari lima pitching atau unjuk ide yang dilakukan lima undangan terpilih. Dalam acara tersebut lima orang berkesempatan mengungkapkan ide bisnisnya yakni Indah Fitria, Suci Lestarini, Siti Nurazizah, Vera Lingga, dan Suci Lestari Yuana.
Suci Lestari Yuana bahkan melakukan presentasi jaraj jauh melalui video conference dari Perancis. Ia mendirikan Ar-Razaq, portal untuk memfasilitasi orang-orang terutama yang beragama muslim di Perancis dalam hal lowongan pekerjaan. Portal ini menghubungkan antara pemberi kerja, pencari kerja dan juga pencari partner bisnis muslim di Eropa. Ia mendapat inspirasi saat berbincang secara tak sengaja dengan sesama muslimah di Perancis yang sulit mendapatkan pekerjaan kantoran karena berjilbab.
Peserta lainnya, Indah mengungkapkan seputar bisnis digital yang dibangunnya, yakni TutorCon.com. Web ini fokus kepada jejaring sosial yang memberikan layanan menghubungkan tutor dengan siswanya. TutorCon berasal dari kata Tutorial dan Connected. Web ini diharapkan menjadi penghubung antara tutor dengan siswanya secara real time, kapan saja, di mana saja. Fitur-fitur yang tersedia di TutorCon adalah manajemen profil, e-learning, online classroom, dan fitur-fitur lain yang mendukung pembelajaran. Sistem pembelajaran yang berlaku adalah private distance learning.
Sementara itu, Rakhmita Akhsayanty menjelaskan web AsahAsuh.com. Web ini berfokus kepada kehidupan rumah tangga pasangan suami-istri berusia 21 hingga 40 tahun. Web ini memiliki fitur artikel, konsultasi, dan tes psikologi. Isi artikel-artikel di dalam web ini adalah artikel yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Sedangkan konsultasi dimaksudkan agar pasutri tidak malu jika ingin berkonsultasi masalah rumah tangga, sehingga bisa konsultasi secara online. Untuk fitur tes psikologi, berguna bagi suami-istri yang mulai merasakan tekanan dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Pitching selanjutnya dilakukan oleh Siti Nurazizah yang memperkenalkan tentang Jejak.us. Web ini terinspirasi dari Google maps, sehingga Siti membuat jejaring sosial khusus bagi pecinta traveling yang berbasis lokasi. Para pecinta traveling bisa mendapatkan informasi seputar tempat wisata, informasi penginapan, informasi kuliner, wisata belanja, dan lainnya dari artikel yang dibuat oleh Jejak.us maupun yang di-sharing oleh para pengguna Jejak.us.
Satu-satunya peserta pitching yang fokus kepada dunia wanita mungkin adalah Vera Lingga, yang mendirikan womanbizlife.com. Web ini merupakan blog yang diperuntukkan bagi entrepreneur wanita untuk saling menginspirasi dan slaing mendukung. Web ini nantinya akan berisi strategi dan tips bisnis, kepemimpinan, info event, artikel gaya hidup, dan kisah-kisah sukses pengusaha wanita baik dari maupun luar negeri.
Peserta terakhir, Suci Lestarini, memperkenalkan tentang Talknesia. Meskipun tidak berbentuk web tunggal, melainkan subdomain dari Indonesia Berprestasi (kios.indonesiaberprestasi.web.id), namun Talknesia memiliki misi yang bagus. Tujuannya mengangkat nama Indonesia melalui hal-hal yang sederhana. Misalnya membuat produk-produk sehari-hari yang tulisannya menandakan bahwa penggunanya bangga sebagai rakyat Indonesia. Misalnya kaos bertuliskan "Save Komodo", mug bertuliskan "Cinta Indonesia", atau pin yang berbicara tentang kecintaan dengan Indonesia.
Meskipun semua yang dibahas dalam pitching masih berbentuk ide dan baru AsahAsuh.com yang sudah mulai berjalan, namun dari meet up kali ini kita bisa melihat, bahwa pebisnis digital memiliki peluang bisnis yang lebih luas. Para wanita ini telah membuktikan, meskipun mereka wanita, mereka tak harus membangun bisnis digital yang berfokus kepada dunia wanita saja. Banyak hal yang bisa dieksplorasi selain fashion dan masak-memasak. Dalam dunia bisnis digital, seorang wanita bahkan bisa melakukan coding hingga larut malam di kamarnya sendiri, berbeda dengan bisnis offline yang terkait hari kerja dan jam kerja.
Mau Tahu Rahasia "Female Entrepreneur" di Industri Digital?
JAKARTA, KOMPAS.com - Start Up Meet Up, event
pertemuan anggota komunitas #Staruplokal akan kembali digelar. Bulan
September ini, Start Up Meet Up V.17 akan menghadirkan
pembicara-pembicara perempuan dengan moderator perempuan karena tema
yang diangkat adalah Female Entrepreneurs. Peretmuan ini akan diadakan
pada Kamis (8/9/2011) mulai pukul 19.00 WIB di @america Pacific Place,
SCBD, Jakarta. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.
Para pembicara yang akan hadir dalam event ini diantaranya Shinta W. Dhanuwardoyo, founder dan CEO bubu.com. Shinta akan membahas tentang pengalamannya mengunjungi Silicon Valley. Pembicara lainnya adalah Anantya (co-founder dan executive director Think.web) serta Titi Rusdi (CEO 7Langit), yang akan membahas tentang bagaimana cara membangun perusahaan berbasis teknologi yang sukses.
Selain itu akan akan sesia video conference bersama Shaherose Charania (CEO, Founder Women 2.0, women2.org) dan Anita Schillhorn (dari Women 2.0). Beberapa perempuan yang memiliki ide mendirikan start up juga akan mendapatkan kesempatan untuk melakukan pitching atau unjuk diri dalam acara ini siapa tahu dapat kesempatan mendapatkan mitra untuk memulai usahanya.
Pendaftaran peserta dan konfirmasi kehadiran bisa dilakukan dengan mengakses link http://startuplokal.org/2011/08/29/sl-17/
Para pembicara yang akan hadir dalam event ini diantaranya Shinta W. Dhanuwardoyo, founder dan CEO bubu.com. Shinta akan membahas tentang pengalamannya mengunjungi Silicon Valley. Pembicara lainnya adalah Anantya (co-founder dan executive director Think.web) serta Titi Rusdi (CEO 7Langit), yang akan membahas tentang bagaimana cara membangun perusahaan berbasis teknologi yang sukses.
Selain itu akan akan sesia video conference bersama Shaherose Charania (CEO, Founder Women 2.0, women2.org) dan Anita Schillhorn (dari Women 2.0). Beberapa perempuan yang memiliki ide mendirikan start up juga akan mendapatkan kesempatan untuk melakukan pitching atau unjuk diri dalam acara ini siapa tahu dapat kesempatan mendapatkan mitra untuk memulai usahanya.
Pendaftaran peserta dan konfirmasi kehadiran bisa dilakukan dengan mengakses link http://startuplokal.org/2011/08/29/sl-17/
Natali: Passion Saya Dunia Digital
KOMPAS.com - Natali Ardianto adalah salah satu dari empat inisiator komunitas #StartUpLokal. Awal karirnya di industri start up digital
dimulai dari mengurusi hal-hal teknis untuk Urbanesia.com, lalu menjadi
CTO (Chief Technology Officer) PT Warato Indonesia, COO (Chief
Operating Officer) untuk Tiket.com dan kini menjadi advisor untuk
Golfnesia.com dan Bouncity.
Sebelum menjadi enterpreneur digital, ia juga punya banyak pengalaman sebagai karyawan di beberapa perusahaan. Ternyata, kesuksesannya saat ini bermula sejak ia kecil. Dan sejak remaja ia sadar, bahwa passion-nya adalah dunia digital.
Natali Ardianto membagi tentang ketertarikannya kepada dunia digital dan perjalanan karirnya kepada Kompas.com lewat wawancara elektronik berikut ini.
Bisa diceritakan asal mula menjadi seorang enterpreneur digital? Mengapa memilih industri digital, bukan bisnis offline?
Semua diawali ketika saya masih kelas 5 SD, di sekolah ada komputer Apple di mana di dalamnya ada game yang bernama Tortoise. Pada dasarnya game tersebut adalah menggambar garis-garis dengan memasukkan koordinat X,Y. Waktu itu merupakan pengalaman yang sangat berkesan untuk saya. Lalu ketika SMP, saya mengikuti ekskul komputer. Waktu itu sedikit sekali yang mau ekstra kurikuler komputer. Pada kelas 3 SMP, saya diajarkan DBase3+, sebuah program yang mirip Microsoft Access untuk aplikasi sekarang ini, dimana saya harus coding untuk membuat form-form input.
Ketertarikan saya dengan dunia programming pun bertumbuh. Bahasa pemrograman seperti BASIC, QBasic, Pascal, Java, saya lahap semuanya. Saya juga masuk Tim Olimpiade Komputer Indonesia dan kompetisi-kompetisi programming lainnya. Dari situ saya tahu bahwa passion saya adalah dunia digital, dan saya mengejar passion saya.
Kesempatan pertama menjadi entrepreneur itu datang ketika rekan satu kantor saya Selina Limman memiliki ide untuk membuat city directory bernama Urbanesia.com, dim ana saya juga memiliki ide yang sama dua tahun sebelumnya, dan mengembangkan prototype situs lokasi.info dan direktori.info semasa saya menjadi konsultan IT (dua situs ini sudah mati sekarang).
Apakah sebelum menjadi enterpreneur, pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan? Bagaimana pengalaman Anda?
Iya, banyak sekali. Diawali dengan menjadi instruktur komputer di salah satu training center terbesar di Indonesia bernama Inixindo. Disini saya mengajar banyak materi, tapi semua materi yang saya ajarkan fokus ke industri web. Semisal PHP, HTML, CSS, Flash, database mulai dari MySQL, SQL Server, Oracle dan IBM DB2. Dari sini saya mengasah kemampuan berkomunikasi dan presentasi saya. Dalam dua tahun saya mengajar lebih dari 1000 peserta.
Setelah itu saya bekerja sebagai konsultan, web developer, dan yang terakhir bekerja sebagai digital strategist di SemutApi Colony (SAC). Disini saya bertemu dengan mentor-mentor saya seperti Danny Wirianto, Antonny Liem dan Herman Kwok. Di SAC inilah saya belajar, bahwa jika anda developer yang hebat sekali, tapi tidak punya strategi marketing, maka kemungkinan untuk monetisasi (menghasilkan uang) jauh lebih kecil ketimbang jika anda seorang marketer yang hebat sekali tanpa ada developer.
Jika seorang developer dapat menghasilkan Rp 50 juta per proyek, seorang marketer dapat menghasilkan Rp 850 juta per proyek, dan bisa mempekerjakan developer terbaik di industri. Itulah kenapa sebaiknya jika anda entrepreneur dengan latar belakang teknis atau IT, maka sebaiknya anda menjadi CTO (Chief Technology Officer) dan mengajak businessman yang komersil dan memiliki network yang luas untuk menjadi CEO (Chief Executive Officer).
Jika sebelumnya pernah bekerja sebagai karyawan, apa perbedaan yang paling terasa, ketika menjadi karyawan dengan ketika menjadi enterpreneur?
Perbedaan yang mendasar adalah ketika menjadi entrepreneur, Anda yang mengambil keputusan. Namun disinilah banyak kesalahan persepsi dari para entrepreneur-entrepreneur muda. Keputusan yang Anda buat itu akan mempengaruhi masa depan perusahaan Anda dan juga karyawan Anda. Seharusnya keputusan ini didasarkan pada pengalaman, pengetahuan, dan fakta, bukan berdasarkan perasaan atau keinginan belaka.
Ketika kita menjadi karyawan, Anda bisa menjadi spesialisasi di satu hal. Ketika kita menjadi entrepreneur, anda harus menjadi generalis, dan memahami semua aspek bisnis mulai dari sales, marketing, komunikasi, branding, accounting, legal dan lain-lain. Ketika menjadi entrepreneur, Anda harus lebih banyak lagi belajar, dan tidak bisa hanya belajar yang Anda sukai. Mau tidak mau, akuntansi pun harus dipelajari lagi.
Bagaimana latar belakang sampai Anda mendirikan begitu banyak layanan di internet seperti Tiket.com, Golfnesia.com, Urbanesia.com, dan Bouncity?
Diawali dengan Urbanesia.com. Selina Limman mengajak saya untuk bergabung mengembangkan Urbanesia.com dari sisi teknis. Di sini saya benar-benar belajar apa itu entrepreneurship, dan mendapatkan banyak pengalaman yang berharga. Setelah itu, saya di rekrut oleh PT Warato Indonesia untuk menjadi CTO. Warato ini adalah perusahaan start up baru dengan investasi 50:50 dari Indonesia dan Jepang.
Terakhir, saya direkrut Wenas Agusetiawan untuk bergabung di Tiket.com sebagai COO. Sebagai informasi, sayalah yang paling tua di tim ini. Rata-rata rekan-rekan lainnya berusia 24 tahun. Namun saya sangat percaya dengan tim yang dikumpulkan oleh trio Wenas, Dimas dan Jeffry ini, karena track record produk-produk yang sudah mereka hasilkan bukanlah produk kacangan. Sebutlah divisi enterprise mereka untuk banking solution, lalu produk-produk seperti hemat.com, wayangforce.com, bouncity.com dan sekarang tiket.com.
Start up membutuhkan tiga hal agar produknya sukses: talent, network, capital. Ketiga hal ini terpenuhi di tim tiket.com yang sekarang. Bahkan kita memiliki 'super angel investor' yang berani invest di ide kami. Ya, baru ide! Karena situs kami baru akan launch November 2011 ini.
Saat ini saya sudah tidak terlibat di Urbanesia.com. Saya sangat bangga bisa terlibat di awal-awal pengembangan Urbanesia ini. Di Golfnesia.com, kini saya menjadi advisor untuk mereka. Sebenarnya target market yang kami incar untuk Golfnesia adalah pasar internasional.
Untuk Tiket.com, saya belum bisa mengungkapkan detail lebih banyak lagi, namun jika memperhatikan Facebook page kami, sudah banyak yang meminta tiket untuk segala moda transportasi. Ini memacu kami untuk mengembangkan situs lebih cepat lagi!
Saya di Bouncity hanya sebagai advisor saja, dan masuk ke dalam timnya belakangan. Disini saya membantu sedikit di sisi teknikal dan juga networking terutama ke media online dan offline.
Bagaimana cara mengatur waktu untuk bisa mengelola semua bisnis tersebut, ditambah lagi harus mengurusi event bulanan komunitas start-up lokal dan Project Eden?
Fokus dan profesionalisme. Itu kata kuncinya. Saya sudah tidak terlibat lagi untuk urbanesia.com, dan ketika saya meninggalkan golfnesia.com untuk mengembangkan tiket.com, saya secara langsung bilang saya tidak bisa terlalu involve di golfnesia.com, bahkan part-time sekali pun. Mereka memahami posisi saya, oleh karena itu saya ditawarkan menjadi advisor mereka dan sampai sekarang saya memegang saham di sana.
Untuk event bulanan di #StartupLokal dan Eden, sebenarnya ini masalah time management. Sebisa mungkin aktivitas tersebut dilakukan di luar jam kerja saya. Namun jika terpaksa mengganggu, saya harus mengganti waktu yang hilang. Tapi saya juga bukan orang yang perhitungan dalam hal bekerja. Jika saya sudah coding, saya bahkan bisa setiap hari tidur jam 3 pagi.
Apa kendala yang dihadapi dalam mengembangkan banyak situs baru?
Sebenarnya masalah paling dasar dalam mengembangkan ketiga start up tersebut adalah human resource. Sumber daya manusia yang kompeten itu sangat sulit ditemukan. Dan kalau sudah kompeten, belum tentu dia profesional dan produktif. Masalahnya, lulusan jaman sekarang, terutama yang fresh graduate, mencarinya uang belaka.
Sebagai informasi, ketika saya mengambil posisi instruktur IT, gaji saya waktu itu Rp 1,5 juta per bulan. Rata-rata rekan saya (saya lulusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia) itu gajinya paling jelek Rp 3 juta per bulan waktu itu. Tapi ya itu tadi, saya mengejar pengalaman dan target saya adalah mengubah kepribadian saya yang tadinya introvert agar menjadi ekstrovert. Saya percaya bahwa jika kamu melakukan yang terbaik, bahkan 110 persen lebih baik dari yang lainnya, maka uang akan datang sendiri ke kamu. Itulah kenapa saya selalu dibajak, tidak pernah saya melamar pekerjaan.
Setelah sukses dengan bisnis digital, apakah tertarik untuk membuka bisnis offline seperti franchise atau yang lainnya?
Sebenarnya dalam strategi-strategi yang saya lakukan di startups saya, salah satu fokusnya adalah B2B (business-to-business). Jadi ya tentunya pasti akan ada bisnis offline, seperti franchise, keagenan atau sejenisnya, tapi tentunya dengan memanfaatkan online juga. Saya ngga bisa jauh-jauh dari dunia online.
Bagaimana prosesnya bisa menjadi inisiator #StartUpLokal?
Diawali dengan pertemuan tidak sengaja saya dengan Sanny Gaddafi, Rama Mamuaya, Dondi Hananto dan Aulia Masna di sebuah coffee shop di daerah Sudirman. Padahal malam itu saya hendak bertemu orang lain untuk membicarakan startups baru. Jadi itu sebuah kebetulan yang luar biasa, dan setelah kami bubar waktu itu, kami berjanji untuk bertemu lagi sebulan kemudian.
Yang terjadi sebulan kemudian ternyata melebihi ekspektasi kami. Yang hadir saat itu berjumlah 33 orang! Dan semua diawali dengan ajakan kami kepada rekan-rekan startup kami di Twitter menggunakan tagar #StartupLokal. Inisiator saat itu Rama Mamuaya, Sanny Gaddafi dan saya sendiri. Saya mengajak Nuniek Tirta karena dia ahli dalam membuat komunitas dan kemudian kami mengajak Ollie untuk turut bergabung.
Pengalaman apa saja yang paling berkesan selama mengurusi komunitas start up lokal?
Pengalaman yang paling berkesan tentunya ketika kami diundang oleh Pemerintah Irlandia melalui perusahaan pemerintah bernama Enterprise Ireland. Pada waktu pertama kali bertemu pihak Irlandia di Jakarta, pertemuan dilakukan pada pukul 11 malam di Hotel Kempinski. Uniknya, kami semua inisiator bisa turut hadir untuk melakukan pertemuan itu, padahal biasanya sulit sekali untuk kami semua berkumpul karena kesibukan masing-masing.
Setelah satu jam melakukan pembicaraan, menceritakan tentang usaha-usaha yang telah kami lakukan di Indonesia ini, Pat O'Riordan dari Enterprise Ireland tiba-tiba berujar "Bagaimana jika saya mengundang kalian semua untuk datang ke Dublin, "Silicon Valley"nya Eropa? Kami sangat senang sekali waktu itu. Dan pengalaman di Irlandia selama tujuh hari telah membuka mata kami tentang Industri IT Irlandia yang telah sangat matang dan berlangsung selama 25 tahun ini.
Pengalaman lainnya yang juga cukup berkesan adalah ketika Departemen Perdagangan melakukan konferensi pers mengenai GEPI (Global Entrepreneurship Program Indonesia) bersama chairman GEPI Chris Kanter, ibu Mari Elka sendiri dan saya mewakili startups di Indonesia. Waktu itu saya telat datang 30 menit karena saya menghadiri event lain sebelumnya. Walaupun saya sudah naik ojek dan berlari-lari di dalam gedung Departemen Perdagangan. Waktu itu saya panik dan malu sekali. Untung konferensi pers berjalan dengan lancar, dan malah hingga sekarang Depdag dan GEPI mendukung komunitas kami, semisal kami diberikan satu slot event dari pagi sampai sore di hari Sabtu di event PPKI (Pekan Produk Kreatif Indonesia) 2011, sebuah event yang digagas Departemen Perdagangan.
Bagaimana pandangan Natali tentang start up di Indonesia? Apa yang harus dimiliki oleh mereka untuk bisa berjalan dan mengembangkan usaha?
Saya sangat bangga dengan rekan-rekan start up yang sekarang, karena sekararang mereka semua mau belajar dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Start up harus punya jiwa pejuang, semisal ketika mereka melakukan pitch di depan investor dan investor tidak tertarik untuk melakukan investasi, bukan berarti startups mereka jelek. Tentunya masing-masing investor memiliki jenis portfolio dan preferensinya masing-masing, sehingga mereka pun dalam melakukan investasi tidak acak. Startups saya tiket.com butuh pitch ke belasan investor agar mendapatkan satu investor yang sama-sama cocok.
Hal lainnya adalah kemampuan untuk melakukan business plan dan financial statement yang baik. Terkadang saya takjub dengan startups yang meminta dana hingga Rp 2 miliar per tahun, padahal jumlah orangnya cuma bertujuh, dan start up tersebut bukan technology centric, dalam arti tidak membutuhkan dana yang besar untuk server dan lain-lain. Padahal di start up saya terdahulu, 25 orang hanya membutuhkan biaya Rp 1 miliar per tahun. Juga terkadang asumsi pendapatan mereka sangat tidak masuk akal. Contohnya adalah start up yang model monetisasinya dari iklan. Saya paham sekali bahwa sangat sulit untuk mendapatkan kue iklan online berdasarkan pengalaman startups saya terdahulu. Kasarnya, 80 persen kue iklan sudah dimakan oleh Detik.com dan Kompas.com, dan sisa 20 persen untuk rebutan semua dotcom lainnya.
Sebaiknya start up dalam membuat asumsi pendapatan harus menggunakan informasi atau fakta dari startups pendahulu mereka, supaya asumsinya mereka dapat dipertanggungjawabkan, dan ketika kita tanya bagaimana mendapatkan angka tersebut, jawabannya bukan "luki" (lu kira-kira).
Start up lokal sekarang membuat project eden, bisa diceritakan bagaimana proses hingga project ini akhirnya dilaksanakan?
Ketika di Irlandia, kami melihat banyak startups Incubator di sana. Kami mengunjungi 2 inkubator di kampus, dan 1 inkubator privat. Jadi di Irlandia, semua kampusnya memiliki inkubator startups, dan inkubator ini untuk publik, bukan hanya untuk orang-orang di kampus. Sekembalinya dari Irlandia, kami ingin sekali membuat inkubator sejenis di Indonesia, terutama di Jakarta. Saya membuat artikel di situs kami http://startuplokal.org mengenai kisah inkubator di Irlandia dan keinginan kami untuk membuat inkubator yang sama di Jakarta.
Kurang dari satu minggu, sebuah perusahaan investasi PT. Jardin Tech Capital mengundang kami untuk bertemu dan berbincang mengenai konsep inkubator, dan kebetulan salah satu pihak dari JTC juga memiliki ide yang sama yang dinamakan Project Eden. Dari situ kami mematangkan konsep kami dan lahirnya Project Eden tersebut.
Apa harapan dari Project Eden bagi kemajuan start-up lokal?
Para mentor yang berjumlah sembilan ini merupakan entrepreneur-entrepreneur yang sangat sukses, dan menjadi pemimpin di industrinya. Dan yang lebih hebatnya lagi, semuanya masih muda-muda. Masalah yang dihadapi oleh para entrepreneur startups dan mentor saat ini adalah besarnya generation gap antara yang tua dengan yang muda. Jadi lebih sering tidak nyambung antara mentor dengan startups, karena metodologi dan cara kerjanya yang berbeda. Saya percaya mentor di Project Eden merupakan individu yang sangat kompeten dan up-to-date dengan perkembangan jaman dan teknologi saat ini. Harapan kami Project Eden dapat menjadi mercusuar startup accelerator di Indonesia.
Terakhir, bagaimana pendapat Natali tentang dukungan pemerintah terhadap start-up lokal?
Saat ini pemerintah mulai memperhatikan startup lokal. Diawali oleh pemerintah dari Kementerian Perdagangan melalui ibu Mari Elka. Beliau sangat mensupport kami, melalui dukungan beliau untuk program GEPI (Global Entrepreneurship Program Indonesia) dan juga di event PPKI (Pekan Produk Kreatif Indonesia) dimana kami diberikan spot premium di hari Sabtu seharian penuh di ballroom untuk membuat event untuk start up. Juga dari Kementerian Komunikasi dan Informasi Pak Tifatul juga sudah mulai mengundang start up dan kami dari komunitas #StartupLokal untuk menghadiri event-event seperti Inaicta dan lain-lain. Pada dasarnya kami tidak mencari dukungan pemerintah secara langsung, sama halnya dengan Silicon Valley di Amerika, di mana mereka tidak memiliki lobbyist khusus mereka untuk DPR.
Sebelum menjadi enterpreneur digital, ia juga punya banyak pengalaman sebagai karyawan di beberapa perusahaan. Ternyata, kesuksesannya saat ini bermula sejak ia kecil. Dan sejak remaja ia sadar, bahwa passion-nya adalah dunia digital.
Natali Ardianto membagi tentang ketertarikannya kepada dunia digital dan perjalanan karirnya kepada Kompas.com lewat wawancara elektronik berikut ini.
Bisa diceritakan asal mula menjadi seorang enterpreneur digital? Mengapa memilih industri digital, bukan bisnis offline?
Semua diawali ketika saya masih kelas 5 SD, di sekolah ada komputer Apple di mana di dalamnya ada game yang bernama Tortoise. Pada dasarnya game tersebut adalah menggambar garis-garis dengan memasukkan koordinat X,Y. Waktu itu merupakan pengalaman yang sangat berkesan untuk saya. Lalu ketika SMP, saya mengikuti ekskul komputer. Waktu itu sedikit sekali yang mau ekstra kurikuler komputer. Pada kelas 3 SMP, saya diajarkan DBase3+, sebuah program yang mirip Microsoft Access untuk aplikasi sekarang ini, dimana saya harus coding untuk membuat form-form input.
Ketertarikan saya dengan dunia programming pun bertumbuh. Bahasa pemrograman seperti BASIC, QBasic, Pascal, Java, saya lahap semuanya. Saya juga masuk Tim Olimpiade Komputer Indonesia dan kompetisi-kompetisi programming lainnya. Dari situ saya tahu bahwa passion saya adalah dunia digital, dan saya mengejar passion saya.
Kesempatan pertama menjadi entrepreneur itu datang ketika rekan satu kantor saya Selina Limman memiliki ide untuk membuat city directory bernama Urbanesia.com, dim ana saya juga memiliki ide yang sama dua tahun sebelumnya, dan mengembangkan prototype situs lokasi.info dan direktori.info semasa saya menjadi konsultan IT (dua situs ini sudah mati sekarang).
Apakah sebelum menjadi enterpreneur, pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan? Bagaimana pengalaman Anda?
Iya, banyak sekali. Diawali dengan menjadi instruktur komputer di salah satu training center terbesar di Indonesia bernama Inixindo. Disini saya mengajar banyak materi, tapi semua materi yang saya ajarkan fokus ke industri web. Semisal PHP, HTML, CSS, Flash, database mulai dari MySQL, SQL Server, Oracle dan IBM DB2. Dari sini saya mengasah kemampuan berkomunikasi dan presentasi saya. Dalam dua tahun saya mengajar lebih dari 1000 peserta.
Setelah itu saya bekerja sebagai konsultan, web developer, dan yang terakhir bekerja sebagai digital strategist di SemutApi Colony (SAC). Disini saya bertemu dengan mentor-mentor saya seperti Danny Wirianto, Antonny Liem dan Herman Kwok. Di SAC inilah saya belajar, bahwa jika anda developer yang hebat sekali, tapi tidak punya strategi marketing, maka kemungkinan untuk monetisasi (menghasilkan uang) jauh lebih kecil ketimbang jika anda seorang marketer yang hebat sekali tanpa ada developer.
Jika seorang developer dapat menghasilkan Rp 50 juta per proyek, seorang marketer dapat menghasilkan Rp 850 juta per proyek, dan bisa mempekerjakan developer terbaik di industri. Itulah kenapa sebaiknya jika anda entrepreneur dengan latar belakang teknis atau IT, maka sebaiknya anda menjadi CTO (Chief Technology Officer) dan mengajak businessman yang komersil dan memiliki network yang luas untuk menjadi CEO (Chief Executive Officer).
Jika sebelumnya pernah bekerja sebagai karyawan, apa perbedaan yang paling terasa, ketika menjadi karyawan dengan ketika menjadi enterpreneur?
Perbedaan yang mendasar adalah ketika menjadi entrepreneur, Anda yang mengambil keputusan. Namun disinilah banyak kesalahan persepsi dari para entrepreneur-entrepreneur muda. Keputusan yang Anda buat itu akan mempengaruhi masa depan perusahaan Anda dan juga karyawan Anda. Seharusnya keputusan ini didasarkan pada pengalaman, pengetahuan, dan fakta, bukan berdasarkan perasaan atau keinginan belaka.
Ketika kita menjadi karyawan, Anda bisa menjadi spesialisasi di satu hal. Ketika kita menjadi entrepreneur, anda harus menjadi generalis, dan memahami semua aspek bisnis mulai dari sales, marketing, komunikasi, branding, accounting, legal dan lain-lain. Ketika menjadi entrepreneur, Anda harus lebih banyak lagi belajar, dan tidak bisa hanya belajar yang Anda sukai. Mau tidak mau, akuntansi pun harus dipelajari lagi.
Bagaimana latar belakang sampai Anda mendirikan begitu banyak layanan di internet seperti Tiket.com, Golfnesia.com, Urbanesia.com, dan Bouncity?
Diawali dengan Urbanesia.com. Selina Limman mengajak saya untuk bergabung mengembangkan Urbanesia.com dari sisi teknis. Di sini saya benar-benar belajar apa itu entrepreneurship, dan mendapatkan banyak pengalaman yang berharga. Setelah itu, saya di rekrut oleh PT Warato Indonesia untuk menjadi CTO. Warato ini adalah perusahaan start up baru dengan investasi 50:50 dari Indonesia dan Jepang.
Terakhir, saya direkrut Wenas Agusetiawan untuk bergabung di Tiket.com sebagai COO. Sebagai informasi, sayalah yang paling tua di tim ini. Rata-rata rekan-rekan lainnya berusia 24 tahun. Namun saya sangat percaya dengan tim yang dikumpulkan oleh trio Wenas, Dimas dan Jeffry ini, karena track record produk-produk yang sudah mereka hasilkan bukanlah produk kacangan. Sebutlah divisi enterprise mereka untuk banking solution, lalu produk-produk seperti hemat.com, wayangforce.com, bouncity.com dan sekarang tiket.com.
Start up membutuhkan tiga hal agar produknya sukses: talent, network, capital. Ketiga hal ini terpenuhi di tim tiket.com yang sekarang. Bahkan kita memiliki 'super angel investor' yang berani invest di ide kami. Ya, baru ide! Karena situs kami baru akan launch November 2011 ini.
Saat ini saya sudah tidak terlibat di Urbanesia.com. Saya sangat bangga bisa terlibat di awal-awal pengembangan Urbanesia ini. Di Golfnesia.com, kini saya menjadi advisor untuk mereka. Sebenarnya target market yang kami incar untuk Golfnesia adalah pasar internasional.
Untuk Tiket.com, saya belum bisa mengungkapkan detail lebih banyak lagi, namun jika memperhatikan Facebook page kami, sudah banyak yang meminta tiket untuk segala moda transportasi. Ini memacu kami untuk mengembangkan situs lebih cepat lagi!
Saya di Bouncity hanya sebagai advisor saja, dan masuk ke dalam timnya belakangan. Disini saya membantu sedikit di sisi teknikal dan juga networking terutama ke media online dan offline.
Bagaimana cara mengatur waktu untuk bisa mengelola semua bisnis tersebut, ditambah lagi harus mengurusi event bulanan komunitas start-up lokal dan Project Eden?
Fokus dan profesionalisme. Itu kata kuncinya. Saya sudah tidak terlibat lagi untuk urbanesia.com, dan ketika saya meninggalkan golfnesia.com untuk mengembangkan tiket.com, saya secara langsung bilang saya tidak bisa terlalu involve di golfnesia.com, bahkan part-time sekali pun. Mereka memahami posisi saya, oleh karena itu saya ditawarkan menjadi advisor mereka dan sampai sekarang saya memegang saham di sana.
Untuk event bulanan di #StartupLokal dan Eden, sebenarnya ini masalah time management. Sebisa mungkin aktivitas tersebut dilakukan di luar jam kerja saya. Namun jika terpaksa mengganggu, saya harus mengganti waktu yang hilang. Tapi saya juga bukan orang yang perhitungan dalam hal bekerja. Jika saya sudah coding, saya bahkan bisa setiap hari tidur jam 3 pagi.
Apa kendala yang dihadapi dalam mengembangkan banyak situs baru?
Sebenarnya masalah paling dasar dalam mengembangkan ketiga start up tersebut adalah human resource. Sumber daya manusia yang kompeten itu sangat sulit ditemukan. Dan kalau sudah kompeten, belum tentu dia profesional dan produktif. Masalahnya, lulusan jaman sekarang, terutama yang fresh graduate, mencarinya uang belaka.
Sebagai informasi, ketika saya mengambil posisi instruktur IT, gaji saya waktu itu Rp 1,5 juta per bulan. Rata-rata rekan saya (saya lulusan Ilmu Komputer Universitas Indonesia) itu gajinya paling jelek Rp 3 juta per bulan waktu itu. Tapi ya itu tadi, saya mengejar pengalaman dan target saya adalah mengubah kepribadian saya yang tadinya introvert agar menjadi ekstrovert. Saya percaya bahwa jika kamu melakukan yang terbaik, bahkan 110 persen lebih baik dari yang lainnya, maka uang akan datang sendiri ke kamu. Itulah kenapa saya selalu dibajak, tidak pernah saya melamar pekerjaan.
Setelah sukses dengan bisnis digital, apakah tertarik untuk membuka bisnis offline seperti franchise atau yang lainnya?
Sebenarnya dalam strategi-strategi yang saya lakukan di startups saya, salah satu fokusnya adalah B2B (business-to-business). Jadi ya tentunya pasti akan ada bisnis offline, seperti franchise, keagenan atau sejenisnya, tapi tentunya dengan memanfaatkan online juga. Saya ngga bisa jauh-jauh dari dunia online.
Bagaimana prosesnya bisa menjadi inisiator #StartUpLokal?
Diawali dengan pertemuan tidak sengaja saya dengan Sanny Gaddafi, Rama Mamuaya, Dondi Hananto dan Aulia Masna di sebuah coffee shop di daerah Sudirman. Padahal malam itu saya hendak bertemu orang lain untuk membicarakan startups baru. Jadi itu sebuah kebetulan yang luar biasa, dan setelah kami bubar waktu itu, kami berjanji untuk bertemu lagi sebulan kemudian.
Yang terjadi sebulan kemudian ternyata melebihi ekspektasi kami. Yang hadir saat itu berjumlah 33 orang! Dan semua diawali dengan ajakan kami kepada rekan-rekan startup kami di Twitter menggunakan tagar #StartupLokal. Inisiator saat itu Rama Mamuaya, Sanny Gaddafi dan saya sendiri. Saya mengajak Nuniek Tirta karena dia ahli dalam membuat komunitas dan kemudian kami mengajak Ollie untuk turut bergabung.
Pengalaman apa saja yang paling berkesan selama mengurusi komunitas start up lokal?
Pengalaman yang paling berkesan tentunya ketika kami diundang oleh Pemerintah Irlandia melalui perusahaan pemerintah bernama Enterprise Ireland. Pada waktu pertama kali bertemu pihak Irlandia di Jakarta, pertemuan dilakukan pada pukul 11 malam di Hotel Kempinski. Uniknya, kami semua inisiator bisa turut hadir untuk melakukan pertemuan itu, padahal biasanya sulit sekali untuk kami semua berkumpul karena kesibukan masing-masing.
Setelah satu jam melakukan pembicaraan, menceritakan tentang usaha-usaha yang telah kami lakukan di Indonesia ini, Pat O'Riordan dari Enterprise Ireland tiba-tiba berujar "Bagaimana jika saya mengundang kalian semua untuk datang ke Dublin, "Silicon Valley"nya Eropa? Kami sangat senang sekali waktu itu. Dan pengalaman di Irlandia selama tujuh hari telah membuka mata kami tentang Industri IT Irlandia yang telah sangat matang dan berlangsung selama 25 tahun ini.
Pengalaman lainnya yang juga cukup berkesan adalah ketika Departemen Perdagangan melakukan konferensi pers mengenai GEPI (Global Entrepreneurship Program Indonesia) bersama chairman GEPI Chris Kanter, ibu Mari Elka sendiri dan saya mewakili startups di Indonesia. Waktu itu saya telat datang 30 menit karena saya menghadiri event lain sebelumnya. Walaupun saya sudah naik ojek dan berlari-lari di dalam gedung Departemen Perdagangan. Waktu itu saya panik dan malu sekali. Untung konferensi pers berjalan dengan lancar, dan malah hingga sekarang Depdag dan GEPI mendukung komunitas kami, semisal kami diberikan satu slot event dari pagi sampai sore di hari Sabtu di event PPKI (Pekan Produk Kreatif Indonesia) 2011, sebuah event yang digagas Departemen Perdagangan.
Bagaimana pandangan Natali tentang start up di Indonesia? Apa yang harus dimiliki oleh mereka untuk bisa berjalan dan mengembangkan usaha?
Saya sangat bangga dengan rekan-rekan start up yang sekarang, karena sekararang mereka semua mau belajar dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Start up harus punya jiwa pejuang, semisal ketika mereka melakukan pitch di depan investor dan investor tidak tertarik untuk melakukan investasi, bukan berarti startups mereka jelek. Tentunya masing-masing investor memiliki jenis portfolio dan preferensinya masing-masing, sehingga mereka pun dalam melakukan investasi tidak acak. Startups saya tiket.com butuh pitch ke belasan investor agar mendapatkan satu investor yang sama-sama cocok.
Hal lainnya adalah kemampuan untuk melakukan business plan dan financial statement yang baik. Terkadang saya takjub dengan startups yang meminta dana hingga Rp 2 miliar per tahun, padahal jumlah orangnya cuma bertujuh, dan start up tersebut bukan technology centric, dalam arti tidak membutuhkan dana yang besar untuk server dan lain-lain. Padahal di start up saya terdahulu, 25 orang hanya membutuhkan biaya Rp 1 miliar per tahun. Juga terkadang asumsi pendapatan mereka sangat tidak masuk akal. Contohnya adalah start up yang model monetisasinya dari iklan. Saya paham sekali bahwa sangat sulit untuk mendapatkan kue iklan online berdasarkan pengalaman startups saya terdahulu. Kasarnya, 80 persen kue iklan sudah dimakan oleh Detik.com dan Kompas.com, dan sisa 20 persen untuk rebutan semua dotcom lainnya.
Sebaiknya start up dalam membuat asumsi pendapatan harus menggunakan informasi atau fakta dari startups pendahulu mereka, supaya asumsinya mereka dapat dipertanggungjawabkan, dan ketika kita tanya bagaimana mendapatkan angka tersebut, jawabannya bukan "luki" (lu kira-kira).
Start up lokal sekarang membuat project eden, bisa diceritakan bagaimana proses hingga project ini akhirnya dilaksanakan?
Ketika di Irlandia, kami melihat banyak startups Incubator di sana. Kami mengunjungi 2 inkubator di kampus, dan 1 inkubator privat. Jadi di Irlandia, semua kampusnya memiliki inkubator startups, dan inkubator ini untuk publik, bukan hanya untuk orang-orang di kampus. Sekembalinya dari Irlandia, kami ingin sekali membuat inkubator sejenis di Indonesia, terutama di Jakarta. Saya membuat artikel di situs kami http://startuplokal.org mengenai kisah inkubator di Irlandia dan keinginan kami untuk membuat inkubator yang sama di Jakarta.
Kurang dari satu minggu, sebuah perusahaan investasi PT. Jardin Tech Capital mengundang kami untuk bertemu dan berbincang mengenai konsep inkubator, dan kebetulan salah satu pihak dari JTC juga memiliki ide yang sama yang dinamakan Project Eden. Dari situ kami mematangkan konsep kami dan lahirnya Project Eden tersebut.
Apa harapan dari Project Eden bagi kemajuan start-up lokal?
Para mentor yang berjumlah sembilan ini merupakan entrepreneur-entrepreneur yang sangat sukses, dan menjadi pemimpin di industrinya. Dan yang lebih hebatnya lagi, semuanya masih muda-muda. Masalah yang dihadapi oleh para entrepreneur startups dan mentor saat ini adalah besarnya generation gap antara yang tua dengan yang muda. Jadi lebih sering tidak nyambung antara mentor dengan startups, karena metodologi dan cara kerjanya yang berbeda. Saya percaya mentor di Project Eden merupakan individu yang sangat kompeten dan up-to-date dengan perkembangan jaman dan teknologi saat ini. Harapan kami Project Eden dapat menjadi mercusuar startup accelerator di Indonesia.
Terakhir, bagaimana pendapat Natali tentang dukungan pemerintah terhadap start-up lokal?
Saat ini pemerintah mulai memperhatikan startup lokal. Diawali oleh pemerintah dari Kementerian Perdagangan melalui ibu Mari Elka. Beliau sangat mensupport kami, melalui dukungan beliau untuk program GEPI (Global Entrepreneurship Program Indonesia) dan juga di event PPKI (Pekan Produk Kreatif Indonesia) dimana kami diberikan spot premium di hari Sabtu seharian penuh di ballroom untuk membuat event untuk start up. Juga dari Kementerian Komunikasi dan Informasi Pak Tifatul juga sudah mulai mengundang start up dan kami dari komunitas #StartupLokal untuk menghadiri event-event seperti Inaicta dan lain-lain. Pada dasarnya kami tidak mencari dukungan pemerintah secara langsung, sama halnya dengan Silicon Valley di Amerika, di mana mereka tidak memiliki lobbyist khusus mereka untuk DPR.
Langganan:
Postingan (Atom)


















